Denpasastra.net

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Morbid Monke: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Morbid Monke masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai band yang sejak awal memilih jalur bunyi yang ganjil dan tidak sepenuhnya ramah. Berangkat dari Denpasar, band ini memelintir rock ke arah yang canggung, dan satir. Elemen punk kemudian dijadikan poros, lalu disentuhkan ke funk, brass, pseudo jazz, hingga post-punk, tanpa ambisi terdengar rapi atau aman.

Oke oke, kami sadar bahwa di luar sana sudah terlalu banyak nomenklatur dan label anu itu membahas musikalitas band yang satu ini. Denpasastra sendiri pernah mengulas Morbid Monke secara khusus di blog, jadi semoga bagian ini tidak bermaksud mengulang atau menumpuk istilah yang sama.

Toh sepanjang 2025, Morbid Monke tidak hadir sebagai sensasi sesaat, melainkan sebagai unit rock yang terus menguji materi langsung di panggung. Rilisan seperti Eight Ball (bersama Robi Navicula), When I Feel Alive, hingga EP Feel Alive berjalan beriringan dengan kehadiran mereka di berbagai ruang tampil, dari gigs kecil sampai festival.

Menariknya bahkan di nomor mereka yang bertempo paling lemah seperti Mary Jane, musik Morbid Monke tetap bekerja secara fisik. Aransemen lamat-lamat yang ditahan untuk menahan energi penonton ketika moshing, terbukti tetap mengundang headbanging massa front row salah satu panggung mereka yang saya saksikan sendiri.

Yang membuat Morbid Monke relevan dicatat tahun ini bukan semata keberanian estetiknya, melainkan konsistensi membangun identitas lewat praktik. Musik mereka benar-benar diuji saat berhadapan dengan tubuh penonton yang liar, kadang kikuk, tapi tetap terarah.

Dalam daftar ini, Morbid Monke dicatat sebagai band yang tidak mengejar kematangan instan, melainkan terus merawat kejanggalan sebagai metode. Sebuah posisi yang mungkin tidak nyaman, tapi justru terasa penting di lanskap musik Bali 2025 yang semakin cepat ingin merapikan dirinya sendiri.

Baca Juga  Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Preman Laut

Dua Gitar, Dua Suara, Satu Nubuat ala Onki Chrisna & Yansanjaya

Preman Laut

Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Redaksi

Catat Tanggalnya, 5 Pianist Bali Bakal Tampil Intim di Denpasar

Redaksi

Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik ‘Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan’

Redaksi

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut
Resensi

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Morbid Monke: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Kredit Foto: IG/8nata_d666

Morbid Monke masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai band yang sejak awal memilih jalur bunyi yang ganjil dan tidak sepenuhnya ramah. Berangkat dari Denpasar, band ini memelintir rock ke arah yang canggung, dan satir. Elemen punk kemudian dijadikan poros, lalu disentuhkan ke funk, brass, pseudo jazz, hingga post-punk, tanpa ambisi terdengar rapi atau aman.

Oke oke, kami sadar bahwa di luar sana sudah terlalu banyak nomenklatur dan label anu itu membahas musikalitas band yang satu ini. Denpasastra sendiri pernah mengulas Morbid Monke secara khusus di blog, jadi semoga bagian ini tidak bermaksud mengulang atau menumpuk istilah yang sama.

Toh sepanjang 2025, Morbid Monke tidak hadir sebagai sensasi sesaat, melainkan sebagai unit rock yang terus menguji materi langsung di panggung. Rilisan seperti Eight Ball (bersama Robi Navicula), When I Feel Alive, hingga EP Feel Alive berjalan beriringan dengan kehadiran mereka di berbagai ruang tampil, dari gigs kecil sampai festival.

Menariknya bahkan di nomor mereka yang bertempo paling lemah seperti Mary Jane, musik Morbid Monke tetap bekerja secara fisik. Aransemen lamat-lamat yang ditahan untuk menahan energi penonton ketika moshing, terbukti tetap mengundang headbanging massa front row salah satu panggung mereka yang saya saksikan sendiri.

Yang membuat Morbid Monke relevan dicatat tahun ini bukan semata keberanian estetiknya, melainkan konsistensi membangun identitas lewat praktik. Musik mereka benar-benar diuji saat berhadapan dengan tubuh penonton yang liar, kadang kikuk, tapi tetap terarah.

Dalam daftar ini, Morbid Monke dicatat sebagai band yang tidak mengejar kematangan instan, melainkan terus merawat kejanggalan sebagai metode. Sebuah posisi yang mungkin tidak nyaman, tapi justru terasa penting di lanskap musik Bali 2025 yang semakin cepat ingin merapikan dirinya sendiri.

Baca Juga  Efek Rumah Kaca Merekam Cara-Cara Teror Warga Sipil Lewat 'Di Udara'

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Ipang Lazuardi Ajak Kita Bernostalgia Lewat Lagu ‘Sahabat Kecil’

Preman Laut

Apa Jadinya Jika Jakarta Jadi Kota Mati? Sebuah Resensi ‘Ode Buat Kota’ karya Bangkutaman

Preman Laut

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi