Denpasastra.net

Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri – rumahsakit di Televisi Nasional

Televisi nasional pernah menentukan cara musik arus utama beredar di ruang publik.

Hingga pada peralihan milenium, ANTV memutar MTV Indonesia sebagai salah satu program di tengah arus padat siaran sinetron dan hiburan umum.

MTV memang masuk sebagai sisipan, bukan channel TV sendiri. Tapi di periode itulah, band luar arus utama mulai menggeser cara televisi menampilkan musik.

Saya ingat satu momen di Jakarta saat berada di peralihan SMA ke awal kuliah. Saya duduk di ruang tengah, televisi menyala seperti biasa.

Di siaran MTV Indonesia yang saya tonton, satu video hadir dengan ritme berbeda: cahaya dan warna berkedip cepat, siluet muncul lalu terputus. Gambar yang saya lihat tampak tidak mengikuti lirik lagu.

Itulah videoklip ‘Mati Suri’ dari rumahsakit yang disutradarai Platon Theodoris. Dari oral story yang saya dengar, Platon merekamnya dengan film seluloid 16mm, berkeliling Jakarta malam hari tanpa pencahayaan tambahan dan mengandalkan sumber cahaya di lokasi. Sebagian gambar justru blur karena kondisi kamera. Efek itu tidak dibuang, tetapi dipertahankan sebagai cacat yang deliberated.

Berbeda dengan kecenderungan pop atau rock Indonesia saat itu yang masih bertumpu pada cerita, ‘Mati Suri’ tidak membangun narasi. Liriknya menyusun citra: cahaya, dunia baru, tubuh yang terasa ringan, pergeseran antara hidup dan tiada.

Lapisan vokal dari Andri LMS, serta Nanda Wondergel muncul sebagai backing vocal dengan kualitas suara yang terasa ringan dan melayang. Keduanya berpadu memberi kesan angelic yang memperkuat suasana lagu.

Saat musik alternatif meluas dan masuk ke wilayah industri, saya menyaksikan bagaimana rumahsakit berada di garis depan perlawanan estetika terhadap standar industri mainstream.

Perlawanan yang sebelumnya bergerak di ruang terbatas, selama beberapa menit tampil di televisi nasional dan ditonton jutaan pemirsa untuk pertama kalinya.

Baca Juga  Tafsir Ulang Child - Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Preman Laut

Efek Rumah Kaca Merekam Cara-Cara Teror Warga Sipil Lewat ‘Di Udara’

Preman Laut

Melancholic Bitch: Band Mitos Ini Menolak Jadi Mitos

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Lagipula Hidup Akan Berakhir: Merayakan Kekalahan, Lalu Apa?

Preman Laut
Esai

Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri – rumahsakit di Televisi Nasional

Televisi nasional pernah menentukan cara musik arus utama beredar di ruang publik.

Hingga pada peralihan milenium, ANTV memutar MTV Indonesia sebagai salah satu program di tengah arus padat siaran sinetron dan hiburan umum.

MTV memang masuk sebagai sisipan, bukan channel TV sendiri. Tapi di periode itulah, band luar arus utama mulai menggeser cara televisi menampilkan musik.

Saya ingat satu momen di Jakarta saat berada di peralihan SMA ke awal kuliah. Saya duduk di ruang tengah, televisi menyala seperti biasa.

Di siaran MTV Indonesia yang saya tonton, satu video hadir dengan ritme berbeda: cahaya dan warna berkedip cepat, siluet muncul lalu terputus. Gambar yang saya lihat tampak tidak mengikuti lirik lagu.

Itulah videoklip ‘Mati Suri’ dari rumahsakit yang disutradarai Platon Theodoris. Dari oral story yang saya dengar, Platon merekamnya dengan film seluloid 16mm, berkeliling Jakarta malam hari tanpa pencahayaan tambahan dan mengandalkan sumber cahaya di lokasi. Sebagian gambar justru blur karena kondisi kamera. Efek itu tidak dibuang, tetapi dipertahankan sebagai cacat yang deliberated.

Berbeda dengan kecenderungan pop atau rock Indonesia saat itu yang masih bertumpu pada cerita, ‘Mati Suri’ tidak membangun narasi. Liriknya menyusun citra: cahaya, dunia baru, tubuh yang terasa ringan, pergeseran antara hidup dan tiada.

Lapisan vokal dari Andri LMS, serta Nanda Wondergel muncul sebagai backing vocal dengan kualitas suara yang terasa ringan dan melayang. Keduanya berpadu memberi kesan angelic yang memperkuat suasana lagu.

Saat musik alternatif meluas dan masuk ke wilayah industri, saya menyaksikan bagaimana rumahsakit berada di garis depan perlawanan estetika terhadap standar industri mainstream.

Perlawanan yang sebelumnya bergerak di ruang terbatas, selama beberapa menit tampil di televisi nasional dan ditonton jutaan pemirsa untuk pertama kalinya.

Baca Juga  Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

Hari-Hari Terakhir Peterpan

Preman Laut

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Preman Laut

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi