Denpasastra.net

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Catur Hari Wijaya masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai musisi yang bergerak di wilayah tradisi dan kolaborasi lintas bunyi.

Identitas bermusiknya selama ini terbaca lewat kerja dengan instrumen etnik dan pendekatan yang dekat dengan praktik komunitas, bukan melalui pusaran skena indie atau logika rilisan arus utama.

Sebagai musisi ‘nomad’, Catur kerap mengolah narasi tradisional dalam dialog dengan rhythm yang repetitif dan pendekatan kolaboratif yang cair. Terminologi nomad disini dalam praktiknya tidak hadir sebagai genre baku, melainkan sebagai cara ia bergerak: berpindah ruang, konteks, dan perjumpaan bunyi.

Dus, musik dalam semesta kosmos-mikrokosmos Catur tampaknya tidak selalu diarahkan sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses sebagau sesuatu yang dijalani, dimainkan, dan dihadirkan ulang dalam berbagai situasi.

Lapisan spiritual dan healing juga muncul sebagai bagian dari caranya bermusik, terutama dalam konteks pertunjukan intim, sesi ritual, atau pertemuan berbasis pengalaman dengar. Namun lapisan ini tidak tampil sebagai klaim besar, melainkan sebagai konsekuensi dari kerja ritmis yang berulang, tubuh yang terlibat, dan relasi langsung dengan ruang serta alam sekitar.

Simak saja single terbarunya, Ayo Obah, yang dirilis baru beberapa hari lau. Lagu ini dapat dibaca sebagai penanda kecil dari praktik tersebut: sebuah ajakan untuk bergerak, bekerja, dan menjalani laku.

Tidak ada perubahan arah yang drastis; yang ada justru kesinambungan antara musik, keseharian, dan cara ia menempatkan bunyi sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai pernyataan estetika yang ingin dipusatkan pada sorotan.

Dalam daftar ini, Catur dicatat bukan sebagai figur dengan gebrakan besar sepanjang tahun, melainkan sebagai bagian dari spektrum musik Bali 2025 yang hadir tidak dominan, tidak selalu ramai dibicarakan, namun terus berlangsung.

Baca Juga  The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bongkar Iwan Fals dan SWAMI: Lagu Protes yang Tetap Relevan Hingga Hari Ini

Preman Laut

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Bukan Sekadar Festival Musik: Catatan dari UVJF 2025 dan Polemik Jazz Indonesia

Preman Laut

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut

Bali Music Forum Dibentuk: Apa yang Bisa Kita Berdayakan Darinya?

Redaksi
Resensi

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Catur Hari Wijaya masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai musisi yang bergerak di wilayah tradisi dan kolaborasi lintas bunyi.

Identitas bermusiknya selama ini terbaca lewat kerja dengan instrumen etnik dan pendekatan yang dekat dengan praktik komunitas, bukan melalui pusaran skena indie atau logika rilisan arus utama.

Sebagai musisi ‘nomad’, Catur kerap mengolah narasi tradisional dalam dialog dengan rhythm yang repetitif dan pendekatan kolaboratif yang cair. Terminologi nomad disini dalam praktiknya tidak hadir sebagai genre baku, melainkan sebagai cara ia bergerak: berpindah ruang, konteks, dan perjumpaan bunyi.

Dus, musik dalam semesta kosmos-mikrokosmos Catur tampaknya tidak selalu diarahkan sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses sebagau sesuatu yang dijalani, dimainkan, dan dihadirkan ulang dalam berbagai situasi.

Lapisan spiritual dan healing juga muncul sebagai bagian dari caranya bermusik, terutama dalam konteks pertunjukan intim, sesi ritual, atau pertemuan berbasis pengalaman dengar. Namun lapisan ini tidak tampil sebagai klaim besar, melainkan sebagai konsekuensi dari kerja ritmis yang berulang, tubuh yang terlibat, dan relasi langsung dengan ruang serta alam sekitar.

Simak saja single terbarunya, Ayo Obah, yang dirilis baru beberapa hari lau. Lagu ini dapat dibaca sebagai penanda kecil dari praktik tersebut: sebuah ajakan untuk bergerak, bekerja, dan menjalani laku.

Tidak ada perubahan arah yang drastis; yang ada justru kesinambungan antara musik, keseharian, dan cara ia menempatkan bunyi sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai pernyataan estetika yang ingin dipusatkan pada sorotan.

Dalam daftar ini, Catur dicatat bukan sebagai figur dengan gebrakan besar sepanjang tahun, melainkan sebagai bagian dari spektrum musik Bali 2025 yang hadir tidak dominan, tidak selalu ramai dibicarakan, namun terus berlangsung.

Baca Juga  Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik 'Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan'

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Preman Laut

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Kosong (1996): Lagu Pure Saturday yang Menyimpan Trauma Akhir Orde Baru

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi