Denpasastra.net

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Apakah kini The S.I.G.I.T telah mencapai kedewasaan dalam bermusik? Pasalnya di lagu baru mereka tak ada dentuman meriah seperti Let It Go, tak ada riff gitar agresif seperti dalam Black Amplifier, tak ada kemarahan khas anak muda yang menantang dunia seperti New Generation. Mungkin mereka telah bermetamorfosis menuju level musikalitas yang lebih tinggi.

Kali ini The S.I.G.I.T muncul dengan musik yang lebih kompleks dan teratur, seolah semakin memahami bagian mana dari rock yang ingin mereka sajikan. Bread & Circus, menurut saya, menjadi sebuah perubahan yang nyata sekaligus elegan dari The S.I.G.I.T.

Musiknya sendiri terdengar seperti sebuah sirkus yang membuai telinga melalui intro synth dari Rekti, melodi gitar khas yang dikomandoi Farri, serta permainan gitar Absar yang menunjukkan kecerdikan dan kepiawaiannya sebagai musisi. Semuanya diiringi permainan bass Agan yang melodis namun tetap berada dalam porsi yang pas.

Hal yang paling terasa dalam lagu ini adalah dentuman drum dari Ravel yang mengisi posisi yang sebelumnya ditempati personel ikonik mereka, Acil. Kehadiran personel-personel baru membuat musik The S.I.G.I.T terasa lebih kaya sekaligus berbeda dibanding karya-karya mereka sebelumnya.

Setelah enam tahun tanpa rilisan baru, mereka kembali dengan gebrakan yang terasa meriah dan tiba-tiba. Salah satu hal yang paling kentara dari lagu ini adalah liriknya yang tajam dari awal hingga akhir.

Judul lagunya sendiri cukup mengejutkan. Bread & Circus merupakan istilah yang berasal dari satir politik penyair Romawi, Juvenal. Panem et Circenses atau Bread & Circus secara garis besar menggambarkan kondisi ketika pendapat dan peran masyarakat ditukar dengan roti dan sirkus.

Roti di sini dapat dimaknai sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang dipenuhi negara, sementara sirkus merupakan bentuk hiburan yang mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih besar.

Baca Juga  Lagu Lama 'Surti-Tejo' karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Land of liar, gun for hire
Empire sovereignty, no umpire

Lirik yang sangat lugas ini langsung memunculkan pertanyaan. Ada apa dengan The S.I.G.I.T? Apa yang sedang terjadi?

Banyak rasa penasaran muncul saat pertama kali mendengar lagu ini. Apakah lirik mereka kini bermetamorfosis menjadi lebih politis? Apakah mereka baru menyadari realitas sosial yang sedang berlangsung? Ataukah mereka sudah jengah dengan situasi yang ada?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menarik untuk ditelusuri. Sebagaimana kita tahu, The S.I.G.I.T tumbuh pada era awal 2000-an. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, banyak isu sosial dan politik pada masa itu yang sebenarnya juga bisa mereka suarakan dalam karya-karya mereka.

Efek Rumah Kaca melakukannya melalui Di Udara. Navicula bahkan menjadikannya sebagai bagian penting dari identitas bermusik mereka. Lalu mengapa The S.I.G.I.T baru memasuki wilayah yang selama ini jarang mereka sentuh? Ataukah kondisi sosial-politik hari ini memang cukup mengusik hingga membuat mereka ikut bersuara?

Layak ditunggu apa saja yang akan mereka sajikan dalam album penuh terbaru yang, menurut Rekti dalam sebuah wawancara di siniar musik, direncanakan terbit tahun ini.

Jadi, apakah The S.I.G.I.T kini menjadi lebih dewasa?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Lagu Indonesia Patah Hati Paling Ikonik 90-an: Terpuruk Ku di Sini – KLa Project

Preman Laut

Tujuh Tahun Hiatus, Scared Of Bums Gelar Pesta Sesi Dengar Materi Baru

Redaksi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

Preman Laut
Resensi

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Apakah kini The S.I.G.I.T telah mencapai kedewasaan dalam bermusik? Pasalnya di lagu baru mereka tak ada dentuman meriah seperti Let It Go, tak ada riff gitar agresif seperti dalam Black Amplifier, tak ada kemarahan khas anak muda yang menantang dunia seperti New Generation. Mungkin mereka telah bermetamorfosis menuju level musikalitas yang lebih tinggi.

Kali ini The S.I.G.I.T muncul dengan musik yang lebih kompleks dan teratur, seolah semakin memahami bagian mana dari rock yang ingin mereka sajikan. Bread & Circus, menurut saya, menjadi sebuah perubahan yang nyata sekaligus elegan dari The S.I.G.I.T.

Musiknya sendiri terdengar seperti sebuah sirkus yang membuai telinga melalui intro synth dari Rekti, melodi gitar khas yang dikomandoi Farri, serta permainan gitar Absar yang menunjukkan kecerdikan dan kepiawaiannya sebagai musisi. Semuanya diiringi permainan bass Agan yang melodis namun tetap berada dalam porsi yang pas.

Hal yang paling terasa dalam lagu ini adalah dentuman drum dari Ravel yang mengisi posisi yang sebelumnya ditempati personel ikonik mereka, Acil. Kehadiran personel-personel baru membuat musik The S.I.G.I.T terasa lebih kaya sekaligus berbeda dibanding karya-karya mereka sebelumnya.

Setelah enam tahun tanpa rilisan baru, mereka kembali dengan gebrakan yang terasa meriah dan tiba-tiba. Salah satu hal yang paling kentara dari lagu ini adalah liriknya yang tajam dari awal hingga akhir.

Judul lagunya sendiri cukup mengejutkan. Bread & Circus merupakan istilah yang berasal dari satir politik penyair Romawi, Juvenal. Panem et Circenses atau Bread & Circus secara garis besar menggambarkan kondisi ketika pendapat dan peran masyarakat ditukar dengan roti dan sirkus.

Roti di sini dapat dimaknai sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang dipenuhi negara, sementara sirkus merupakan bentuk hiburan yang mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih besar.

Baca Juga  Jason Ranti Bakal Tampil di Bali 15 April Besok

Land of liar, gun for hire
Empire sovereignty, no umpire

Lirik yang sangat lugas ini langsung memunculkan pertanyaan. Ada apa dengan The S.I.G.I.T? Apa yang sedang terjadi?

Banyak rasa penasaran muncul saat pertama kali mendengar lagu ini. Apakah lirik mereka kini bermetamorfosis menjadi lebih politis? Apakah mereka baru menyadari realitas sosial yang sedang berlangsung? Ataukah mereka sudah jengah dengan situasi yang ada?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menarik untuk ditelusuri. Sebagaimana kita tahu, The S.I.G.I.T tumbuh pada era awal 2000-an. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, banyak isu sosial dan politik pada masa itu yang sebenarnya juga bisa mereka suarakan dalam karya-karya mereka.

Efek Rumah Kaca melakukannya melalui Di Udara. Navicula bahkan menjadikannya sebagai bagian penting dari identitas bermusik mereka. Lalu mengapa The S.I.G.I.T baru memasuki wilayah yang selama ini jarang mereka sentuh? Ataukah kondisi sosial-politik hari ini memang cukup mengusik hingga membuat mereka ikut bersuara?

Layak ditunggu apa saja yang akan mereka sajikan dalam album penuh terbaru yang, menurut Rekti dalam sebuah wawancara di siniar musik, direncanakan terbit tahun ini.

Jadi, apakah The S.I.G.I.T kini menjadi lebih dewasa?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Hari-Hari Terakhir Peterpan

Preman Laut

Jason Ranti Bakal Tampil di Bali 15 April Besok

Redaksi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi