Sheila On 7 tidak selalu mengajarkan cara menang dalam bercinta. Mereka justru lebih sering menunjukkan keberanian mengakui kekalahan secara terbuka.
Ketika banyak lagu patah hati dalam pop mainstream sibuk menyalahkan atau menuntut kembali cinta yang hilang, Sheila On 7 berkali-kali memilih mundur untuk menjaga kebahagiaan orang lain. Di tangan mereka, cinta tidak selalu dimenangkan dengan bertahan paling lama, melainkan dengan kesediaan melepaskan pada saat yang tepat.
Jika dalam banyak narasi pop cinta diperlakukan seperti kompetisi emosional soal siapa yang paling keras bertahan dialah pemenangnya, maka dalam lagu-lagu Sheila On 7 yang justru dirayakan adalah keberanian mengakui batas.
Simak saja debut hit ikonik “Dan.” Lagu ini melambungkan Sheila On 7 pada awal karier mereka. Tokoh utama dalam lagu tersebut sadar bahwa ia telah melukai seseorang yang ia cintai. Alih-alih membela diri, ia memilih menyingkir. Ia menempatkan dirinya sebagai antagonis, bersedia dihapus dari cerita agar “kau” yang di seberang sana tetap bersinar.
Pola yang sama muncul kembali dalam “Sephia.” Tokoh “aku” memahami posisinya yang curang. Ia tidak mencoba mempertahankan hubungan yang sejak awal rapuh. Ia memilih pergi sebelum semuanya benar-benar hancur.
Bahkan ketika kecemburuan meledak dalam “Bila Kau Tak di Sampingku,” yang diakui tetaplah egonya sendiri. Lagu ini tidak memposisikan tokohnya sebagai korban yang disakiti. Tidak ada upaya memainkan peran sebagai pihak yang paling menderita.
Dalam “Berhenti Berharap,” tokoh “aku” bahkan tidak lagi berputar-putar. Ia menerima kekalahannya secara langsung. Tidak ada ilusi bahwa cinta bisa dipaksakan kembali.
Puncaknya hadir dalam “Lapang Dada.” Di sini luka tidak lagi dipelihara sebagai amarah. Ia dirapikan menjadi penerimaan yang tenang. Kekalahan tidak dipandang sebagai tragedi, melainkan sebagai bentuk kedewasaan emosional.
Cara pandang semacam ini mungkin tidak lahir dari ruang hampa. Sheila On 7 tumbuh di Yogyakarta, sebuah ruang kultural yang dipengaruhi tradisi filsafat Jawa: alus, menahan diri, dan cenderung menghindari konfrontasi terbuka.
Dalam etika Jawa terdapat konsep nrimo dan legawa, yakni menerima bagian hidup tanpa harus memenangkannya. Ada pula tepo seliro, kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain.
Nilai-nilai ini mungkin tidak pernah disebut secara eksplisit dalam lirik Sheila On 7. Namun ia terbaca samar dan konsisten. Kalah bukan selalu tanda kelemahan. Ia bisa menjadi keputusan sadar untuk tidak merebut sesuatu yang memang tidak lagi memilih kita. Ia juga bisa menjadi cara untuk tidak membakar jembatan hanya demi terlihat kuat.
Barangkali itu sebabnya Sheila On 7 tetap relevan hingga hari ini. Mereka tidak menjual fantasi kemenangan romantis.
Mereka menyanyikan pengalaman yang lebih sunyi: saat seseorang harus mundur dan kalah, tetapi tetap menjaga martabatnya.
Sheila on 7 - Dan (Official Music Video)
Listen to new releases from Sony Music Entertainment Indonesia now: https://linktr.ee/sonymusicid
Watch more video from Sony Music Entertainment Indonesia: https://youtube.com/playlist?list=PLzrMYyHmLhGCs1wIgrV-M7gH40aTdpRrf&si=PqLHEKcqi-6Mjpc7
SUBSCRIBE:
https://smei.lnk.to/YouTube
Connect with Sony Music Entertainment Indonesia on:
Instagram : ...https://smei.lnk.to/Instagram
TikTok : https://smei.lnk.to/TikTok
Facebook : https://smei.lnk.to/Facebook
Twitter : https://smei.lnk.to/Twitter
#sheilaon7 #Dan #pop #musicvideo
Lyrics:
Dan..
Dan, bila esok, datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda
Dan, perlahan kaupun lupakan aku
Mimpi burukmu, dimana t'lah ku tancapkan duri tajam
Kaupun menangis, menangis sedih
Maafkan aku
Dan, bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu, menepikanmu
Maafkan aku.
Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Dan, bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu sadarkan kau di sini kupun terluka
Melupakanmu menepikanmu
Maafkan akuShow More
