Denpasastra.net

Pembelotan Punk Pestolaer

Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu fase paling canggung di skena punk Jakarta 90-an terjadi ketika Pestolaer membelot secara musikal dan berhenti memainkan punk.

Pestolaer dibentuk pada 1992 oleh Taba (vokal), Nyoman (gitar), P.A. (bass), dan Boris (drum). Pada fase awalnya mereka menjadi bagian dari gelombang pertama punk rock di skena underground Jakarta.

Repertoar mereka keras, langsung dan berhutang pada pola yang dipopulerkan Sex Pistols. Dalam berbagai oral story yg dikisahkan saksi mata pada zamannya, Pestolaer mampu menarik massa cukup besar untuk ukuran gig punk yang masih sporadis dan setengah ilegal.

Perubahan terjadi sekitar 1994 ketika Nyoman keluar dan kemudian membentuk Planetbumi. Posisi gitar diisi Arya dan arah musikal Pestolaer bergeser ke wilayah indies dan britpop dengan referensi seperti The Charlatans dan The Stone Roses.

Pergeseran ini memicu resistensi. Dalam beberapa penampilan, band ini dilempari lumpur hingga air kencing oleh penonton yang menolak perubahan tersebut.

Dengan tambahan Arie Legowo (keyboard) dan Ebi (gitar), mereka merilis album Pestolaer pada 1995 dan Jang Doeloe pada 1997. Dua rilisan kaset ini menegaskan posisi mereka dalam gelombang awal indie rock Jakarta.

Band ini bubar pada 1998 dan kembali pada 2004 dengan formasi Ones (drum), Erlangga Ishander (gitar), Nanang (bass), dan Haryo (keyboard). Formasi ini merilis Tribute for You (2006).

Pada 2013 muncul Rhythm of Mine serta kompilasi Birth – School – Indie Rock – Death. Setelah proyek itu, Madava masuk mengisi bass dan formasi ini bertahan hingga kini.

Pada 2021 mereka merilis Indopunk yang kembali menampilkan punk secara mentah dan mentahbiskan dirinya sebagai unit punk yang mustahil dilewatkan bersanding dengan eksplorasi apik musikal ala punk lain di Indonesia semisal Antiseptic, SID, Marjinal, Endank Soekamti dll.

Baca Juga  Merayakan 25 Tahun Album OK Computer – Radiohead

Pestolaer mungkin pernah membelot secara musikal, tetapi mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan punk.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

Siap-Siap! Komunal Bakal Tampil di Bali Jumat Pekan Ini

Redaksi

Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Hidup Ketawa Cara Mens Rea

Preman Laut
Esai

Pembelotan Punk Pestolaer

Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu fase paling canggung di skena punk Jakarta 90-an terjadi ketika Pestolaer membelot secara musikal dan berhenti memainkan punk.

Pestolaer dibentuk pada 1992 oleh Taba (vokal), Nyoman (gitar), P.A. (bass), dan Boris (drum). Pada fase awalnya mereka menjadi bagian dari gelombang pertama punk rock di skena underground Jakarta.

Repertoar mereka keras, langsung dan berhutang pada pola yang dipopulerkan Sex Pistols. Dalam berbagai oral story yg dikisahkan saksi mata pada zamannya, Pestolaer mampu menarik massa cukup besar untuk ukuran gig punk yang masih sporadis dan setengah ilegal.

Perubahan terjadi sekitar 1994 ketika Nyoman keluar dan kemudian membentuk Planetbumi. Posisi gitar diisi Arya dan arah musikal Pestolaer bergeser ke wilayah indies dan britpop dengan referensi seperti The Charlatans dan The Stone Roses.

Pergeseran ini memicu resistensi. Dalam beberapa penampilan, band ini dilempari lumpur hingga air kencing oleh penonton yang menolak perubahan tersebut.

Dengan tambahan Arie Legowo (keyboard) dan Ebi (gitar), mereka merilis album Pestolaer pada 1995 dan Jang Doeloe pada 1997. Dua rilisan kaset ini menegaskan posisi mereka dalam gelombang awal indie rock Jakarta.

Band ini bubar pada 1998 dan kembali pada 2004 dengan formasi Ones (drum), Erlangga Ishander (gitar), Nanang (bass), dan Haryo (keyboard). Formasi ini merilis Tribute for You (2006).

Pada 2013 muncul Rhythm of Mine serta kompilasi Birth – School – Indie Rock – Death. Setelah proyek itu, Madava masuk mengisi bass dan formasi ini bertahan hingga kini.

Pada 2021 mereka merilis Indopunk yang kembali menampilkan punk secara mentah dan mentahbiskan dirinya sebagai unit punk yang mustahil dilewatkan bersanding dengan eksplorasi apik musikal ala punk lain di Indonesia semisal Antiseptic, SID, Marjinal, Endank Soekamti dll.

Baca Juga  Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Pestolaer mungkin pernah membelot secara musikal, tetapi mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan punk.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Redaksi

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Bukan Sekadar Festival Musik: Catatan dari UVJF 2025 dan Polemik Jazz Indonesia

Preman Laut

Dua Gitar, Dua Suara, Satu Nubuat ala Onki Chrisna & Yansanjaya

Preman Laut

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Rima Ababil Homicide: Membongkar Kekerasan Rezim & Kasus Munir

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi