Denpasastra.net

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Seminggu berselang setelah banjir besar menenggelamkan atap rumah-rumah di Bekasi awal Maret kemarin, Navicula merilis penampilan live lagu lawas mereka yang berjudul menohok dan tepat waktu: Kali Mati.

Bukan kebetulan bahwa Bekasi yang saya kenal adalah daerah suburban dengan skena grunge paling militan dan audiens pendengar Navicula yang intens. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana teman-teman di komunitas Bekasi Street Grunge (BSG) boleh jadi tinggal di pinggiran Jatiasih sebagai salah satu wilayah dengan korban banjir terbanyak. Dan saat Kali Bekasi kemarin meluap tanpa ampun, Navicula sudah sejak dua puluh tahun lalu memperingatkannya dengan lantang lewat lagunya.

Berbeda dengan versi originalnya, nomor kencang yang aslinya masuk ke album ketiga bertajuk Alkemis (2005) ini disulap jadi syahdu. Ia direkam akustik dengan format santai dari ‘dapur’ Navicula di daerah Ubud dengan interior senatural-naturalnya sebuah dapur.

Meski secara musikal tetap mengandung karakteristik lagu versi aslinya dengan permainan tempo yang moderate, versi live kali ini memiliki pola twinkle guitar dan harmonic complexity yang tetap apik tanpa menjadi terlalu marah dan eksperimental, seperti laiknya roots bermusik rock 90-an yang menjadi epigon bermusik Navicula.

Jika dibandingkan dengan katalog musik what so called grunge, lagu ini buat saya pribadi memiliki kedekatan dengan kugiran Seattle favorit saya Alice in Chains (AIC), terutama dalam penggunaan progresi minor yang gelap serta karakter vokal Robi yang menyeret dengan nuansa gritty. Dominasi bass Khrisna dan petikan gitar kopong Dadang yang hemat nan cermat dengan low-end frequency yang kuat ala Western Texas music, memberi kesan berat, hampir menekan, mempertegas tema utama lagu yang berbicara tentang polusi sungai dan dampak ekologisnya.

Baca Juga  Deva Dianjaya Rilis Album Perdana Pendevasaan, Tawarkan Nuansa Baru Musik Patah Hati

Saya teringat pengalaman pribadi saat saya pertama datang dan tinggal di Bali tahun lalu, terdampar di sebuah kost di daerah Imam Bonjol, dengan balkon kamar menghadap langsung ke Tukad Badung, sungai yang membelah Kota Denpasar. Demi Tuhan setiap hari dengan mata kepala sendiri saya melihat bagaimana warga sekitar akur saja membuang sampah, dan bahkan cuek (maaf) kencing langsung ke sungai itu. Tanpa filter, tanpa rasa bersalah.

Beberapa bulan kemudian di awal Januari tahun ini, adalah momen perdana saya mengaga membaca berita bahwa Pantai Kedonganan dipenuhi sampah yang berasal dari Jawa dan tentu saja salah satunya sungai Tukad Badung. Sebuah pola yang kata warga lokal adalah kejadian berulang setiap tahun: sungai menjadi tempat pembuangan, air mengalir ke laut, dan sampah kembali ke daratan dalam bentuk gunungan plastik di pesisir.

Tak pelak, ‘Kali Mati’ di versi live accoustic di sini buat saya pribadi jelas bukan cuma sekadar lagu protes dan marah. Ini semacam surat wasiat alam yang sayangnya tidak pernah dibuka sebelum terlambat. Alih-alih si empunya marah dan pundung, wasiatnya kini dibacakan ulang dengan santai namun tetap emosional.

Overall, ‘Kali Mati’ akustik mengingatkan saya pada sound AIC di era Dirt—berat, gelap, penuh kemarahan tapi tetap menggoda untuk didengar. Pasalnya ada kesamaan sonik antara Navicula dan AIC di lagu ini: riff gitar berat yang seolah lahir dari dasar sungai yang sudah mati, drum yang berdetak seperti detak jantung terakhir seekor ikan yang tersedak plastik, serta vokal yang menyanyikan ratapan dengan nada hampir pasrah.

Saya lalu memfantasikan bagaimana Layne Staley, frontman AIC lahir di Denpasar dan besar di Kuta. Bukannya kecanduan heroin, ia pasti bakal merecet soal lingkungan, karena setiap sore menemukan sampah botol mineral dan sobekan label plastik nyangkut tiap ia hendak menikmati sunset di pinggir Pantai Kedonganan.

Baca Juga  S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Karenanya, nomor ‘Kali Mati’ karya Navicula tidak pernah lebih relevan dari sekarang. Lagu ini adalah pengingat bahwa kita semua, entah suka atau tidak, adalah bagian dari narasi panjang tentang kematian sungai, laut, dan mungkin—jika kita terus begini—diri kita sendiri. Seperti grunge, planet ini dulunya liar dan penuh energi. Seperti banyak musisi grunge, kini dia sedang sekarat pelan-pelan.

Jadi, apa yang akan kita lakukan? Berenang di kali mati, atau berenang di lautan perubahan, wahai kawan?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut

Lagipula Hidup Akan Berakhir: Merayakan Kekalahan, Lalu Apa?

Preman Laut

Ubud Jadi Tuan Rumah Ubud Village Jazz Festival 2025, 1–2 Agustus di Sthala

Redaksi

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi
Resensi

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Seminggu berselang setelah banjir besar menenggelamkan atap rumah-rumah di Bekasi awal Maret kemarin, Navicula merilis penampilan live lagu lawas mereka yang berjudul menohok dan tepat waktu: Kali Mati.

Bukan kebetulan bahwa Bekasi yang saya kenal adalah daerah suburban dengan skena grunge paling militan dan audiens pendengar Navicula yang intens. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana teman-teman di komunitas Bekasi Street Grunge (BSG) boleh jadi tinggal di pinggiran Jatiasih sebagai salah satu wilayah dengan korban banjir terbanyak. Dan saat Kali Bekasi kemarin meluap tanpa ampun, Navicula sudah sejak dua puluh tahun lalu memperingatkannya dengan lantang lewat lagunya.

Berbeda dengan versi originalnya, nomor kencang yang aslinya masuk ke album ketiga bertajuk Alkemis (2005) ini disulap jadi syahdu. Ia direkam akustik dengan format santai dari ‘dapur’ Navicula di daerah Ubud dengan interior senatural-naturalnya sebuah dapur.

Meski secara musikal tetap mengandung karakteristik lagu versi aslinya dengan permainan tempo yang moderate, versi live kali ini memiliki pola twinkle guitar dan harmonic complexity yang tetap apik tanpa menjadi terlalu marah dan eksperimental, seperti laiknya roots bermusik rock 90-an yang menjadi epigon bermusik Navicula.

Jika dibandingkan dengan katalog musik what so called grunge, lagu ini buat saya pribadi memiliki kedekatan dengan kugiran Seattle favorit saya Alice in Chains (AIC), terutama dalam penggunaan progresi minor yang gelap serta karakter vokal Robi yang menyeret dengan nuansa gritty. Dominasi bass Khrisna dan petikan gitar kopong Dadang yang hemat nan cermat dengan low-end frequency yang kuat ala Western Texas music, memberi kesan berat, hampir menekan, mempertegas tema utama lagu yang berbicara tentang polusi sungai dan dampak ekologisnya.

Baca Juga  The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Saya teringat pengalaman pribadi saat saya pertama datang dan tinggal di Bali tahun lalu, terdampar di sebuah kost di daerah Imam Bonjol, dengan balkon kamar menghadap langsung ke Tukad Badung, sungai yang membelah Kota Denpasar. Demi Tuhan setiap hari dengan mata kepala sendiri saya melihat bagaimana warga sekitar akur saja membuang sampah, dan bahkan cuek (maaf) kencing langsung ke sungai itu. Tanpa filter, tanpa rasa bersalah.

Beberapa bulan kemudian di awal Januari tahun ini, adalah momen perdana saya mengaga membaca berita bahwa Pantai Kedonganan dipenuhi sampah yang berasal dari Jawa dan tentu saja salah satunya sungai Tukad Badung. Sebuah pola yang kata warga lokal adalah kejadian berulang setiap tahun: sungai menjadi tempat pembuangan, air mengalir ke laut, dan sampah kembali ke daratan dalam bentuk gunungan plastik di pesisir.

Tak pelak, ‘Kali Mati’ di versi live accoustic di sini buat saya pribadi jelas bukan cuma sekadar lagu protes dan marah. Ini semacam surat wasiat alam yang sayangnya tidak pernah dibuka sebelum terlambat. Alih-alih si empunya marah dan pundung, wasiatnya kini dibacakan ulang dengan santai namun tetap emosional.

Overall, ‘Kali Mati’ akustik mengingatkan saya pada sound AIC di era Dirt—berat, gelap, penuh kemarahan tapi tetap menggoda untuk didengar. Pasalnya ada kesamaan sonik antara Navicula dan AIC di lagu ini: riff gitar berat yang seolah lahir dari dasar sungai yang sudah mati, drum yang berdetak seperti detak jantung terakhir seekor ikan yang tersedak plastik, serta vokal yang menyanyikan ratapan dengan nada hampir pasrah.

Saya lalu memfantasikan bagaimana Layne Staley, frontman AIC lahir di Denpasar dan besar di Kuta. Bukannya kecanduan heroin, ia pasti bakal merecet soal lingkungan, karena setiap sore menemukan sampah botol mineral dan sobekan label plastik nyangkut tiap ia hendak menikmati sunset di pinggir Pantai Kedonganan.

Baca Juga  Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Karenanya, nomor ‘Kali Mati’ karya Navicula tidak pernah lebih relevan dari sekarang. Lagu ini adalah pengingat bahwa kita semua, entah suka atau tidak, adalah bagian dari narasi panjang tentang kematian sungai, laut, dan mungkin—jika kita terus begini—diri kita sendiri. Seperti grunge, planet ini dulunya liar dan penuh energi. Seperti banyak musisi grunge, kini dia sedang sekarat pelan-pelan.

Jadi, apa yang akan kita lakukan? Berenang di kali mati, atau berenang di lautan perubahan, wahai kawan?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Redaksi

Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Dibuka, Batas Akhir 31 Oktober

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi