Pernah ada suatu masa dimana saya mendengarkan dan mengartikan lagu ini dengan lurus.
‘Posesif’ adalah lagu retro pop dengan intro yang catchy, bertema tentang cinta gelap yang ekstrem.
Ditulis pada 1995 oleh Pepeng (Franki Indrasmoro) berangkat dari pengalaman personalnya tentang relasi yang terasa terlalu berlebihan, lagu ini baru menemukan tempatnya di album kedua Jangan Terlalu Naif (2000).
Sejatinya lagu ini terasa seperti cerita cinta yang cemburu berlebihan. Simak saja di bagian frasa ‘Kau harus mau’ serupa perintah; ‘Cuma aku’ adalah klaim eksklusif; ‘Bila ku mati, kau juga mati’ adalah dorongan fusi; sementara ‘Walau tak ada cinta’ menegaskan bahwa relasi tetap berjalan tanpa afeksi.
Jelas lagu ini mengisahkan tentang relasi satu arah yang tidak setara.
Sampai lalu semuanya berubah saat saya pertama kali menonton videoklipnya yang baru tayang di televisi di peralihan milenium.
Sedari awal, kamera merekam tubuh yang dibaca sebagai sosok perempuan yang tengah mandi dan bersolek dengan gestur yang intim nan anggun.
Baru ketika masuk ke verse kedua, saat tokoh utama mulai merias wajah di depan cermin, retakan makna pada asumsi saya tadi muncul. Terlihat jelas bahwa sosok ini adalah waria yang diperankan oleh alm Jeanny Stavia sebagai pusat narasi.
Di titik inilah tafsir itu bergeser. Lirik yang sebelumnya terdengar seperti klaim terhadap orang lain mulai terbaca sebagai klaim terhadap ‘diri sendiri’.
Dus, bagian refrain ‘Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan’ tidak lagi terdengar sebagai penolakan dalam relasi satu arah yang timpang, tapi sebagai pengakuan akan indentitas diri dan pertahanan diri dari penilaian sosial yang timpang.
Sampai di sini, saya hanya bisa membayangkan bagaimana personil Naif diceritakan kemudian menerima banyak surat dari kalangan transgender dan menulis bahwa mereka sempat berada di titik ingin mengakhiri hidup. Tekanan sosial, penolakan dan rasa tidak diterima membuat hidup terasa buntu.
Namun ketika mendengar lagu ini, mereka menemukan sesuatu yang selama ini tidak mereka miliki: pembenaran untuk tetap hidup dan mengada.
