Denpasastra.net

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Ada keraguan saya pribadi tiap kali tergoda hendak menulis soal Taylor Swift di Denpasastra.

Bukan karena kekurangan topik yang bisa digali darinya. Tapi karena bayangan lama yang masih menghantui banyak orang: bahwa musik pop terlalu ringan untuk dibaca secara serius.

Namun “The Fate of Ophelia” menunjukkan sesuatu yang terlalu menarik untuk saya lewatkan. Lagu pop berdurasi beberapa menit ini bagi saya tiba-tiba terasa seperti pintu kecil menuju kanon sastra.

Pasalnya, Swift mengambil salah satu karakter paling tragis dalam kesusastraan Barat, Ophelia dari lakon Hamlet karya William Shakespeare, untuk lalu membalikkan nasibnya lewat lagu.

Dalam drama Shakespeare, Ophelia adalah putri bangsawan dan kekasih Hamlet. Ia hidup di tengah intrik istana yang perlahan menghancurkan hidupnya.

Ia dimanfaatkan oleh ayahnya, Polonius. Hamlet sendiri memperlakukannya dengan ambiguitas yang kejam.

Setelah ayahnya terbunuh dan hubungannya runtuh, Ophelia kehilangan kewarasan. Ia akhirnya tenggelam di sungai.

Dari tragedi singkat itulah dunia mengenal salah satu figur paling kuat dalam sejarah sastra Barat.

Uniknya, di lagu ini Swift tidak sekadar menyebut nama Ophelia sebagai referensi sastra. Ia justru sedang menulis ulang mitologinya.

Dalam tragedi Shakespeare, Ophelia tenggelam dan mati. Dalam lagu ini, nasib itu dibalik.

Pada bagian lirik seperti “You dug me out of my grave and saved my heart from the fate of Ophelia” mengubah tragedi itu menjadi kisah penyelamatan.

Sungai Ophelia juga ikut berubah makna. Ketika Swift menyanyikan “I might’ve drowned in the melancholy”, air menjadi metafora kesedihan. Bukan sungai literal, melainkan pada kondisi batin.

Di titik ini musik pop terbukti bisa bekerja sebagai medium transkreasi sastra. Ia tidak menyalin teks lama, tetapi memindahkan simbolnya ke bahasa emosi yang lebih dekat dengan pengalaman sekarang.

Baca Juga  Menengok Batin Para Pengarang

Dan di situlah kejutan kecilnya: berabad-abad setelah tenggelam di sungai, Ophelia tiba-tiba muncul lagi dan sudah tembus 1 milyar streaming di Spotify.

Kali ini tidak untuk mati, tetapi untuk diselamatkan dengan ban pelampung!

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut

Bongkar Iwan Fals dan SWAMI: Lagu Protes yang Tetap Relevan Hingga Hari Ini

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Preman Laut

Jembrana Luncurkan Anthem ‘Demi Jembrana, Pasti Bisa!’ pada Malam Pergantian Tahun

Redaksi
Resensi

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Ada keraguan saya pribadi tiap kali tergoda hendak menulis soal Taylor Swift di Denpasastra.

Bukan karena kekurangan topik yang bisa digali darinya. Tapi karena bayangan lama yang masih menghantui banyak orang: bahwa musik pop terlalu ringan untuk dibaca secara serius.

Namun “The Fate of Ophelia” menunjukkan sesuatu yang terlalu menarik untuk saya lewatkan. Lagu pop berdurasi beberapa menit ini bagi saya tiba-tiba terasa seperti pintu kecil menuju kanon sastra.

Pasalnya, Swift mengambil salah satu karakter paling tragis dalam kesusastraan Barat, Ophelia dari lakon Hamlet karya William Shakespeare, untuk lalu membalikkan nasibnya lewat lagu.

Dalam drama Shakespeare, Ophelia adalah putri bangsawan dan kekasih Hamlet. Ia hidup di tengah intrik istana yang perlahan menghancurkan hidupnya.

Ia dimanfaatkan oleh ayahnya, Polonius. Hamlet sendiri memperlakukannya dengan ambiguitas yang kejam.

Setelah ayahnya terbunuh dan hubungannya runtuh, Ophelia kehilangan kewarasan. Ia akhirnya tenggelam di sungai.

Dari tragedi singkat itulah dunia mengenal salah satu figur paling kuat dalam sejarah sastra Barat.

Uniknya, di lagu ini Swift tidak sekadar menyebut nama Ophelia sebagai referensi sastra. Ia justru sedang menulis ulang mitologinya.

Dalam tragedi Shakespeare, Ophelia tenggelam dan mati. Dalam lagu ini, nasib itu dibalik.

Pada bagian lirik seperti “You dug me out of my grave and saved my heart from the fate of Ophelia” mengubah tragedi itu menjadi kisah penyelamatan.

Sungai Ophelia juga ikut berubah makna. Ketika Swift menyanyikan “I might’ve drowned in the melancholy”, air menjadi metafora kesedihan. Bukan sungai literal, melainkan pada kondisi batin.

Di titik ini musik pop terbukti bisa bekerja sebagai medium transkreasi sastra. Ia tidak menyalin teks lama, tetapi memindahkan simbolnya ke bahasa emosi yang lebih dekat dengan pengalaman sekarang.

Baca Juga  Menengok Batin Para Pengarang

Dan di situlah kejutan kecilnya: berabad-abad setelah tenggelam di sungai, Ophelia tiba-tiba muncul lagi dan sudah tembus 1 milyar streaming di Spotify.

Kali ini tidak untuk mati, tetapi untuk diselamatkan dengan ban pelampung!

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Membongkar Mitos ‘Selera Musik Berhenti di Usia 30 Tahun’

Preman Laut

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Preman Laut

Made Adnyana Ole Terbitkan Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’

Redaksi

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi