Denpasastra.net

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Milledenials masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan’ sebagai salah satu representasi generasi kiwari di skena musik independen Bali.

Sejak awal, band ini sudah memosisikan diri sebagai pernyataan sikap lewat namanya sendiri: Milledenials gabungan dari Millennials dan Denial sebagai sebuah rujukan pada generasi milenial akhir yang boleh jadi kerap hidup dalam penyangkalan terhadap berbagai aspek hidupnya. Gagasan ini, sebagaimana pernah mereka sampaikan dalam sejumlah wawancara media, tidak berhenti sebagai konsep, melainkan menjelma langsung ke dalam lagu-lagu mereka.

Simak saja emogaze yang mereka usung berjalan lamat-lamat sekaligus meriah. Melodinya terdengar sengaja ditahan dalam distorsi tebal sementara vokal jernih dan santai saja seperti melantunkan catatan harian remeh-temeh remaja yang dibacakan ulang. Kesannya sederhana, bahkan rapuh, tapi justru di situlah kekuatannya: Milledenials terasa akrab dan konstan, seperti tekanan yang hadir terus-menerus tanpa jeda untuk benar-benar bernapas.

Secara musikalitas, mereka bergerak di wilayah depresi yang muram dan dingin, repetitif, serta sejak awal nyaris menolak gagasan resolusi. Tidak ada klimaks yang menenangkan; yang ada justru perasaan tertahan, berulang, dan dibiarkan menetap. Dalam hemat saya, Milledenials memang tidak menawarkan pelarian. Mereka hanya memberi pengakuan jujur bahwa rasa sesak itu nyata—dan sering kali berlangsung lama.

Nuansa itu mengeras di EP terbaru mereka yang dilepas tahun ini, It’s Terrifying and It’s a Shame dengan menegaskan tema kecemasan, self-destruction, dan banalitas emosi sebagai sesuatu yang tidak perlu diselesaikan, cukup dihadapi dan diakui. EP ini terasa seperti potret ringkas dunia Milledenials: bising, lelah, tapi jujur.

Tahun ini, jejak mereka melebar dari Bali hingga panggung festival dunia dan mulai dibicarakan di berbagai ruang. Hal ini membuktikan bahwa keresahan yang lahir dari konteks lokal bisa bergema jauh tanpa kehilangan wataknya.

Baca Juga  Tafsir Ulang Child - Nidji: Anakmu Bukan Anakmu

Milledenials adalah entri pertama dari daftar Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan Denpasastra. Simak terus daftar selanjutnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

Cahaya dan Siluet Aneh Lagu Mati Suri – rumahsakit di Televisi Nasional

Redaksi

Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi
Resensi

Kaleidoskop Denpasastra 2025

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Milledenials masuk dalam daftar ‘Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan’ sebagai salah satu representasi generasi kiwari di skena musik independen Bali.

Sejak awal, band ini sudah memosisikan diri sebagai pernyataan sikap lewat namanya sendiri: Milledenials gabungan dari Millennials dan Denial sebagai sebuah rujukan pada generasi milenial akhir yang boleh jadi kerap hidup dalam penyangkalan terhadap berbagai aspek hidupnya. Gagasan ini, sebagaimana pernah mereka sampaikan dalam sejumlah wawancara media, tidak berhenti sebagai konsep, melainkan menjelma langsung ke dalam lagu-lagu mereka.

Simak saja emogaze yang mereka usung berjalan lamat-lamat sekaligus meriah. Melodinya terdengar sengaja ditahan dalam distorsi tebal sementara vokal jernih dan santai saja seperti melantunkan catatan harian remeh-temeh remaja yang dibacakan ulang. Kesannya sederhana, bahkan rapuh, tapi justru di situlah kekuatannya: Milledenials terasa akrab dan konstan, seperti tekanan yang hadir terus-menerus tanpa jeda untuk benar-benar bernapas.

Secara musikalitas, mereka bergerak di wilayah depresi yang muram dan dingin, repetitif, serta sejak awal nyaris menolak gagasan resolusi. Tidak ada klimaks yang menenangkan; yang ada justru perasaan tertahan, berulang, dan dibiarkan menetap. Dalam hemat saya, Milledenials memang tidak menawarkan pelarian. Mereka hanya memberi pengakuan jujur bahwa rasa sesak itu nyata—dan sering kali berlangsung lama.

Nuansa itu mengeras di EP terbaru mereka yang dilepas tahun ini, It’s Terrifying and It’s a Shame dengan menegaskan tema kecemasan, self-destruction, dan banalitas emosi sebagai sesuatu yang tidak perlu diselesaikan, cukup dihadapi dan diakui. EP ini terasa seperti potret ringkas dunia Milledenials: bising, lelah, tapi jujur.

Tahun ini, jejak mereka melebar dari Bali hingga panggung festival dunia dan mulai dibicarakan di berbagai ruang. Hal ini membuktikan bahwa keresahan yang lahir dari konteks lokal bisa bergema jauh tanpa kehilangan wataknya.

Baca Juga  Pembelotan Punk Pestolaer

Milledenials adalah entri pertama dari daftar Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan Denpasastra. Simak terus daftar selanjutnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Music Celebration 2026 Digelar di Antida Sound Garden, Perayaan Musik Awal Tahun Kembali Berlangsung

Redaksi

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut

Kolaborasi Usman Hamid dan Reza Ryan di ‘Theory of Nothing’ Lahirkan Debut Single ‘Pahlawan’

Redaksi

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi