Denpasastra.net

Resensi Lagu Shagah - Benua

Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Shagah, moniker dari Leev Having, musisi solo asal Kupang, resmi merilis single barunya pada 13 Februari berjudul “Benua”. Lagu ini melanjutkan arah musiknya yang kini lebih banyak memakai unsur elektronik dengan nuansa ambience dan post-rock.

Secara tema, “Benua” berbicara tentang kerusakan lingkungan. Lirik visual yang menyertai rilisan ini menyebut manusia sebagai pihak yang egois dan serakah: tanah, air, dan udara dikuasai lalu dirusak demi kepentingan kelompok tertentu. Pesannya jelas dan langsung, tanpa banyak simbol.

Salah satu bagian yang paling kuat berbunyi: manusia mungkin suatu hari tidak ada lagi, dan alam justru bisa menjadi lebih baik tanpa kehadiran manusia. Pernyataan ini membalik cara pandang umum yang biasanya menempatkan manusia sebagai pusat dan penyelamat bumi. Dalam “Benua”, manusia justru digambarkan sebagai sumber masalah.

Dari sisi musik, Shagah melanjutkan eksplorasi elektronik minimal yang sudah terdengar sejak album Monument (2023), EP Unravel: Sow the Wind (2021) dan rilisan single-single terdahulu sejak 2017 silam. Aransemennya terdengar tenang dan atmosferik. Alih-alih membangun ledakan atau klimaks besar, lagu ini bergerak perlahan, memberi ruang pada bunyi dan suasana untuk membentuk kesan muram.

Vokal dalam lagu ini bukan dinyanyikan oleh Shagah sendiri, melainkan menggunakan rekaman suara seorang warga kampung di Sumba bernama Ama Pertiwi, yang berusia sekitar 80 tahun. Nyanyian itu direkam dua tahun lalu dalam sebuah proyek di Sumba, lalu disimpan sebagai arsip dan kini dipakai dalam komposisi “Benua”. Tidak ada teks lirik yang ditulis; nyanyian tersebut hadir sebagai suara mentah, bukan sebagai kata-kata yang bisa dibaca.

Penggunaan arsip suara ini memberi lapisan berbeda pada lagu. Suara tradisi bertemu dengan lanskap elektronik modern. Kontras ini menjadi kekuatan utama “Benua”: perpaduan antara rekaman kampung dan produksi digital yang dingin.

Baca Juga  Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

“Benua” tidak menawarkan solusi atau ajakan bertindak. Lagu ini lebih seperti pernyataan sikap. Ia menyampaikan kegelisahan tentang manusia dan alam secara lugas, dan meninggalkan pendengar dengan satu kemungkinan yang tidak nyaman: dunia mungkin bisa berjalan lebih baik tanpa manusia.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Redaksi

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut

SID Balik Lagi ke Dapur Rekaman! Album Baru Setelah Lama ‘Bertapa’?

Redaksi
Resensi

Resensi Lagu Shagah - Benua

Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Shagah, moniker dari Leev Having, musisi solo asal Kupang, resmi merilis single barunya pada 13 Februari berjudul “Benua”. Lagu ini melanjutkan arah musiknya yang kini lebih banyak memakai unsur elektronik dengan nuansa ambience dan post-rock.

Secara tema, “Benua” berbicara tentang kerusakan lingkungan. Lirik visual yang menyertai rilisan ini menyebut manusia sebagai pihak yang egois dan serakah: tanah, air, dan udara dikuasai lalu dirusak demi kepentingan kelompok tertentu. Pesannya jelas dan langsung, tanpa banyak simbol.

Salah satu bagian yang paling kuat berbunyi: manusia mungkin suatu hari tidak ada lagi, dan alam justru bisa menjadi lebih baik tanpa kehadiran manusia. Pernyataan ini membalik cara pandang umum yang biasanya menempatkan manusia sebagai pusat dan penyelamat bumi. Dalam “Benua”, manusia justru digambarkan sebagai sumber masalah.

Dari sisi musik, Shagah melanjutkan eksplorasi elektronik minimal yang sudah terdengar sejak album Monument (2023), EP Unravel: Sow the Wind (2021) dan rilisan single-single terdahulu sejak 2017 silam. Aransemennya terdengar tenang dan atmosferik. Alih-alih membangun ledakan atau klimaks besar, lagu ini bergerak perlahan, memberi ruang pada bunyi dan suasana untuk membentuk kesan muram.

Vokal dalam lagu ini bukan dinyanyikan oleh Shagah sendiri, melainkan menggunakan rekaman suara seorang warga kampung di Sumba bernama Ama Pertiwi, yang berusia sekitar 80 tahun. Nyanyian itu direkam dua tahun lalu dalam sebuah proyek di Sumba, lalu disimpan sebagai arsip dan kini dipakai dalam komposisi “Benua”. Tidak ada teks lirik yang ditulis; nyanyian tersebut hadir sebagai suara mentah, bukan sebagai kata-kata yang bisa dibaca.

Penggunaan arsip suara ini memberi lapisan berbeda pada lagu. Suara tradisi bertemu dengan lanskap elektronik modern. Kontras ini menjadi kekuatan utama “Benua”: perpaduan antara rekaman kampung dan produksi digital yang dingin.

Baca Juga  Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

“Benua” tidak menawarkan solusi atau ajakan bertindak. Lagu ini lebih seperti pernyataan sikap. Ia menyampaikan kegelisahan tentang manusia dan alam secara lugas, dan meninggalkan pendengar dengan satu kemungkinan yang tidak nyaman: dunia mungkin bisa berjalan lebih baik tanpa manusia.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik ‘Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan’

Redaksi

Bongkar Iwan Fals dan SWAMI: Lagu Protes yang Tetap Relevan Hingga Hari Ini

Preman Laut

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Kolaborasi Usman Hamid dan Reza Ryan di ‘Theory of Nothing’ Lahirkan Debut Single ‘Pahlawan’

Redaksi

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi