Denpasastra.net

Kaleidoskop Denpasastra 2025

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

S.H.I.T.H.E.A.D masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai musisi pendatang baru yang muncul dari lingkungan komunitas surf, skate, punk dan coffee di kawasan Bukit. Di area Bali selatan inilah ruang di mana pergaulan, pekerajan, dan musik saling bersinggungan tanpa batas yang rapi.

S.H.I.T.H.E.A.D tumbuh dari lingkar pertemanan di BGS Bali sebagai simpul sosial sekaligus ruang bertemunya energi musik keras di area Uluwatu dan sekitarnya. Band yang dimotori Bagus (gitar), Kevin (gitar), Ricky (drum), Iqbal (bass) dan Abeng (vokal) pertama kali terlacak tampil di acara Rip Curl pada Agustus silam, sebelum kemudian muncul di Gimme Shelter, Amplitude dan beberapa panggung lain.

Sebagai unit punk mentah yang baru saja menetas, S.H.I.T.H.E.A.D memang belum membawa histori dan mitologi panjang. Namun dari apa yang saya saksikan langsung di sejumlah aksi panggungnya, mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka tampak enteng memainkan empat nomor original masing-masing bertajuk Heart Stopper, Fight, Gambling, dan Television Sucks. Meski belum dilepas sebagai rilisan resmi, materi mereka terdengar cukup solid untuk ukuran band baru.

Dalam fantasi saya, judul-judul ini membawa aroma punk yang lugas sama seperti nama band-nya sendiri sudah seperti disclaimer bahwa nalar akan ditabrak tanpa rem: pendek, berisik, dan langsung menusuk akal sebelum sempat berpikir.

Adalah Heart Stopper memperlakukan patah hati sebagai serangan jantung estetis, sebuah tipikal nomor punk romantik yang memilih meninju balik alih-alih meratap cengeng pada kisah romansa. Fight jadi judul yang menggoda dan bisa dibaca sebagai perkelahian literal, bisa juga kelelahan struktural hidup modern. Gambling lantas mengingatkan pada tema-tema hc/punk 70-an, hidup sebagai meja judi yang selalu curang, membuka ruang kritik sosial yang kotor dan getir. Sementara Television Sucks terdengar seperti teriakan generasi MTV yang tak pernah benar-benar mati, mereka hanya malih rupa untuk meninju medium yang sudah berganti rupa, tapi pengaruhnya masih menghantui.

Baca Juga  Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Jika empat judul ini kelak disusun sebagai satu EP, polanya sudah tampak: tubuh yang mogok bekerja, sistem yang menekan, pelarian berisiko, lalu paranoia budaya pop. Sebuah narasi kecil tentang manusia urban yang meleleh pelan-pelan di pulau Dewata yang kian kapitalistik.

Di atas panggung, materi mereka bekerja dengan cukup baik. Permainan teknis yang tidak selalu rapi, kerap canggung, lebih sering terdengar mabuk, justru memperlihatkan bahwa S.H.I.T.H.E.A.D sudah memiliki bekal yang memadai untuk terus mengembangkan repertoarnya di panggung berikutnya. Atau, pada titik tertentu, mereka memang don’t give a shit soal kerapian itu sendiri.

Dalam daftar ini, S.H.I.T.H.E.A.D dicatat bukan karena pencapaian besar, melainkan sebagai penanda munculnya band baru yang mulai menemukan jalur panggungnya di 2025 dengan organik sambil jalan membentuk jati dirinya sendiri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Preman Laut

Efek Rumah Kaca Merekam Cara-Cara Teror Warga Sipil Lewat ‘Di Udara’

Preman Laut

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Antida Sound Garden Kembali Hadir Setelah 13 Tahun

Redaksi

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut
Resensi

Kaleidoskop Denpasastra 2025

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

S.H.I.T.H.E.A.D masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan – Denpasastra’ sebagai musisi pendatang baru yang muncul dari lingkungan komunitas surf, skate, punk dan coffee di kawasan Bukit. Di area Bali selatan inilah ruang di mana pergaulan, pekerajan, dan musik saling bersinggungan tanpa batas yang rapi.

S.H.I.T.H.E.A.D tumbuh dari lingkar pertemanan di BGS Bali sebagai simpul sosial sekaligus ruang bertemunya energi musik keras di area Uluwatu dan sekitarnya. Band yang dimotori Bagus (gitar), Kevin (gitar), Ricky (drum), Iqbal (bass) dan Abeng (vokal) pertama kali terlacak tampil di acara Rip Curl pada Agustus silam, sebelum kemudian muncul di Gimme Shelter, Amplitude dan beberapa panggung lain.

Sebagai unit punk mentah yang baru saja menetas, S.H.I.T.H.E.A.D memang belum membawa histori dan mitologi panjang. Namun dari apa yang saya saksikan langsung di sejumlah aksi panggungnya, mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka tampak enteng memainkan empat nomor original masing-masing bertajuk Heart Stopper, Fight, Gambling, dan Television Sucks. Meski belum dilepas sebagai rilisan resmi, materi mereka terdengar cukup solid untuk ukuran band baru.

Dalam fantasi saya, judul-judul ini membawa aroma punk yang lugas sama seperti nama band-nya sendiri sudah seperti disclaimer bahwa nalar akan ditabrak tanpa rem: pendek, berisik, dan langsung menusuk akal sebelum sempat berpikir.

Adalah Heart Stopper memperlakukan patah hati sebagai serangan jantung estetis, sebuah tipikal nomor punk romantik yang memilih meninju balik alih-alih meratap cengeng pada kisah romansa. Fight jadi judul yang menggoda dan bisa dibaca sebagai perkelahian literal, bisa juga kelelahan struktural hidup modern. Gambling lantas mengingatkan pada tema-tema hc/punk 70-an, hidup sebagai meja judi yang selalu curang, membuka ruang kritik sosial yang kotor dan getir. Sementara Television Sucks terdengar seperti teriakan generasi MTV yang tak pernah benar-benar mati, mereka hanya malih rupa untuk meninju medium yang sudah berganti rupa, tapi pengaruhnya masih menghantui.

Baca Juga  Mendengarkan Album 'Painting of Life' - UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Jika empat judul ini kelak disusun sebagai satu EP, polanya sudah tampak: tubuh yang mogok bekerja, sistem yang menekan, pelarian berisiko, lalu paranoia budaya pop. Sebuah narasi kecil tentang manusia urban yang meleleh pelan-pelan di pulau Dewata yang kian kapitalistik.

Di atas panggung, materi mereka bekerja dengan cukup baik. Permainan teknis yang tidak selalu rapi, kerap canggung, lebih sering terdengar mabuk, justru memperlihatkan bahwa S.H.I.T.H.E.A.D sudah memiliki bekal yang memadai untuk terus mengembangkan repertoarnya di panggung berikutnya. Atau, pada titik tertentu, mereka memang don’t give a shit soal kerapian itu sendiri.

Dalam daftar ini, S.H.I.T.H.E.A.D dicatat bukan karena pencapaian besar, melainkan sebagai penanda munculnya band baru yang mulai menemukan jalur panggungnya di 2025 dengan organik sambil jalan membentuk jati dirinya sendiri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Deva Dianjaya Rilis Album Perdana Pendevasaan, Tawarkan Nuansa Baru Musik Patah Hati

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Redaksi

Dua Gitar, Dua Suara, Satu Nubuat ala Onki Chrisna & Yansanjaya

Preman Laut

Makna Lagu Posesif Naif Berubah karena Videoklip: Tafsir Lirik dan Identitas

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi