Denpasastra.net

Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi ‘Pria Dijajah Wanita’ Karya Kaimsasikun

Ada lagu yang tidak cuma enak didengar, tapi juga seperti sedang berdialog dengan lagu lain.

Dua lagu ini contohnya: Pria Dijajah Wanita karya Kaimsasikun (2004) dan Sabda Alam karya Ismail Marzuki (1956)

‘Pria Dijajah Wanita’ adalah hit single Kaimsasikun, yang dirilis dalam album debut self-titled mereka pada 2004 melalui Antida Records. Band ini muncul dari skena independen Denpasar, Bali, sebelum sempat melejit ke industri musik nasional meski tidak bertahan lama.

Terlepas dari anggapan Kaimsasikun one-hit wonder atau kemiripan musikalnya dengan Muse, ada hal lain yang justru lebih menarik dari band asuhan Pay Burman (eks Slank, BIP) ini: Kaimsasikun berani bermain dan membongkar ulang narasi yang sudah bercokol lama dalam khazanah musik Indonesia.

Di lagu ini, mereka mengambil posisi yang tidak biasa. Perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai korban, tetapi sebagai pihak yang bisa memanfaatkan relasi.

Daya tarik, sikap manis dan kedekatan emosional tampil sebagai alat untuk mengendalikan, bukan semata untuk membangun hubungan.

Lirik seperti ‘harta, kau buta karenanya’ menjadi kunci relasi yang tidak lagi setara. Ada yang terus memberi, ada yang terus mengambil. Laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang lemah.

Namun jika ditarik ke belakang, ‘Sabda Alam’ sebenarnya sudah memuat dua arah sekaligus. Di satu sisi, ada pernyataan ‘wanita dijajah pria sejak dulu’ yang menegaskan posisi perempuan sebagai pihak yang ditindas. Di sisi lain, ada juga pengakuan dalam lirik lagunya bahwa ‘pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita’.

Di titik ini Kaimsasikun dengan cerdas mengambil bagian yang selama ini berada di pinggir, lalu menjadikannya pusat narasi baru.

Dus, hasil analisis komparasi dua lagu ini mulai terlihat perbedaannya. ‘Sabda Alam’ berbicara dalam kerangka yang lebih luas sebagai gambaran umum yang berulang, sementara ‘Pria Dijajah Wanita’ bergerak dalam konteks relasi yang lebih personal dan situasional.

Baca Juga  Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Keduanya sama-sama terjadi secara eksistensial dan dialami banyak orang dengan situasinya masing-masing.

Mungkin memang dalam banyak konteks, posisi kuasa relasi antara pria dan wanita selalu berubah dan tidak pernah stabil.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Filastine feat. Nova Ruth dan Ramalan Indonesia Collapse 2030

Preman Laut

Apa Jadinya Jika Jakarta Jadi Kota Mati? Sebuah Resensi ‘Ode Buat Kota’ karya Bangkutaman

Preman Laut

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut

Di Hadapan Tuhan, Ahmad Dhani Hanyalah Sebutir Debu

Preman Laut

Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut
Resensi

Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi ‘Pria Dijajah Wanita’ Karya Kaimsasikun

Ada lagu yang tidak cuma enak didengar, tapi juga seperti sedang berdialog dengan lagu lain.

Dua lagu ini contohnya: Pria Dijajah Wanita karya Kaimsasikun (2004) dan Sabda Alam karya Ismail Marzuki (1956)

‘Pria Dijajah Wanita’ adalah hit single Kaimsasikun, yang dirilis dalam album debut self-titled mereka pada 2004 melalui Antida Records. Band ini muncul dari skena independen Denpasar, Bali, sebelum sempat melejit ke industri musik nasional meski tidak bertahan lama.

Terlepas dari anggapan Kaimsasikun one-hit wonder atau kemiripan musikalnya dengan Muse, ada hal lain yang justru lebih menarik dari band asuhan Pay Burman (eks Slank, BIP) ini: Kaimsasikun berani bermain dan membongkar ulang narasi yang sudah bercokol lama dalam khazanah musik Indonesia.

Di lagu ini, mereka mengambil posisi yang tidak biasa. Perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai korban, tetapi sebagai pihak yang bisa memanfaatkan relasi.

Daya tarik, sikap manis dan kedekatan emosional tampil sebagai alat untuk mengendalikan, bukan semata untuk membangun hubungan.

Lirik seperti ‘harta, kau buta karenanya’ menjadi kunci relasi yang tidak lagi setara. Ada yang terus memberi, ada yang terus mengambil. Laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang lemah.

Namun jika ditarik ke belakang, ‘Sabda Alam’ sebenarnya sudah memuat dua arah sekaligus. Di satu sisi, ada pernyataan ‘wanita dijajah pria sejak dulu’ yang menegaskan posisi perempuan sebagai pihak yang ditindas. Di sisi lain, ada juga pengakuan dalam lirik lagunya bahwa ‘pria tak berdaya, tekuk lutut di sudut kerling wanita’.

Di titik ini Kaimsasikun dengan cerdas mengambil bagian yang selama ini berada di pinggir, lalu menjadikannya pusat narasi baru.

Dus, hasil analisis komparasi dua lagu ini mulai terlihat perbedaannya. ‘Sabda Alam’ berbicara dalam kerangka yang lebih luas sebagai gambaran umum yang berulang, sementara ‘Pria Dijajah Wanita’ bergerak dalam konteks relasi yang lebih personal dan situasional.

Baca Juga  SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Keduanya sama-sama terjadi secara eksistensial dan dialami banyak orang dengan situasinya masing-masing.

Mungkin memang dalam banyak konteks, posisi kuasa relasi antara pria dan wanita selalu berubah dan tidak pernah stabil.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Preman Laut

Catat Tanggalnya, 5 Pianist Bali Bakal Tampil Intim di Denpasar

Redaksi

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Preman Laut

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut

Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Preman Laut

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi