Denpasastra.net

Kritik Terselubung Orde Baru, Ideologi dan Topeng Kekuasaan

Nugie Pernah ‘Tertipu’ Orba di Lagu Ini

Ketika Nugie merilis lagu ‘Tertipu’ dan meledak menjadi hits di awal kariernya, saya mengira ia sedang membicarakan sosok perempuan dan hubungan manipulatif.

Kata-kata seperti ‘putri’, ‘keraton’, dan ‘norma’ dalam liriknya menyiratkan tafsir itu. Sebuah kisah tentang seseorang yang terpesona oleh citra keanggunan, lalu sadar bahwa semua itu hanyalah topeng.

Puluhan tahun berselang, ternyata saya keliru. Dalam berbagai oral story yang beredar di kalangan pelaku musik 1990-an seperti Baim, Pongky Barata, maupun Nugie sendiri, lagu ini kerap dibicarakan sebagai sindiran terhadap pejabat pada masa Orde Baru di bawah Soeharto.

Dalam pembacaan itu, Tertipu seolah jadi pengakuan kultural yang sederhana namun tajam: Nugie tertipu Orde Baru!

Ia tidak sedang berbicara tentang satu figur perempuan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan memikat publik lewat citra kesantunan dan bahasa moral.

Baris seperti ‘manis tutur kata dari mulut yang terbungkus norma-norma’ dan ‘itu palsu, itu topeng’ memperlihatkan bagaimana bahasa moral dapat berubah menjadi kosmetik kekuasaan.

Kesantunan, norma, dan citra keanggunan tampil sebagai wajah resmi yang menutupi relasi kuasa yang manipulatif.

Hari ini topeng kekuasaan mungkin berubah bentuk, tetapi mekanismenya tetap sama. Kekuasaan membangun citra, memproduksi harapan, dan merawat kepercayaan publik agar dominasi tetap tampak wajar.

Dalam banyak kasus, ia juga memelihara jaringan loyalitas, semacam ternak politik, untuk menjaga pengaruh dan melindungi kepentingan oligarki.

Maka dengan semua janji rezim, slogan perubahan dan narasi moral anti asing yang diproduksi penguasa, pertanyaannya sederhana: setelah puluhan tahun lagu ini dirilis, masihkah kita terus tertipu?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Lagu Lama 'Surti-Tejo' karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Preman Laut

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut

Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat ‘Mahadewi’

Preman Laut

Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri – rumahsakit di Televisi Nasional

Redaksi

World Ocean Day 2026 Digelar di Bali, Seniman Layangan Soroti Kondisi Laut Sanur

Redaksi

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut
Esai

Kritik Terselubung Orde Baru, Ideologi dan Topeng Kekuasaan

Nugie Pernah ‘Tertipu’ Orba di Lagu Ini

Ketika Nugie merilis lagu ‘Tertipu’ dan meledak menjadi hits di awal kariernya, saya mengira ia sedang membicarakan sosok perempuan dan hubungan manipulatif.

Kata-kata seperti ‘putri’, ‘keraton’, dan ‘norma’ dalam liriknya menyiratkan tafsir itu. Sebuah kisah tentang seseorang yang terpesona oleh citra keanggunan, lalu sadar bahwa semua itu hanyalah topeng.

Puluhan tahun berselang, ternyata saya keliru. Dalam berbagai oral story yang beredar di kalangan pelaku musik 1990-an seperti Baim, Pongky Barata, maupun Nugie sendiri, lagu ini kerap dibicarakan sebagai sindiran terhadap pejabat pada masa Orde Baru di bawah Soeharto.

Dalam pembacaan itu, Tertipu seolah jadi pengakuan kultural yang sederhana namun tajam: Nugie tertipu Orde Baru!

Ia tidak sedang berbicara tentang satu figur perempuan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan memikat publik lewat citra kesantunan dan bahasa moral.

Baris seperti ‘manis tutur kata dari mulut yang terbungkus norma-norma’ dan ‘itu palsu, itu topeng’ memperlihatkan bagaimana bahasa moral dapat berubah menjadi kosmetik kekuasaan.

Kesantunan, norma, dan citra keanggunan tampil sebagai wajah resmi yang menutupi relasi kuasa yang manipulatif.

Hari ini topeng kekuasaan mungkin berubah bentuk, tetapi mekanismenya tetap sama. Kekuasaan membangun citra, memproduksi harapan, dan merawat kepercayaan publik agar dominasi tetap tampak wajar.

Dalam banyak kasus, ia juga memelihara jaringan loyalitas, semacam ternak politik, untuk menjaga pengaruh dan melindungi kepentingan oligarki.

Maka dengan semua janji rezim, slogan perubahan dan narasi moral anti asing yang diproduksi penguasa, pertanyaannya sederhana: setelah puluhan tahun lagu ini dirilis, masihkah kita terus tertipu?

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Nelayan Pantai Sanur: Pengingat Karma yang Salah Alamat

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

Taufiq Ismail dan Oksimoron Lifetime Achievement UWRF 2025

Preman Laut

The Brandals Pernah Ditimpuk Lumpur Penonton Satu Stadion

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi