Denpasastra.net

Rima Ababil Homicide: Membongkar Kekerasan Rezim & Kasus Munir

Tahukah kamu bahwa lagu hip hop ini memuat lebih dari 40 referensi kisah, mitologi dan peristiwa global yang menyentil kekerasan dalam rezim.

Seluruhnya dipadatkan dalam satu komposisi untuk memetakan bagaimana kekerasan rezim bekerja lintas ruang dan waktu, dari masa lalu hingga sekarang.

Dari Thagut sampai Gomorrah, dari Sumpah Palapa sampai Brimob, semua dirakit dalam satu lanskap yang saling berkelindan.

Bagi yang akrab dengan Homicide, pola ini bukan hal baru. Lirik mereka dirakit sebagai ruang benturan makna. Nomenklatur agama, mitologi, sejarah, dan politik dihimpun dalam satu trek untuk saling berlapis dan saling mengganggu.

Di titik ini, lagu Rima Ababil tidak memetakan satu peristiwa. Ia menarik garis dari berbagai peristiwa menuju logika pembunuhan Munir Said Thalib.

Lagu ini memang tidak menceritakan Munir. Ia menempatkannya sebagai simpul. Yang dibaca bukan kronologi, tapi kontinuitas dalam artian ia bukan peristiwa tunggal, tapi merupakan pola berulang.

Kunci masuk memahaminya ada pada ‘rima ababil’. Rima diposisikan sebagai senjata. Bukan sekadar permainan bunyi, tapi perangkat untuk menyerang dan mengacaukan makna yang sudah mapan.

Sementara ‘ababil’ merujuk pada kisah dalam tradisi Islam tentang burung-burung kecil yang menghancurkan pasukan besar dengan menjatuhkan batu dari udara. Ia bukan simbol kekuatan besar, tapi sebaliknya. Kecil, banyak, bergerak serentak dan efektif karena tidak terpusat.

Ketika digabung, ‘rima ababil’ menjadi metafora perlawanan kolektif. Di titik ini, lagu Rima Ababil melampaui fungsi ekspresi berkesenian. Ia kini bekerja sebagai arsip.

Seperti lagu Di Udara milik Efek Rumah Kaca, Rima Ababil menjadi bagian dari arsip kekerasan negara. Negara di sini bukanlah institusi formal, tapi ruang kekuasaan yang memungkinkan kekerasan itu terjadi, dijalankan, dan kemudian disamarkan.

Baca Juga  Diskusi Lanjutan Soal AI dan Musik: Tanggapan untuk Made Adnyana

Fungsinya jelas: menolak lupa!

Barangkali generasi sekarang tidak perlu selalu masuk lewat pembacaan yang serius. Toh lagu ini juga bisa dihidupkan dengan cara lain: sila putar ulang dan rapalkan jadi semacam challenge bersama teman2.

Dari situ, saya percaya bahwa ingatan kolektif ini akan bekerja dengan caranya sendiri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Kolaborasi Usman Hamid dan Reza Ryan di ‘Theory of Nothing’ Lahirkan Debut Single ‘Pahlawan’

Redaksi

Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Preman Laut

Pemberontakan Jinak Slank Karena ‘Terlalu Manis’

Preman Laut

Lagipula Hidup Akan Berakhir: Merayakan Kekalahan, Lalu Apa?

Preman Laut

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut

Nelayan Pantai Sanur: Pengingat Karma yang Salah Alamat

Preman Laut
Resensi

Rima Ababil Homicide: Membongkar Kekerasan Rezim & Kasus Munir

Tahukah kamu bahwa lagu hip hop ini memuat lebih dari 40 referensi kisah, mitologi dan peristiwa global yang menyentil kekerasan dalam rezim.

Seluruhnya dipadatkan dalam satu komposisi untuk memetakan bagaimana kekerasan rezim bekerja lintas ruang dan waktu, dari masa lalu hingga sekarang.

Dari Thagut sampai Gomorrah, dari Sumpah Palapa sampai Brimob, semua dirakit dalam satu lanskap yang saling berkelindan.

Bagi yang akrab dengan Homicide, pola ini bukan hal baru. Lirik mereka dirakit sebagai ruang benturan makna. Nomenklatur agama, mitologi, sejarah, dan politik dihimpun dalam satu trek untuk saling berlapis dan saling mengganggu.

Di titik ini, lagu Rima Ababil tidak memetakan satu peristiwa. Ia menarik garis dari berbagai peristiwa menuju logika pembunuhan Munir Said Thalib.

Lagu ini memang tidak menceritakan Munir. Ia menempatkannya sebagai simpul. Yang dibaca bukan kronologi, tapi kontinuitas dalam artian ia bukan peristiwa tunggal, tapi merupakan pola berulang.

Kunci masuk memahaminya ada pada ‘rima ababil’. Rima diposisikan sebagai senjata. Bukan sekadar permainan bunyi, tapi perangkat untuk menyerang dan mengacaukan makna yang sudah mapan.

Sementara ‘ababil’ merujuk pada kisah dalam tradisi Islam tentang burung-burung kecil yang menghancurkan pasukan besar dengan menjatuhkan batu dari udara. Ia bukan simbol kekuatan besar, tapi sebaliknya. Kecil, banyak, bergerak serentak dan efektif karena tidak terpusat.

Ketika digabung, ‘rima ababil’ menjadi metafora perlawanan kolektif. Di titik ini, lagu Rima Ababil melampaui fungsi ekspresi berkesenian. Ia kini bekerja sebagai arsip.

Seperti lagu Di Udara milik Efek Rumah Kaca, Rima Ababil menjadi bagian dari arsip kekerasan negara. Negara di sini bukanlah institusi formal, tapi ruang kekuasaan yang memungkinkan kekerasan itu terjadi, dijalankan, dan kemudian disamarkan.

Baca Juga  Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Fungsinya jelas: menolak lupa!

Barangkali generasi sekarang tidak perlu selalu masuk lewat pembacaan yang serius. Toh lagu ini juga bisa dihidupkan dengan cara lain: sila putar ulang dan rapalkan jadi semacam challenge bersama teman2.

Dari situ, saya percaya bahwa ingatan kolektif ini akan bekerja dengan caranya sendiri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik ‘Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan’

Redaksi

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Justin Gabriel Ritonga

SID Balik Lagi ke Dapur Rekaman! Album Baru Setelah Lama ‘Bertapa’?

Redaksi

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi