Joko Pinurbo pernah berseloroh dalam sebuah acara talkshow bersama Najwa Shihab dan Sapardi Djoko Damono. Ia mengatakan bahwa petikan puisi Sapardi yang sangat terkenal itu, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana“, sebenarnya adalah sesuatu yang paling tidak sederhana dan sulit dilaksanakan. Bahkan mungkin mustahil dilakukan.
Seloroh itu terdengar ringan. Namun jika dipikirkan lebih jauh, ia menyimpan satu kecurigaan yang cukup tajam. Cinta yang sederhana sering kali hanya sederhana di dalam puisi. Padahal di kehidupan nyata, ia hampir selalu berantakan.
Saya teringat seloroh itu ketika mendengar lagu ‘Kamu’ yang masuk ke meja redaksi pertengahan Februari kemarin. Dirilis Onki Chrisna dan Yansanjaya, lagu ini adalah merupakan karya pertama mereka sebagai duo, dilepas secara independen sebagai ode tentang kesadaran seseorang bahwa ia telah memilih pasangan yang tepat untuk menjalani hidup bersama.
Secara biografis, keduanya bukan nama yang datang dari ruang kosong dalam kancah musik Bali. Onki Chrisna pernah terlibat dalam sejumlah proyek seperti Comma, Zat Kimia, hingga Tjok Bagus & Kawannya. Sementara Yansanjaya memiliki jejak musikal di The Kantin, Pygmy Marmoset serta berbagai kolaborasi dengan musisi seperti Sandrayati Fay, Remthera, Nosstress dan juga Tjok Bagus & Kawannya.
Menurut hemat saya, di proyek Tjok Bagus & Kawannya-lah keduanya bersinggungan, terutama pada periode setelah Tjok Bagus memutuskan keluar dari Nosstress beberapa tahun lalu. Pada masa itu, saya membayangkan betapa project solo Tjok Bagus tersebut menjadi semacam ruang pertemuan kolektif baru bagi sejumlah musisi Bali yang sebelumnya bergerak di lingkar kolaborasi berbeda.
Jika dugaan ini tidak meleset terlalu jauh, maka lagu ‘Kamu’ tidak sekadar lahir dari dua sahabat yang tiba-tiba berkolaborasi. Ia lahir dari jaringan musikal yang sudah lama saling bersilangan di ekosistem independen Bali.
Dalam rangka inilah menarik melihat kemunculan lagu ini di tengah lanskap indie folk Bali yang beberapa tahun terakhir terasa semakin semarak. Banyak musisi kembali memilih format yang lebih sederhana. Gitar akustik, harmoni vokal, produksi yang intim. Musik yang tidak mengejar kemegahan produksi, melainkan kedekatan emosional. Dalam rangka ini lah single ‘Kamu’ berdiri tepat di wilayah tersebut.
Secara musikal, lagu ini bergerak dengan keberanian yang jarang terdengar hari ini. Dua gitar akustik saling bersahutan dengan petikan yang ringan dan jernih. Seperti percakapan yang berlangsung pelan. Tidak ada lapisan produksi yang berlebihan.
Dan menurut keterangan pers yang saya terima, seluruh proses rekaman hingga mixing dan mastering bahkan dikerjakan sendiri oleh Onki di studio pribadinya.
Vokal Yansanjaya bergerak lembut tanpa dramatisasi di telinga saya, ia tidak terdengar hendak mencoba menaklukkan lagu. Ia hanya menemaninya.
Suara Yansanjaya terdengar seperti seseorang yang sudah berjalan cukup jauh dalam sebuah hubungan. Cukup jauh untuk memahami bahwa cinta tidak selalu hadir sebagai euforia. Dus, sudah lama rasanya saya tidak mendengar lagu yang berani sesederhana ini!
Terang kini adanya bahwa di tengah lanskap musik yang semakin padat dengan produksi berlapis, ‘Kamu’ justru memilih jalan yang hampir asketik. Dua gitar. Dua suara. Satu keyakinan. Kesederhanaan musikal itu sekaligus membuat liriknya terdengar semakin jelas:
“Jika tidak denganmu, apa arti segalanya.”
Saya berpendapat kalimat seperti ini tidak pernah ringan. Lagu bisa mengucapkannya dalam tiga menit. Kehidupan membutuhkan puluhan tahun untuk membuktikannya. Dan kehidupan kepala empat yang telah saya lewati menunjukkan hidup tak pernah berjalan baik-baik saja.
Menariknya memang, lagu ini sendiri tidak sepenuhnya buta terhadap kemungkinan gagal. Ada satu kata yang terus muncul di dalamnya: badai. Hubungan digambarkan seperti perjalanan yang harus terus dikayuh. Tidak selalu mudah. Kadang rapuh. Tetapi tetap dijalani bersama bahwa cinta bukan takdir yang turun dari langit. Ia lebih mirip pekerjaan yang harus dilatih dan dilakukan berulang-ulang.
Terlepas dari latar belakang personal dan kisah Onki melahirkan lagu ini yang terkesan minim konflik dan klise, saya mencoba menafsirkannya dalam realitas lebih luas yang pernah, telah, dan akan selalu bergantian didera kepahitan. Realitas bahwa banyak hubungan tidak berhasil menempuh jarak yang dibayangkan oleh lagu-lagu cinta.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan lagu ini. Ia tidak mencoba terdengar canggih. Tidak pula berusaha menghindari kalimat-kalimat besar tentang kesetiaan. Ia hanya mengucapkannya dengan sangat sederhana.
Persis seperti puisi Sapardi yang disindir Joko Pinurbo. Kalimat yang mudah ditulis, tetapi sangat sulit dijalani.
