Denpasastra.net

Bukan Kebebasan, Tapi Batu Nisan: Sebuah Resensi ‘Terbang’ Karya The Fly

Konten Sensitif: Membahas topik kematian dan kehilangan. Harap bijak dalam menyimak.

***

 

 

 

 

Selama ini saya keliru menganggap lagu ‘Terbang’ karya The Fly sebagai lagu tentang kebebasan.

Liriknya memang ringan, penuh citra terang dan terdengar seperti ajakan untuk lepas dari batasan. Semacam ada keinginan untuk terbang, menggapai mentari serta menyatu dengan sesuatu yang terasa indah.

Namun jika dibaca lebih dekat, beberapa frasa memang terasa janggal. Misal saja pada lirik ‘hatiku yang membeku’, ‘tak ingin lepas jiwa dan batinku’, ‘tebari bunga jalanku’, hingga ‘melati mekar mewangi’ yang tidak sepenuhnya selaras dengan semangat kebebasan nan hangat.

Pada titik itu, lagu ini tidak lagi terdengar seperti perayaan. Seolah ada peristiwa yang terlalu berat, lalu dilapisi dengan diksi indah.

Kecurigaan terjawab ketika videoklip mulai dibedah. Sejak pembuka lagu, kita disuguhkan pada sosok seorang pria menyetop taksi, masuk ke sebuah rumah dan menemukan tubuh sosok perempuan yang telah tiada.

Alih-alih mencari bantuan, ia justru membawa tubuh itu pergi, menjauh dari jalan raya dan menggendongnya dengan susah payah masuk ke sebuah hutan.

Di situ, tubuh tadi mulai diperlakukan seperti hendak bersiap, rambutnya disisir, wajah dibersihkan, gincu dioleskan dan sepucuk bunga mekar diletakkan. Lalu tubuh itu dilarung ke sungai, tanpa upacara dan tanpa aba-aba. Lagu pun selesai.

Di titik ini tafsir atas posisi ‘aku’ bergeser. Agaknya ‘aku’ bukanlah sosok yang mengejar kebebasan individu, melainkan sosok perempuan yang telah berpulang.

Dus, ‘ku ingin terbang’ bukan lagi keinginan menuju kebebasan, tetapi kondisi meninggalkan kefanaan duniawi menuju keabadian.

Lirik yang semula terasa romantis kini berubah fungsi. Ia tidak lagi menjelaskan perasaan, melainkan membungkus peristiwa.

Baca Juga  Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Setidaknya, sejak melihatnya seperti ini, saya tidak lagi bisa mendengar lagu ini sebagai narasi indah tentang kebebasan.

Ia terasa lebih dekat sebagai cara halus kita dalam menyamarkan kepergian, agar yang ditinggalkan tetap bisa merasa utuh dan terbebas dari beban kehilangan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Preman Laut

Hindia dan Metafiksi Baskara Putra: Saat Musik Jadi Percakapan Dua Arah

Preman Laut

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi
Resensi

Bukan Kebebasan, Tapi Batu Nisan: Sebuah Resensi ‘Terbang’ Karya The Fly

Konten Sensitif: Membahas topik kematian dan kehilangan. Harap bijak dalam menyimak.

***

 

 

 

 

Selama ini saya keliru menganggap lagu ‘Terbang’ karya The Fly sebagai lagu tentang kebebasan.

Liriknya memang ringan, penuh citra terang dan terdengar seperti ajakan untuk lepas dari batasan. Semacam ada keinginan untuk terbang, menggapai mentari serta menyatu dengan sesuatu yang terasa indah.

Namun jika dibaca lebih dekat, beberapa frasa memang terasa janggal. Misal saja pada lirik ‘hatiku yang membeku’, ‘tak ingin lepas jiwa dan batinku’, ‘tebari bunga jalanku’, hingga ‘melati mekar mewangi’ yang tidak sepenuhnya selaras dengan semangat kebebasan nan hangat.

Pada titik itu, lagu ini tidak lagi terdengar seperti perayaan. Seolah ada peristiwa yang terlalu berat, lalu dilapisi dengan diksi indah.

Kecurigaan terjawab ketika videoklip mulai dibedah. Sejak pembuka lagu, kita disuguhkan pada sosok seorang pria menyetop taksi, masuk ke sebuah rumah dan menemukan tubuh sosok perempuan yang telah tiada.

Alih-alih mencari bantuan, ia justru membawa tubuh itu pergi, menjauh dari jalan raya dan menggendongnya dengan susah payah masuk ke sebuah hutan.

Di situ, tubuh tadi mulai diperlakukan seperti hendak bersiap, rambutnya disisir, wajah dibersihkan, gincu dioleskan dan sepucuk bunga mekar diletakkan. Lalu tubuh itu dilarung ke sungai, tanpa upacara dan tanpa aba-aba. Lagu pun selesai.

Di titik ini tafsir atas posisi ‘aku’ bergeser. Agaknya ‘aku’ bukanlah sosok yang mengejar kebebasan individu, melainkan sosok perempuan yang telah berpulang.

Dus, ‘ku ingin terbang’ bukan lagi keinginan menuju kebebasan, tetapi kondisi meninggalkan kefanaan duniawi menuju keabadian.

Lirik yang semula terasa romantis kini berubah fungsi. Ia tidak lagi menjelaskan perasaan, melainkan membungkus peristiwa.

Baca Juga  Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat 'Mahadewi'

Setidaknya, sejak melihatnya seperti ini, saya tidak lagi bisa mendengar lagu ini sebagai narasi indah tentang kebebasan.

Ia terasa lebih dekat sebagai cara halus kita dalam menyamarkan kepergian, agar yang ditinggalkan tetap bisa merasa utuh dan terbebas dari beban kehilangan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Antida Sound Garden Kembali Hadir Setelah 13 Tahun

Redaksi

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi