Denpasastra.net

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Ada lagu yang tadinya buat YTTA, tapi malah ‘viral’ dan semua orang jadi tahu.

Mari berandai-andai dulu kalau lagu ini adalah lagu keluarga. Ia sederhana saja tentang anak yang care kepada bapaknya. Narator lagu ini seperti ingin mulai bertanggung jawab dan membiarkan bapaknya menikmati masa tua dengan tenang.

“Hati-hati Pak Tua, istirahatlah,” katanya hangat bahkan sentimental. Lirik ini terasa seperti bentuk kasih sayang dan bakti anak pada orang tua. Bahwa sekarang giliran mereka yang bekerja, sementara sang bapak cukup beristirahat menjaga kesehatan, kelak semua akan baik-baik saja.

Masalahnya, lagu ini tidak diniatkan sesederhana itu. Simbol ‘Pak Tua’ jelas mengarah pada sesuatu yang lebih besar, seolah sedang memberi isyarat bahwa ada yang tidak beres dengan Indonesia di peralihan akhir 80 ke 90-an.

Di saat para wakil rakyat menganggap negeri ini baik-baik saja dengan janji stabilitas ekonomi dan sosial, lagu ini justru terdengar seperti kode halus antarpendengar buat yang tahu-tahu aja.

Masalahnya lagi, rakyat pendengar pada masa itu mulai melek dengan keadaan sekitar. Banyak hal janggal tetapi tidak bisa dibicarakan terang-terangan. Akibatnya, lagu ini tidak lagi terdengar sebagai lagu biasa tanpa perlu dijelaskan terlalu jauh.

Dan di situlah menariknya. Yang awalnya cuma kode halus dan YTTA, lama-lama berubah jadi kode buat semua orang. Dan tepat hari ini, 21 Mei, dua puluh delapan tahun lalu, ‘Pak Tua’ itu akhirnya benar-benar disudahi. Gelombang demonstrasi 1998 memaksanya beristirahat dari kekuasaan.

Mendengarkan ulang lagu ini sekarang, ‘Pak Tua rasanya bukan lagi sekadar tokoh individual, tapi sistem yang ditinggalkannya masih tampak subur hari ini.

Janji stabilitas terus diperdengarkan, sementara rupiah melemah, korupsi berjalan dan harga-harga terus naik. Mungkin itu sebabnya ‘Pak Tua’ terasa tidak pernah benar-benar pergi.

Baca Juga  Siap-Siap! Komunal Bakal Tampil di Bali Jumat Pekan Ini

Tinggal kita sekarang mau terus berharap pada naifnya fantasi do-your-magic lantai kamar mandi, atau menerima kemungkinan bahwa ‘si bapak’ yang satu ini memang Tua-Tua Keladi: makin tua makin jadi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Dari Lombok untuk Kritik Musik

Preman Laut

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Preman Laut

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut
Resensi

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Ada lagu yang tadinya buat YTTA, tapi malah ‘viral’ dan semua orang jadi tahu.

Mari berandai-andai dulu kalau lagu ini adalah lagu keluarga. Ia sederhana saja tentang anak yang care kepada bapaknya. Narator lagu ini seperti ingin mulai bertanggung jawab dan membiarkan bapaknya menikmati masa tua dengan tenang.

“Hati-hati Pak Tua, istirahatlah,” katanya hangat bahkan sentimental. Lirik ini terasa seperti bentuk kasih sayang dan bakti anak pada orang tua. Bahwa sekarang giliran mereka yang bekerja, sementara sang bapak cukup beristirahat menjaga kesehatan, kelak semua akan baik-baik saja.

Masalahnya, lagu ini tidak diniatkan sesederhana itu. Simbol ‘Pak Tua’ jelas mengarah pada sesuatu yang lebih besar, seolah sedang memberi isyarat bahwa ada yang tidak beres dengan Indonesia di peralihan akhir 80 ke 90-an.

Di saat para wakil rakyat menganggap negeri ini baik-baik saja dengan janji stabilitas ekonomi dan sosial, lagu ini justru terdengar seperti kode halus antarpendengar buat yang tahu-tahu aja.

Masalahnya lagi, rakyat pendengar pada masa itu mulai melek dengan keadaan sekitar. Banyak hal janggal tetapi tidak bisa dibicarakan terang-terangan. Akibatnya, lagu ini tidak lagi terdengar sebagai lagu biasa tanpa perlu dijelaskan terlalu jauh.

Dan di situlah menariknya. Yang awalnya cuma kode halus dan YTTA, lama-lama berubah jadi kode buat semua orang. Dan tepat hari ini, 21 Mei, dua puluh delapan tahun lalu, ‘Pak Tua’ itu akhirnya benar-benar disudahi. Gelombang demonstrasi 1998 memaksanya beristirahat dari kekuasaan.

Mendengarkan ulang lagu ini sekarang, ‘Pak Tua rasanya bukan lagi sekadar tokoh individual, tapi sistem yang ditinggalkannya masih tampak subur hari ini.

Janji stabilitas terus diperdengarkan, sementara rupiah melemah, korupsi berjalan dan harga-harga terus naik. Mungkin itu sebabnya ‘Pak Tua’ terasa tidak pernah benar-benar pergi.

Baca Juga  Mendebat Kandungan Nutrisi 'Candu Baru'

Tinggal kita sekarang mau terus berharap pada naifnya fantasi do-your-magic lantai kamar mandi, atau menerima kemungkinan bahwa ‘si bapak’ yang satu ini memang Tua-Tua Keladi: makin tua makin jadi.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Preman Laut

Membaca Estetika Kekalahan dalam Lagu-Lagu Sheila On 7

Preman Laut

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi