Denpasastra.net

Apa Jadinya Jika Jakarta Jadi Kota Mati? Sebuah Resensi ‘Ode Buat Kota’ karya Bangkutaman

Setiap tahun, jutaan orang meninggalkan Jakarta menjelang Idul Fitri.

Jalanan kosong, aktivitas berhenti, lalu lintas hampir nihil adalah pemandangan yang nyaris mustahil dijumpai, terutama di Jakarta era 2010-an silam saat kemacetan sudah menjadi kondisi harian.

Videoklip ‘Ode Buat Kota’ dari lagu orisinil karya Bangkutaman merekam situasi ini.

Disutradarai oleh Anggun Priambodo, videoklip ini digarap dengan pendekatan multi-kamera dari berbagai kontributor, dengan konsep visual yang terinspirasi dari karya fotografi Paul Kadarisman.

Pengambilan gambar dilakukan pada pagi hari pertama Lebaran 2010, saat kota kehilangan arusnya.

Dari catatan @thejadugar disebutkan bahwa tim kamera tersebar di berbagai titik seperti Lebak Bulus, Jalan Panjang, Kebayoran, Blok M, Sudirman–Thamrin, Pancoran, Matraman, hingga Gajah Mada. Semua merekam kondisi yang sama: Jakarta tanpa kepadatan.

Uniknya videoklip ini menampilkan paradoks dua lapisan yang berjalan bersamaan. Visual jalanan kosong dihadapkan dengan running text berisi data kepadatan penduduk, pertumbuhan kendaraan, dan kebutuhan penambahan jalan.

Jelas bahwa data ini bukan sekedar pelengkap, tetapi kontras langsung. Layar menunjukkan kota yang lengang, sementara teks menunjukkan tekanan yang terus meningkat.

Dari pengalaman saya pribadi lahir dan dibesarkan di ibukota, Jakarta kala itu memang sudah memasuki fase kemacetan sistemik.

Betul bahwa Busway telah hadir sebagai saah satu solusi kemacetan, tetapi kala itu ia belum sepenuhnya terintegrasi sementara ketergantungan pada kendaraan pribadi terus meningkat.

Patut dicatat bahwa kekosongan dalam video ini bukan kondisi asli kota, melainkan jeda akibat eksodus Lebaran. Tentu setelah momen tahunan ini berlalu, Jakarta akan kembali padat.

Enam belas tahun berselang sejak videoklip dan lagu ini dirilis, pola kepadatan urban telah meluas. Bandung, Surabaya, Medan, Palembang sampai Denpasar, Bali mengalami tekanan serupa, menghadapi kepadatan penduduk dan kemacetan yang semakin sering.

Baca Juga  Positivisme Palsu 'Carry On' ala Soul and Kith

Dus, lagu Ode Buat Kota tidak lagi sekedar bicara tentang kota Jakarta. Ia menjadi catatan tentang kota-kota yang tumbuh lebih cepat daripada kemampuannya menampung beban.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut
Resensi

Apa Jadinya Jika Jakarta Jadi Kota Mati? Sebuah Resensi ‘Ode Buat Kota’ karya Bangkutaman

Setiap tahun, jutaan orang meninggalkan Jakarta menjelang Idul Fitri.

Jalanan kosong, aktivitas berhenti, lalu lintas hampir nihil adalah pemandangan yang nyaris mustahil dijumpai, terutama di Jakarta era 2010-an silam saat kemacetan sudah menjadi kondisi harian.

Videoklip ‘Ode Buat Kota’ dari lagu orisinil karya Bangkutaman merekam situasi ini.

Disutradarai oleh Anggun Priambodo, videoklip ini digarap dengan pendekatan multi-kamera dari berbagai kontributor, dengan konsep visual yang terinspirasi dari karya fotografi Paul Kadarisman.

Pengambilan gambar dilakukan pada pagi hari pertama Lebaran 2010, saat kota kehilangan arusnya.

Dari catatan @thejadugar disebutkan bahwa tim kamera tersebar di berbagai titik seperti Lebak Bulus, Jalan Panjang, Kebayoran, Blok M, Sudirman–Thamrin, Pancoran, Matraman, hingga Gajah Mada. Semua merekam kondisi yang sama: Jakarta tanpa kepadatan.

Uniknya videoklip ini menampilkan paradoks dua lapisan yang berjalan bersamaan. Visual jalanan kosong dihadapkan dengan running text berisi data kepadatan penduduk, pertumbuhan kendaraan, dan kebutuhan penambahan jalan.

Jelas bahwa data ini bukan sekedar pelengkap, tetapi kontras langsung. Layar menunjukkan kota yang lengang, sementara teks menunjukkan tekanan yang terus meningkat.

Dari pengalaman saya pribadi lahir dan dibesarkan di ibukota, Jakarta kala itu memang sudah memasuki fase kemacetan sistemik.

Betul bahwa Busway telah hadir sebagai saah satu solusi kemacetan, tetapi kala itu ia belum sepenuhnya terintegrasi sementara ketergantungan pada kendaraan pribadi terus meningkat.

Patut dicatat bahwa kekosongan dalam video ini bukan kondisi asli kota, melainkan jeda akibat eksodus Lebaran. Tentu setelah momen tahunan ini berlalu, Jakarta akan kembali padat.

Enam belas tahun berselang sejak videoklip dan lagu ini dirilis, pola kepadatan urban telah meluas. Bandung, Surabaya, Medan, Palembang sampai Denpasar, Bali mengalami tekanan serupa, menghadapi kepadatan penduduk dan kemacetan yang semakin sering.

Baca Juga  Kolaborasi Usman Hamid dan Reza Ryan di 'Theory of Nothing' Lahirkan Debut Single 'Pahlawan'

Dus, lagu Ode Buat Kota tidak lagi sekedar bicara tentang kota Jakarta. Ia menjadi catatan tentang kota-kota yang tumbuh lebih cepat daripada kemampuannya menampung beban.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Tafsir Ulang Child – Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Preman Laut

Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat ‘Mahadewi’

Preman Laut

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Preman Laut

Refleksikan Banjir Besar di Bali, Dialog Dini Hari Rilis Single “Bandang”

Redaksi

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Dari Chaos Menuju Disiplin: Punk Era Baru di Lagu ‘Berlari’ Milik Scared Of Bums

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi