Denpasastra.net

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Made Mawut masuk dalam daftar Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan sebagai salah satu suara yang konsisten mengingatkan bahwa merdeka belum pernah benar-benar 100%. Di tengah budaya impor yang datang silih berganti —dari kultur Valentine sampai Netflix and chill— ia justru menaruh perhatian pada hal-hal yang lebih gelap dan sering disangkal: pelanggaran HAM, penghilangan ingatan, sejarah yang ditulis ulang, dan kehidupan sehari-hari yang makin penuh oksimoron.

Sejak era pra-Covid, Made Mawut bergerak sebagai troubadour jalanan Denpasar, melantunkan folk-blues dari ruang ke ruang, dari gerbang kampus hingga toko buku sempit. Blues dan folk yang ia rawat bukan nostalgia, melainkan bahasa perlawanan: gitar sederhana, harmonika yang meringis, lirik yang terdengar seperti pamflet gelap tapi bukan versi karnaval kemerdekaan, sebagai potret bangsa yang riuh di luar dan lapar di dalam rumah.

Pilihan estetik itu membuat karyanya berdiri berseberangan dengan euforia seremonial musisi seangkatannya di Bali. Lagu-lagunya tidak menawarkan pelarian atau resolusi cepat. Ia justru menahan tegangan, membiarkan rasa sesak menetap, dan menyodorkan ironi dengan humor gelap: kemarahan lokal yang bertemu keputusasaan global, dibawakan tanpa kemasan manis.

Sikap ini berlanjut hingga rilisan terbarunya di 2025 lewat mini album Dunia yang Lain Saat Ini. Empat lagu di dalamnya terasa seperti obrolan warung kopi dini hari: tanpa basa-basi, tanpa klimaks palsu. Repetitif, iya. Tapi justru di situlah kekuatannya: storytelling yang jujur, pahit, dan sadar bahwa tidak semua luka perlu disembuhkan, sebagian cukup diakui.

Di lanskap musik Bali 2025, Made Mawut bukan penanda tren. Ia bekerja sebagai pengingat. Bahwa di tengah kebisingan budaya, suara-suara alternatif seperti ini masih perlu didengar bukan untuk merasa nyaman, tapi untuk tetap waspada.

Baca Juga  Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Preman Laut

Lagu Lama ‘Surti-Tejo’ karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Redaksi

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi
Resensi

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Made Mawut masuk dalam daftar Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan sebagai salah satu suara yang konsisten mengingatkan bahwa merdeka belum pernah benar-benar 100%. Di tengah budaya impor yang datang silih berganti —dari kultur Valentine sampai Netflix and chill— ia justru menaruh perhatian pada hal-hal yang lebih gelap dan sering disangkal: pelanggaran HAM, penghilangan ingatan, sejarah yang ditulis ulang, dan kehidupan sehari-hari yang makin penuh oksimoron.

Sejak era pra-Covid, Made Mawut bergerak sebagai troubadour jalanan Denpasar, melantunkan folk-blues dari ruang ke ruang, dari gerbang kampus hingga toko buku sempit. Blues dan folk yang ia rawat bukan nostalgia, melainkan bahasa perlawanan: gitar sederhana, harmonika yang meringis, lirik yang terdengar seperti pamflet gelap tapi bukan versi karnaval kemerdekaan, sebagai potret bangsa yang riuh di luar dan lapar di dalam rumah.

Pilihan estetik itu membuat karyanya berdiri berseberangan dengan euforia seremonial musisi seangkatannya di Bali. Lagu-lagunya tidak menawarkan pelarian atau resolusi cepat. Ia justru menahan tegangan, membiarkan rasa sesak menetap, dan menyodorkan ironi dengan humor gelap: kemarahan lokal yang bertemu keputusasaan global, dibawakan tanpa kemasan manis.

Sikap ini berlanjut hingga rilisan terbarunya di 2025 lewat mini album Dunia yang Lain Saat Ini. Empat lagu di dalamnya terasa seperti obrolan warung kopi dini hari: tanpa basa-basi, tanpa klimaks palsu. Repetitif, iya. Tapi justru di situlah kekuatannya: storytelling yang jujur, pahit, dan sadar bahwa tidak semua luka perlu disembuhkan, sebagian cukup diakui.

Di lanskap musik Bali 2025, Made Mawut bukan penanda tren. Ia bekerja sebagai pengingat. Bahwa di tengah kebisingan budaya, suara-suara alternatif seperti ini masih perlu didengar bukan untuk merasa nyaman, tapi untuk tetap waspada.

Baca Juga  Deva Dianjaya Rilis Album Perdana Pendevasaan, Tawarkan Nuansa Baru Musik Patah Hati

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Pria Tidak Lagi Menjajah, Tapi Dijajah: Sebuah Resensi ‘Pria Dijajah Wanita’ Karya Kaimsasikun

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Redaksi

Apa Jadinya Jika Jakarta Jadi Kota Mati? Sebuah Resensi ‘Ode Buat Kota’ karya Bangkutaman

Preman Laut

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi