Indeks Konten
Di antara band yang muncul dari skena independen Bali dalam beberapa tahun terakhir, Feral Stripes menempati posisi yang cukup menarik. Musik mereka bergerak dalam spektrum post-punk yang tajam, dingin, tetapi juga reflektif. Ritmenya repetitif, gitar menjaga tegangan, dan vokal sering disampaikan hampir datar, seperti laporan singkat tentang dunia yang semakin sulit dipahami.
Debut mereka hadir melalui EP Skeptic Tank yang dirilis secara mandiri pada 27 September 2024. Band ini menyebutnya sebagai demo sekaligus perkenalan format utuh pertama. Rilisan tersebut menampilkan versi paling mentah dari post-punk mereka, seperti eksperimen yang ditangkap apa adanya.
Beberapa bulan kemudian lahir single Regulator pada 28 Februari 2025. Lagu ini justru mempertegas arah musikal mereka, dengan kolaborasi Pohon Tua sebagai vokal tambahan sekaligus produser melalui Pohon Tua Creatorium. Proses teknis dikerjakan oleh Windu Segara Senet sebagai engineer, mixing, dan mastering.
Perjalanan tersebut berlanjut pada album penuh Silicon Opera yang dirilis pada 23 Mei 2025. Album ini diproduseri oleh Pohon Tua Creatorium dengan Deny Surya sebagai engineer sekaligus penata mixing dan mastering. Dibanding rilisan sebelumnya, Silicon Opera menampilkan lapisan bunyi yang lebih rapi namun tetap mempertahankan atmosfer gelap dan monoton khas post-punk, dengan tema yang berkisar pada alienasi digital, post-power syndrome, dan tekanan hidup yang terasa tidak pernah benar-benar selesai.
Lirik dan Permainan Makna
Di antara rilisan tersebut, Regulator menjadi lagu yang paling menarik untuk dibaca lebih dekat. Penampilan live lagu ini yang saya saksikan sendiri di perhelatan The Rocktober di Antida Sound Garden tahun lalu memperlihatkan bagaimana tegangan bunyi mereka bekerja secara langsung di hadapan penonton.
Secara lirik, lagu ini bergerak dalam pola sederhana. Beberapa kalimat diulang dan kata “regulasi” muncul berkali-kali. Ungkapan seperti “peduli apa mereka”, “bicara tak mengarah”, dan “ku angkat kaki saja” membangun suasana kejenuhan terhadap bahasa kekuasaan yang terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Pendekatan seperti ini memang cukup akrab dalam tradisi post-punk. Banyak lagu dalam genre tersebut tidak berangkat dari keinginan menjelaskan persoalan secara rinci, melainkan dari dorongan menangkap suasana batin ketika sistem sosial terasa semakin sulit dipercaya.
Namun pembacaan terhadap lagu ini berubah ketika melihat materi visual yang dipublikasikan band. Dalam unggahan Instagram maupun official lyric video di kanal YouTube mereka, muncul kolase SPBU, antrean LPG, regulator gas, serta teks satir seperti “Pertamax sedang dalam pengoplosan”.
Dalam rangka ini, kata “regulator” tampak dimainkan dalam dua makna sekaligus: aturan negara dan alat yang menempel pada tabung gas.
Permainan makna tersebut membuat Regulator bergerak dari sekadar ekspresi kejenuhan menjadi komentar sosial yang lebih spesifik. Kolase SPBU, antrean LPG, dan regulator gas menunjuk pada situasi energi yang sangat konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Dus, lagu ini tidak lagi sepenuhnya berada di wilayah abstrak. Visual yang menyertainya memberi konteks bahwa kejenuhan yang diekspresikan dalam lirik berkaitan dengan persoalan distribusi energi dan kebijakan yang mengitarinya.
Di titik inilah Regulator mulai bergeser dari wilayah perasaan menuju wilayah satir.
Kejenuhan dan Paradoks Kritik
Kita tahu bahwa energi adalah sektor yang hampir selalu memerlukan regulasi kuat dari negara manapun di dunia. Distribusi bahan bakar, harga energi, hingga akses masyarakat jarang dibiarkan sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Tanpa regulasi, sektor ini cenderung dikendalikan oleh pemain besar yang memiliki sumber daya jauh lebih kuat.
Namun dalam Regulator, kata “regulasi” justru hadir sebagai simbol kejenuhan. Ia diulang seperti sesuatu yang tidak lagi dipercaya. Kalimat “regulasi… regulasi… tepat guna? tidak, tentu saja tidak” memperlihatkan kecurigaan terhadap bahasa kebijakan itu sendiri.
Saya berpendapat di sinilah letak ketegangan utama lagu ini. Kritik diarahkan pada regulasi, sementara isu yang disinggung melalui visual mereka justru merupakan bidang yang secara struktural memang memerlukan regulasi.
Dalam hemat saya, Feral Stripes pada titik tertentu tampak sedang mengkritik regulasi untuk sesuatu yang justru membutuhkan regulasi. Persoalan distribusi energi, akses bahan bakar, hingga pengaruh oligarki dalam sektor energi jarang muncul semata karena terlalu banyak aturan. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut justru muncul ketika regulasi gagal dijalankan atau ketika regulasi ditangkap oleh kepentingan tertentu.
Walhasil, kritik terhadap kebijakan energi dapat dipahami sebagai kritik terhadap cara regulasi dijalankan. Namun ketika kata “regulasi” diperlakukan seolah menjadi sumber persoalan itu sendiri, kritik tersebut berisiko mengaburkan perbedaan antara aturan yang diperlukan dan aturan yang gagal bekerja.
Di sinilah paradoks lagu ini muncul. Ia mengekspresikan kejenuhan terhadap bahasa kebijakan, tetapi menggunakan isu yang justru tidak mungkin dilepaskan dari regulasi itu sendiri.
Batas Kritik Post-Punk
Ambiguitas dalam wacana yang diangkat Feral Stripes memang tidak sepenuhnya diselesaikan oleh lagu. Liriknya tetap berbicara dengan bahasa yang sangat umum, sementara proses politik yang sebenarnya kompleks hampir tidak terlihat di dalam teks.
Regulator lebih memilih menjaga suasana sinis yang menjadi inti lagu. Dalam konteks estetika post-punk, pendekatan seperti ini memang lazim. Kemarahan tidak selalu diarahkan menjadi argumentasi yang rapi.
Di sinilah rupayanya batas jangkauan dari lagu ini terlihat. Ketika kritik terhadap kebijakan berubah menjadi kecurigaan terhadap regulasi secara umum, garis antara kritik struktural dan simplifikasi politik menjadi sangat tipis.

