Sudah sejak lama musisi dianggap punya kelas sosial yang ‘lebih tinggi’ dari orang kebanyakan.
Dalam posisi sebagai nabi barunya umat modern, musisi dianggap hadir sempurna. Relasinya pun kerap satu arah: musisi berbicara, pendengar menerimanya. Kita mengelu-elukan karena kemahirannya memberi petuah, seolah apa yang ia syiar dan rumuskan layak dijadikan rujukan hidup orang kebanyakan.
Di celah relasi yang kaku ini, Hindia memilih jalan lain. Ia tidak mengisi posisi tersebut, tapi menurunkan marwahnya agar sejajar dengan para pendengar. Lewat moniker ini, Baskara Putra tampil sebagai tokoh metafiksi yang rapuh, tak sempurna, penuh cela, dan membawa trauma.
Pendekatan ini tidak hadir tanpa konteks. Saya pernah menemui Baskara tiga tahun lalu bersama @intrevald untuk keperluan wawancara di bilangan Jeruk Purut, Jakarta. Kala itu ia menyebut lagu sebagai caranya menyimpan memori, berangkat dari ketakutan sederhana: bagaimana jika suatu hari ia lupa akan momen-momen kecil yang berharga. Dari sini, lagu tidak lagi terasa sebagai pernyataan, tapi sebagai arsip.
Konsekuensinya terasa jelas pada pilihan diksi. Lagu-lagu Hindia bergerak sangat personal. Nama, situasi, dan pengalaman hadir tanpa penjelasan. Ia tidak berbicara atas nama siapa pun, tidak merangkum pengalaman kolektif. Ia hanya menyusun potongan hidupnya sendiri.
Di titik ini, yang terjadi bukan lagi representasi, tapi resonansi. Pendengar tidak merasa diwakili, melainkan menemukan kesamaan, lalu menempelkan pengalaman mereka sendiri ke dalam teks yang disediakan.
Tidak heran jika muncul pembacaan bahwa Hindia seperti ‘psikolog berkedok musisi’. Bukan karena ia memberi solusi, tapi karena ruang yang ia buka membuat orang merasa didengar. Namun yang bekerja di sini bukan peran terapeutik, melainkan struktur lagunya sendiri yang memberi tempat bagi orang untuk mengisi, bukan untuk diarahkan.
Pola ini terlihat jelas di lagu everything u are. Lagu ini bekerja seperti balasan atas cerita, komentar, dan surat dari pendengar. Bukan lagi ekspresi tunggal, tapi respons yang bergerak dua arah.
‘Namun suratmu kan kuceritakan ke anak-anakku nanti’ menjadi penanda bahwa pengalaman pendengar tidak hanya dibaca, tapi diabadikan. Ia masuk ke dalam karya, menjadi bagian dari narasi yang dibangun.
Di titik ini, musik bagi Hindia dan pendengarnya tidak lagi satu arah. Ia telah, sedang, dan akan terus menjadi percakapan terbuka.
