Denpasastra.net

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Band punk asal Bali Marco merilis lagu daur ulang berjudul ‘Ujan’. Lagu tersebut dipublikasikan melalui kanal YouTube Marco Punx Bali. Rilisan ini diumumkan melalui media sosial Marco dan diproduksi melalui kerja sama Bali Sound Proofing dengan Posko Studio.

‘Ujan’ merupakan versi cover dari lagu berjudul ‘Hujan’ milik band Tatit. Lagu ini dipersembahkan untuk almarhum Komang Ali dan aslinya diciptakan oleh Ketut Slonog. Proses audionya sendiri direkam secara live, dengan tahap mixing dan mastering dikerjakan oleh Tude Artasedana.

Sedangkan produksi visual untuk materi videoklip sebagai pendukung rilis dikerjakan di bawah arahan Andy Duarsa, dengan penataan cahaya oleh Caprie Suci bersama Suci Production Team, serta melibatkan Bunda Bobib sebagai model. Proses produksi didukung oleh Rumah Suci, V2 Tanah Air, Kubuku Studio, dan Posko Studio, dengan Bali Sound Proofing terlibat dalam persiapan lokasi dan properti.

Marco merupakan band punk asal Bali yang aktif sejak 2008. Band ini dibentuk oleh I Komang Eka Darma Usadha atau Comar. Marco dikenal sebagai band punk yang menggunakan bahasa Bali dalam seluruh liriknya.

Formasi Marco saat ini terdiri dari Comar pada vokal dan gitar, I Made Gede Adi Kusuma pada gitar, I Komang Dedy Suryawan pada bass, dan I Made Ade Ananta Saputra pada drum. Sejak awal kemunculannya, Marco menempatkan bahasa Bali sebagai bahasa ekspresi utama dalam musik punk dan menggunakannya untuk membicarakan isu keseharian, sosial, dan budaya.

Dalam perjalanan bermusiknya, Marco telah merilis sejumlah karya yang beredar melalui kanal independen dan dokumentasi komunitas. Single ‘Tresna Setonden Mati’ misalnya dirilis pada 2015, disusul ‘De Ngutang Lulu Ngawag-Ngawag’ pada 2016 yang membahas persoalan sampah, serta ‘Jelema Serakah’ pada 2017.

Baca Juga  Hindia dan Metafiksi Baskara Putra: Saat Musik Jadi Percakapan Dua Arah

Marco kemudian merilis album penuh bertajuk Marco I Love Bali yang memuat sepuluh lagu berbahasa Bali dan menjadi rujukan utama dalam penampilan panggung mereka. Pada 2020, Marco merilis single ‘Punx Ci Nawang’ yang mengangkat kehidupan keluarga dan relasi domestik.

Selain aktivitas rekaman, Marco aktif tampil di berbagai gig komunitas dan ruang pertunjukan independen di Bali. Mereka terlibat dalam jejaring musik alternatif lokal dan kerap tampil dalam acara-acara musik independen yang mendokumentasikan perkembangan skena punk Bali.

Rilis lagu daur ulang ‘Ujan’ menandai kembalinya band punk ini dan menambah katalog karya Marco dalam menghidupkan kembali lagu-lagu yang dianggap relevan untuk konteks saat ini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Siap-Siap! Komunal Bakal Tampil di Bali Jumat Pekan Ini

Redaksi

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut
Berita

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Band punk asal Bali Marco merilis lagu daur ulang berjudul ‘Ujan’. Lagu tersebut dipublikasikan melalui kanal YouTube Marco Punx Bali. Rilisan ini diumumkan melalui media sosial Marco dan diproduksi melalui kerja sama Bali Sound Proofing dengan Posko Studio.

‘Ujan’ merupakan versi cover dari lagu berjudul ‘Hujan’ milik band Tatit. Lagu ini dipersembahkan untuk almarhum Komang Ali dan aslinya diciptakan oleh Ketut Slonog. Proses audionya sendiri direkam secara live, dengan tahap mixing dan mastering dikerjakan oleh Tude Artasedana.

Sedangkan produksi visual untuk materi videoklip sebagai pendukung rilis dikerjakan di bawah arahan Andy Duarsa, dengan penataan cahaya oleh Caprie Suci bersama Suci Production Team, serta melibatkan Bunda Bobib sebagai model. Proses produksi didukung oleh Rumah Suci, V2 Tanah Air, Kubuku Studio, dan Posko Studio, dengan Bali Sound Proofing terlibat dalam persiapan lokasi dan properti.

Marco merupakan band punk asal Bali yang aktif sejak 2008. Band ini dibentuk oleh I Komang Eka Darma Usadha atau Comar. Marco dikenal sebagai band punk yang menggunakan bahasa Bali dalam seluruh liriknya.

Formasi Marco saat ini terdiri dari Comar pada vokal dan gitar, I Made Gede Adi Kusuma pada gitar, I Komang Dedy Suryawan pada bass, dan I Made Ade Ananta Saputra pada drum. Sejak awal kemunculannya, Marco menempatkan bahasa Bali sebagai bahasa ekspresi utama dalam musik punk dan menggunakannya untuk membicarakan isu keseharian, sosial, dan budaya.

Dalam perjalanan bermusiknya, Marco telah merilis sejumlah karya yang beredar melalui kanal independen dan dokumentasi komunitas. Single ‘Tresna Setonden Mati’ misalnya dirilis pada 2015, disusul ‘De Ngutang Lulu Ngawag-Ngawag’ pada 2016 yang membahas persoalan sampah, serta ‘Jelema Serakah’ pada 2017.

Baca Juga  Tersesat di Bali Bersama Palm Theory

Marco kemudian merilis album penuh bertajuk Marco I Love Bali yang memuat sepuluh lagu berbahasa Bali dan menjadi rujukan utama dalam penampilan panggung mereka. Pada 2020, Marco merilis single ‘Punx Ci Nawang’ yang mengangkat kehidupan keluarga dan relasi domestik.

Selain aktivitas rekaman, Marco aktif tampil di berbagai gig komunitas dan ruang pertunjukan independen di Bali. Mereka terlibat dalam jejaring musik alternatif lokal dan kerap tampil dalam acara-acara musik independen yang mendokumentasikan perkembangan skena punk Bali.

Rilis lagu daur ulang ‘Ujan’ menandai kembalinya band punk ini dan menambah katalog karya Marco dalam menghidupkan kembali lagu-lagu yang dianggap relevan untuk konteks saat ini.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Tafsir Ulang Child – Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Preman Laut

Lagipula Hidup Akan Berakhir: Merayakan Kekalahan, Lalu Apa?

Preman Laut

Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri – rumahsakit di Televisi Nasional

Redaksi

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi