Denpasastra.net

Apa yang Diperingatkan Navicula di ‘Metropolutan’ Kini Terjadi di Bali

Bali hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ia bergerak menuju kondisi yang dulu sulit dibayangkan. Dan cara kita membaca krisis dalam lagu ‘Metropolutan’ selama ini keliru.

Kota Denpasar khususnya, kini sedang menghadapi krisis seperti yang diungkap dalam lagu ini. Bagaimana tidak, di titik nol jantung kota, banjir bandang melanda pada September lalu sampai mengakibatkan korban jiwa. Di jalan arteri yang menghubungkan Denpasar dengan Kab. Badung seperti Imam Bonjol misalnya, kemacetan meledak setiap hari sampai warga kodya menyebutnya ‘jalur neraka’.

Belakangan ini, penutupan TPA Suwung membuat sampah menumpuk di sudut kota. Tak punya pilihan, warga ramai-ramai mulai membakarnya dengan terpaksa. Pembakaran sampah ini jelas menghasilkan polutan udara, partikel halus dan senyawa toksik yang berbahaya untuk anak dan lansia.

Dus, apa yang dulu lagu ini tujukan untuk kota besar seperti Jakarta, kini menjadi cermin yang memantulkan krisis lingkungan di Bali.

Empat belas tahun berselang, ‘Metropolutan’ sukses membangun rasa cemas kita tentang krisis. Namun di sisi lain, ia terbukti gagal mengubah apa-apa karena kritiknya berhenti pada asumsi karakter warga kota yang ‘sibuk berlari sampai mati’ dan cuek pada apa yang terjadi.

Ia membuat kita cemas, tetapi tidak memberi arah tentang siapa yang perlu dimintai tanggung jawab. Dengan menyalahkan individu, kritik bergeser dari sistem ke perilaku. Pada saat yang sama, pengelola kota terbebas dari tanggung jawab.

Dan ketika pemerintah daerah tidak lagi menjadi pusat kritik, sistem yang bermasalah terus berjalan tanpa koreksi.

Menurut ahli lontar Bali Sugi Lanus leluhur Bali sejak dahulu sudah memiliki logika pemilahan sampah yang jelas, termasuk aturan tentang apa yang boleh dibakar, dikubur atau tidak boleh dibuang ke air. Dalam modus itu, mengelola sampah adalah bagian dari cara hidup.

Baca Juga  Siap-Siap! Komunal Bakal Tampil di Bali Jumat Pekan Ini

Kalaupun hari ini terjadi sebaliknya, persoalannya bukan pada masyarakat yang tidak tahu, melainkan pada sistem yang memutus pengetahuan itu dari praktik sehari-hari.

Dan selama aktor di balik sistem ini tidak pernah benar-benar ditunjuk, krisis akan terus berulang dengan kekeliruan yang terus diarahkan ke tempat yang salah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Ihsan Jarot

Kosong (1996): Lagu Pure Saturday yang Menyimpan Trauma Akhir Orde Baru

Preman Laut

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Justin Gabriel Ritonga
Resensi

Apa yang Diperingatkan Navicula di ‘Metropolutan’ Kini Terjadi di Bali

Bali hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ia bergerak menuju kondisi yang dulu sulit dibayangkan. Dan cara kita membaca krisis dalam lagu ‘Metropolutan’ selama ini keliru.

Kota Denpasar khususnya, kini sedang menghadapi krisis seperti yang diungkap dalam lagu ini. Bagaimana tidak, di titik nol jantung kota, banjir bandang melanda pada September lalu sampai mengakibatkan korban jiwa. Di jalan arteri yang menghubungkan Denpasar dengan Kab. Badung seperti Imam Bonjol misalnya, kemacetan meledak setiap hari sampai warga kodya menyebutnya ‘jalur neraka’.

Belakangan ini, penutupan TPA Suwung membuat sampah menumpuk di sudut kota. Tak punya pilihan, warga ramai-ramai mulai membakarnya dengan terpaksa. Pembakaran sampah ini jelas menghasilkan polutan udara, partikel halus dan senyawa toksik yang berbahaya untuk anak dan lansia.

Dus, apa yang dulu lagu ini tujukan untuk kota besar seperti Jakarta, kini menjadi cermin yang memantulkan krisis lingkungan di Bali.

Empat belas tahun berselang, ‘Metropolutan’ sukses membangun rasa cemas kita tentang krisis. Namun di sisi lain, ia terbukti gagal mengubah apa-apa karena kritiknya berhenti pada asumsi karakter warga kota yang ‘sibuk berlari sampai mati’ dan cuek pada apa yang terjadi.

Ia membuat kita cemas, tetapi tidak memberi arah tentang siapa yang perlu dimintai tanggung jawab. Dengan menyalahkan individu, kritik bergeser dari sistem ke perilaku. Pada saat yang sama, pengelola kota terbebas dari tanggung jawab.

Dan ketika pemerintah daerah tidak lagi menjadi pusat kritik, sistem yang bermasalah terus berjalan tanpa koreksi.

Menurut ahli lontar Bali Sugi Lanus leluhur Bali sejak dahulu sudah memiliki logika pemilahan sampah yang jelas, termasuk aturan tentang apa yang boleh dibakar, dikubur atau tidak boleh dibuang ke air. Dalam modus itu, mengelola sampah adalah bagian dari cara hidup.

Baca Juga  Dua Gitar, Dua Suara, Satu Nubuat ala Onki Chrisna & Yansanjaya

Kalaupun hari ini terjadi sebaliknya, persoalannya bukan pada masyarakat yang tidak tahu, melainkan pada sistem yang memutus pengetahuan itu dari praktik sehari-hari.

Dan selama aktor di balik sistem ini tidak pernah benar-benar ditunjuk, krisis akan terus berulang dengan kekeliruan yang terus diarahkan ke tempat yang salah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Melancholic Bitch: Band Mitos Ini Menolak Jadi Mitos

Preman Laut

Fanfic Dalam Esensi Kafkaesque

Ervin Ruhlelana

Benua dan Dunia Tanpa Manusia

Preman Laut

Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Redaksi

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi