Pada satu fase menjelang 2010, nama Melancholic Bitch beredar luas di Jakarta dan Bandung.
Lagu-lagunya didengar dibicarakan, tetapi hampir tidak ada yang benar-benar pernah melihat mereka tampil. Karyanya hadir, tapi wujud mereka absen dari panggung.
Padahal album kedua mereka, Balada Joni dan Susi baru saja dirilis dan mendapat sambutan positif.
Pada kurun waktu tersebut, saya pribadi hanya pernah menonton Melancholic Bitch satu kali secara tidak sengaja pada salah satu konser di Teater Salihara, Pasar Minggu suatu hari di tahun 2010 silam. Malam itu mereka membawakan Balada Joni dan Susi secara penuh, dimainkan berurutan sesuai susunan albumnya.
Dari awalnya hanya berniat nongkrong dengan kawan-kawan lama, malam itu justru berakhir menjadi pengalaman yang tidak saya lupakan dan menjadi salah satu konser musik terbaik dalam hidup saya.
Melancholic Bitch sendiri berasal dari Yogyakarta dan kala itu bekerja sebagai kolektif. Anggotanya tersebar, produksi tidak rutin dan mengaku bahwa aktivitas band ini bergantung pada situasi personilnya masing-masing.
Kondisi ini membuat karya beredar tanpa kehadiran yang konsisten. Wajar bila dari cara publik membaca kekosongan inilah label band mitos terbentuk.
Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mulai tampil lebih sering dan mengganti nama menjadi Majelis Lidah Berduri. Perubahan ini memutus cara baca lama.
Melancholic Bitch, Majelis Lidah Berduri ataupun biasa disingkat Melbi kini tidak lagi berada dalam kerangka band mitos yang dibentuk oleh jarak dan keterbatasan akses.
Saya senang dengan upaya band ini menolak menjadi mitos dan kembali ‘turun ke jalan’, karena kita masih membutuhkan estetika kritisisme seperti yang diusungnya dalam lirik lagu Akhirnya Masup Tipi.
Mulai dari penembakan mahasiswa di kolong jembatan Semanggi 1998, aksi bakar diri Sondang Hutagalung di jalan istana merdeka pada rezim SBY, dilindasnya Affan oleh rantis brimob, hingga penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus di sudut Jalan Raya Salemba.
Semua kekerasan negara yang terjadi di ‘jalan’ sebagai simbol perlawanan menegaskan hal yang sejak awal mereka lantangkan: ‘di jalan tertulis jejak luka, pemerintah tak bisa membacanya’.
