Denpasastra.net

Tafsir Ulang Child – Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Kamu tidak pernah kehilangan anakmu. Kamu hanya kehilangan ilusi bahwa ia pernah benar-benar milikmu. Ini bukan lagu tentang anak-anak. Ini lagu tentang para orang tua yang diam-diam tahu bahwa keberhasilan mereka justru diukur ketika anak tidak lagi membutuhkan mereka.

Di awal 2000-an, Nidji merilis Child dalam album debut ‘Breakthru’. Secara musikal, lagu ini mengikuti struktur pop-rock yang relatif konvensional, sesuatu yang terasa akrab dan mudah dikenali. Tapi justru di situlah liriknya bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya nyaman.

Sekilas, pembuka lagu terdengar sederhana, ‘I am one / I am child’, hampir seperti doa pendek. Namun ketika ditarik ke relasi orang tua dan anak, kalimat ini perlahan membuka lapisan lain.

‘I am child’ tidak lagi terasa sebagai identitas yang bisa disimpan. Ia sejak awal sudah mengarah pada jarak. Kita membesarkan anak dengan harapan ia tumbuh, tapi tanpa sadar kita sering menolak arah tumbuh itu sendiri.

Pergerakan itu kemudian menjadi jelas. ‘Let them born into this world / let them sing into the sky’ tidak lagi sekadar puitik, tapi jadi konsekuensi. Membesarkan anak bukan soal mempertahankan, melainkan membiarkan. Karena anak-anak tidak dibesarkan untuk terus tinggal.

Yang tersisa bukan lagi kehadiran, melainkan jejak. ‘You are evergreen’ tidak berbicara tentang kebersamaan yang abadi, melainkan tentang sesuatu yang tetap hidup setelah kebersamaan itu berubah bentuk.

Lalu lagu ini sampai pada pengakuan paling sunyi: ‘I will be fading / as your child.’ Sekilas terdengar seperti suara anak, tapi jika didengar lebih dalam, ini adalah kesadaran orang tua.

Bahwa suatu hari, kita akan memudar dari pusat hidup anak. Bukan karena gagal, justru karena berhasil. Dan di saat yang sama, kita tetap anak-anak, bahkan ketika kita sudah menjadi orang tua.

Baca Juga  Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Saya tidak percaya lagu hanya untuk didengar sebagai hiburan. Saya membaca lagu ini berulang kali dan di situlah ‘Child’ menjadi tempat kita menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Jembrana Luncurkan Anthem ‘Demi Jembrana, Pasti Bisa!’ pada Malam Pergantian Tahun

Redaksi

Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Preman Laut

Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Redaksi

Ipang Lazuardi Ajak Kita Bernostalgia Lewat Lagu ‘Sahabat Kecil’

Preman Laut

Kritik Sosial ala Seurieus Lewat ‘Rocker Bukan Manusia’

Preman Laut
Esai

Tafsir Ulang Child – Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Kamu tidak pernah kehilangan anakmu. Kamu hanya kehilangan ilusi bahwa ia pernah benar-benar milikmu. Ini bukan lagu tentang anak-anak. Ini lagu tentang para orang tua yang diam-diam tahu bahwa keberhasilan mereka justru diukur ketika anak tidak lagi membutuhkan mereka.

Di awal 2000-an, Nidji merilis Child dalam album debut ‘Breakthru’. Secara musikal, lagu ini mengikuti struktur pop-rock yang relatif konvensional, sesuatu yang terasa akrab dan mudah dikenali. Tapi justru di situlah liriknya bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya nyaman.

Sekilas, pembuka lagu terdengar sederhana, ‘I am one / I am child’, hampir seperti doa pendek. Namun ketika ditarik ke relasi orang tua dan anak, kalimat ini perlahan membuka lapisan lain.

‘I am child’ tidak lagi terasa sebagai identitas yang bisa disimpan. Ia sejak awal sudah mengarah pada jarak. Kita membesarkan anak dengan harapan ia tumbuh, tapi tanpa sadar kita sering menolak arah tumbuh itu sendiri.

Pergerakan itu kemudian menjadi jelas. ‘Let them born into this world / let them sing into the sky’ tidak lagi sekadar puitik, tapi jadi konsekuensi. Membesarkan anak bukan soal mempertahankan, melainkan membiarkan. Karena anak-anak tidak dibesarkan untuk terus tinggal.

Yang tersisa bukan lagi kehadiran, melainkan jejak. ‘You are evergreen’ tidak berbicara tentang kebersamaan yang abadi, melainkan tentang sesuatu yang tetap hidup setelah kebersamaan itu berubah bentuk.

Lalu lagu ini sampai pada pengakuan paling sunyi: ‘I will be fading / as your child.’ Sekilas terdengar seperti suara anak, tapi jika didengar lebih dalam, ini adalah kesadaran orang tua.

Bahwa suatu hari, kita akan memudar dari pusat hidup anak. Bukan karena gagal, justru karena berhasil. Dan di saat yang sama, kita tetap anak-anak, bahkan ketika kita sudah menjadi orang tua.

Baca Juga  Hari-Hari Terakhir Peterpan

Saya tidak percaya lagu hanya untuk didengar sebagai hiburan. Saya membaca lagu ini berulang kali dan di situlah ‘Child’ menjadi tempat kita menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi