Denpasastra.net

Ipang Lazuardi Ajak Kita Bernostalgia lewat lagu ‘Sahabat Kecil’

Lagu ini bekerja bukan saat diputar. Tapi boleh jadi saat musik berhenti dan kamu tiba-tiba ingat seseorang.

Seseorang tersebut adalah sosok dari waktu lampau ketika hubungan pertemanan kanak-kanak belum butuh alasan. Kita menyebutnya sahabat kecil.

Saya ingat ketika pertama kali mendapat copy novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dari teman kuliah. Novel itu sedang booming dimana-mana dan saya ikut tenggelam dalam kisah bocah ajaib Lintang sang penggemar matematika yang berteman dengan tokoh utama Ikal berwatak romantis-melankolis.

Dalam novel yang terbit di 2005 ini, persahabatan Lintang dan Ikal tumbuh dari keterbatasan yang sama.

Mereka memang tidak memilih satu sama lain, tapi dipertemukan oleh kondisi yang tidak memberi banyak pilihan. Dari situlah kedekatannya terasa nyata dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia kebanyakan.

Narasi itu kemudian diadaptasi menjadi film Laskar Pelangi pada 2008 oleh Riri Riza dan Mira Lesmana.

Film ini memang merapikan cerita menjadi lebih linear dan emosional. Tapi di bagian akhir, kisah itu sempat melompat ke masa dewasa saat Ikal kembali ke Belitung dan bertemu kembali dengan Lintang yang kini telah berkeluarga.

Pada versi film inilah, lagu ‘Sahabat Kecil’ menjadi penanda yang menetap di memori saya bertahun-tahun kemudian.

Lagu ini sendiri ditulis Melly Goeslaw dan dinyanyikan Ipang Lazuardi sebagai bagian dari soundtrack film. Ipang tidak terlibat sebagai pencipta lagu. Perannya berada pada level interpretasi vokal, bukan komposisi.

Meski begitu, Ipang membawa lagu ini jauh dari melodrama pop konvensional. Ia sukses menggeser marwah lagunya menjadi reflektif. Vokalnya memberi tekstur rapuh tanpa dramatisasi.

‘Bersamamu kuhabiskan waktu… sayang untuk mengakhirinya,’ lantun Ipang menjelang penghabisan reff. Seakan ada kesadaran bahwa semua akan selesai, tetapi tidak ada cara untuk menghentikannya.

Baca Juga  Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Maka bagi siapa pun kamu yang membaca catatan kecil ini.. yang pernah punya sahabat kecil entah sudah terpisah atau masih bersama sampai sekarang, saya percaya bahwa selalu ada nama yang diam-diam masih tinggal.

Toh persahabatan masa kecil biasanya selalu tumbuh dan berpisah tanpa aba-aba.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Redaksi

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi ‘Pria Dijajah Wanita’ Karya Kaimsasikun

Preman Laut

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Resensi

Ipang Lazuardi Ajak Kita Bernostalgia lewat lagu ‘Sahabat Kecil’

Lagu ini bekerja bukan saat diputar. Tapi boleh jadi saat musik berhenti dan kamu tiba-tiba ingat seseorang.

Seseorang tersebut adalah sosok dari waktu lampau ketika hubungan pertemanan kanak-kanak belum butuh alasan. Kita menyebutnya sahabat kecil.

Saya ingat ketika pertama kali mendapat copy novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dari teman kuliah. Novel itu sedang booming dimana-mana dan saya ikut tenggelam dalam kisah bocah ajaib Lintang sang penggemar matematika yang berteman dengan tokoh utama Ikal berwatak romantis-melankolis.

Dalam novel yang terbit di 2005 ini, persahabatan Lintang dan Ikal tumbuh dari keterbatasan yang sama.

Mereka memang tidak memilih satu sama lain, tapi dipertemukan oleh kondisi yang tidak memberi banyak pilihan. Dari situlah kedekatannya terasa nyata dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia kebanyakan.

Narasi itu kemudian diadaptasi menjadi film Laskar Pelangi pada 2008 oleh Riri Riza dan Mira Lesmana.

Film ini memang merapikan cerita menjadi lebih linear dan emosional. Tapi di bagian akhir, kisah itu sempat melompat ke masa dewasa saat Ikal kembali ke Belitung dan bertemu kembali dengan Lintang yang kini telah berkeluarga.

Pada versi film inilah, lagu ‘Sahabat Kecil’ menjadi penanda yang menetap di memori saya bertahun-tahun kemudian.

Lagu ini sendiri ditulis Melly Goeslaw dan dinyanyikan Ipang Lazuardi sebagai bagian dari soundtrack film. Ipang tidak terlibat sebagai pencipta lagu. Perannya berada pada level interpretasi vokal, bukan komposisi.

Meski begitu, Ipang membawa lagu ini jauh dari melodrama pop konvensional. Ia sukses menggeser marwah lagunya menjadi reflektif. Vokalnya memberi tekstur rapuh tanpa dramatisasi.

‘Bersamamu kuhabiskan waktu… sayang untuk mengakhirinya,’ lantun Ipang menjelang penghabisan reff. Seakan ada kesadaran bahwa semua akan selesai, tetapi tidak ada cara untuk menghentikannya.

Baca Juga  Efek Rumah Kaca Merekam Cara-Cara Teror Warga Sipil Lewat 'Di Udara'

Maka bagi siapa pun kamu yang membaca catatan kecil ini.. yang pernah punya sahabat kecil entah sudah terpisah atau masih bersama sampai sekarang, saya percaya bahwa selalu ada nama yang diam-diam masih tinggal.

Toh persahabatan masa kecil biasanya selalu tumbuh dan berpisah tanpa aba-aba.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Preman Laut

Antida Sound Garden Kembali Hadir Setelah 13 Tahun

Redaksi

Tersesat di Bali Bersama Palm Theory

Preman Laut

Lagu Indonesia Patah Hati Paling Ikonik 90-an: Terpuruk Ku di Sini – KLa Project

Preman Laut

Dari Chaos Menuju Disiplin: Punk Era Baru di Lagu ‘Berlari’ Milik Scared Of Bums

Preman Laut

Makna Lagu Posesif Naif Berubah karena Videoklip: Tafsir Lirik dan Identitas

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi