Denpasastra.net

Serial Diskusi Akal Imitasi

Diskusi Lanjutan Soal AI dan Musik: Tanggapan untuk Made Adnyana

Pengamat musik asal Bali, Made Adnyana dalam pernyataannya di Nusa Bali (30/03) menyampaikan bahwa Akal Imitasi (AI) tidak bisa dihindari dalam musik hari ini.

Ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat. Fungsinya membantu dan memperkuat karya. Menurutnya Made kuncinya adalah bagaimana kita bisa menggunakan AI secara bijak. Ide dan kreativitas tetap berasal dari manusia, sementara AI hanya berperan sebagai pendukung karena mengandalkan AI sepenuhnya dianggap tidak fair.

Namun memanfaatkan AI untuk mengembangkan dan ‘menghaluskan’ karya dinilai sebagai penggunaan yang tepat. AI bukan hal yang haram, melainkan sesuatu yang kini dibutuhkan selama digunakan dengan bijak.

Demikian pernyataan Made Adnyana dalam menanggapi fenomena perkembangan AI dan dampaknya terhadap dunia musik saat ini. Sekilas lalu, pernyataan ini memang rapi dan telah menjadi semacam konsensus dalam wacana AI dan musik hari ini. Namun dalam kerapian itu, pernyataan ini menyimpan sejumlah masalah yang belum disentuh.

Pasalnya AI ditempatkan semata sebagai alat, sementara manusia tetap dianggap sebagai pusat kreativitas. Persoalan yang diajukan kemudian direduksi menjadi soal cara pakai, bukan soal sistem. Di titik ini, kerangka berpikir yang digunakan justru menyederhanakan kompleksitas yang sedang berlangsung.

Padahal AI sebagai modus teknologi tidak hanya hadir sebagai alat bantu, tetapi sebagai sistem yang mengubah cara kerja penciptaan itu sendiri. Ia menggeser proses kreatif dari yang semula berbasis eksplorasi menjadi berbasis navigasi atas kemungkinan yang sudah tersedia.

Menyederhanakan perubahan ini sebagai sekadar persoalan penggunaan berarti mengabaikan pergeseran yang bersifat epistemologis. Dan ketika perubahan epistemologis diperlakukan sebagai masalah teknis, yang terjadi bukan hanya salah baca, tetapi juga salah posisi dalam meresponsnya.

Pada titik ini, penyederhanaan tidak lagi netral. Ia berisiko menutupi skala perubahan yang sebenarnya sedang terjadi sekaligus meremehkan ancaman yang nyata adanya.

Kata ‘Bijak’ Tidak Punya Ukuran

Kita mungkin telah sampai pada kesadaran bahwa menolak AI sepenuhnya tidak relevan dalam kondisi sekarang. Gagasan pertama yang hendak saya ajukan di sini dalam menanggapi pernyataan Made adalah kerangka berpikir lama tidak cukup untuk menjelaskan perubahan yang sedang berlangsung.

Salah satu kata kunci yang belum terjawab di sini ada pada anggapan bahwa kita harus menggunakan AI dengan ‘bijak’. Apa ukuran dari kata ‘bijak’ itu sendiri?

Kata ‘bijak’ di sini berfungsi sebagai kategori moral yang longgar. Ia tidak memiliki batas operasional, tidak dapat diverifikasi, dan tidak menyediakan alat untuk membaca praktik konkret. Dalam konteks produksi musik yang kini sangat terhubung dengan sistem digital, kategori seperti ini menjadi tidak memadai.

Baca Juga  Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik 'Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan'

Masalahnya bukan sekadar kekaburan definisi, tetapi konsekuensi dari kekaburan itu. Ketika tidak ada ukuran, tidak ada akuntabilitas. Ketika tidak ada akuntabilitas, semua praktik bisa dibenarkan selama masih berada dalam narasi ‘membantu’. Diskusi pun berhenti pada etika personal, sementara persoalan struktural luput dari perhatian.

AI Bukan Sekadar Alat

Pernyataan bahwa AI hanyalah alat juga menyederhanakan persoalan secara konseptual. Sebab AI hadir sebagai modus teknologi yang tidak netral dan menyimpan bias.

Dalam artian, ia bukan sekadar perpanjangan tangan manusia seperti laiknya instrumen konvensional, melainkan sistem yang membawa logika, preferensi, dan kemungkinan yang sudah dibentuk sebelumnya melalui data dan pelatihan model. Setiap kali AI digunakan, ia tidak hanya mengeksekusi perintah tetapi juga mengarahkan hasil sekaligus membatasinya.

Implikasinya jelas. Proses penciptaan tidak lagi dimulai dari kekosongan, tetapi dari ruang kemungkinan yang telah dipreformulasikan. Manusia tidak sepenuhnya mencipta, tetapi memilih dan menavigasikan opsi yang tersedia.

Perubahan ini bersifat epistemologis karena mengubah cara pengetahuan kreatif diproduksi dan divalidasi. Namun karena AI terus dibingkai sebagai ‘alat’, pergeseran ini kerap luput dari pembacaan.

Perubahan Medan Permainan

Bila kata ‘bijak’ dan ‘alat’ di atas sudah dibongkar, maka pada bagian ini persoalannya bergerak ke level yang lebih konkret. Masalah utama AI di dunia musik hari ini bukan lagi perkara siapa membuat apa, melainkan bagaimana musik diproduksi dan diedarkan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

AI membuat penciptaan dan produksi musik menjadi sangat murah, cepat serta masif. Di sisi lain, distribusi kini tidak lagi berbasis relasi antara karya dan pendengar, tetapi berbasis sistem di mana algoritma menjadi mediator utama yang menentukan visibilitas karya.

Dalam kondisi ini, musik tidak selalu diproduksi sebagai pengalaman estetis, tetapi sebagai entitas yang harus hadir dalam sistem. Karena logika produksi berubah, maka yang dikejar bukan lagi kedalaman, tetapi keberulangan dan kompatibilitas dengan sistem distribusi.

Ketika satu pihak mampu memproduksi ribuan karya dalam waktu singkat, sementara pihak lain bekerja dengan proses panjang, maka medan permainan menjadi tidak setara. Yang terjadi bukan lagi kompetisi kualitas, tetapi kompetisi kapasitas produksi.

Dan ini bukan asumsi. Mengutip dari data yang dilaporkan WAMI (Wahana Musik Indonesia), terdapat praktik di mana ribuan lagu dibuat menggunakan AI lalu diputar secara masif menggunakan bot di berbagai platform musik utama.

Baca Juga  Tujuh Tahun Hiatus, Scared Of Bums Gelar Pesta Sesi Dengar Materi Baru

Skemanya sederhana saja: produksi dalam jumlah besar lalu konsumsi direkayasa. Hasilnya bukan hanya visibilitas, tetapi juga aliran royalti yang signifikan dengan angka ratusan ribu stream per hari dan estimasi jutaan dolar per tahun.

Di titik ini, musik tidak hanya diproduksi tetapi direkayasa untuk terlihat dikonsumsi. Yang hadir bukan lagi relasi antara karya dan pendengar, tetapi simulasi relasi itu sendiri. Dan praktik ini adalah praktik yang curang.

Perubahan ini merupakan hasil dari pertemuan antara teknologi dan insentif ekonomi. Platform digital dirancang untuk mengoptimalkan volume, sementara algoritma membaca kuantitas sebagai sinyal distribusi. AI menyediakan alat yang memungkinkan tuntutan tersebut dipenuhi dengan efisiensi tinggi.

Disinilah persisnya terjadi pergeseran dari produksi budaya ke ekstraksi nilai. Royalti yang seharusnya menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja kreatif berubah menjadi insentif yang dapat dieksploitasi melalui skala dan rekayasa sistem. Dampaknya bukan hanya distorsi pasar, tetapi juga ketidakadilan distribusi.

Masalah ini tidak bisa dijelaskan dengan kategori ‘tidak bijak’ atau sekadar alat. Ia adalah konsekuensi dari desain sistem itu sendiri.

Penutup: Peran Baru di Ekosistem Musik

Di bagian penutup ini saya hanya ingin menekankan bahwa peran manusia yang menggunakan AI tidak lagi memadai dipahami sebagai pengguna alat. Alih-alih, manusia harus bisa menempatkan dirinya sebagai kurator makna. Sebab meski AI dapat menghasilkan karya dalam jumlah besar, tetapi belum tentu semuanya punya makna di hadapan pendengar. Toh makna tidak lahir dari jumlah atau kecepatan produksi, melainkan dari seleksi, konteks dan intensi.

Di titik ini, manusia tidak hanya memilih output yang ‘baik’, tetapi menentukan mana yang layak disebut sebagai karya.

Perubahan ini menuntut pergeseran di level ekosistem. Peran apresiasi pun menjadi krusial di mana kritikus, jurnalis musik dan media tidak cukup menjadi corong informasi dan promosi. Mereka harus menjadi kurator karya dengan menyaring, memberi konteks dan membantu publik memahami nilai sebuah karya.

Tanpa peran ini, semua karya musik di era AI terlihat setara dan tidak ada kedalaman pembacaan. Pada akhirnya, pendengar yang akan kehilangan panduan dan musik akan kehilangan ruang untuk dipahami dan punya makna.

Jika AI akan terus berkembang dengan produksi musik yang semakin banal, maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang membuat musik, tapi siapa yang masih memberi alasan bagi sebuah karya musik untuk didengar.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Positivisme Palsu ‘Carry On’ ala Soul and Kith

Preman Laut

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Preman Laut

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Nelayan Pantai Sanur: Pengingat Karma yang Salah Alamat

Preman Laut

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut
Opini

Serial Diskusi Akal Imitasi

Diskusi Lanjutan Soal AI dan Musik: Tanggapan untuk Made Adnyana

Made Adyana. Sumber foto: Istimewa

Pengamat musik asal Bali, Made Adnyana dalam pernyataannya di Nusa Bali (30/03) menyampaikan bahwa Akal Imitasi (AI) tidak bisa dihindari dalam musik hari ini.

Ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat. Fungsinya membantu dan memperkuat karya. Menurutnya Made kuncinya adalah bagaimana kita bisa menggunakan AI secara bijak. Ide dan kreativitas tetap berasal dari manusia, sementara AI hanya berperan sebagai pendukung karena mengandalkan AI sepenuhnya dianggap tidak fair.

Namun memanfaatkan AI untuk mengembangkan dan ‘menghaluskan’ karya dinilai sebagai penggunaan yang tepat. AI bukan hal yang haram, melainkan sesuatu yang kini dibutuhkan selama digunakan dengan bijak.

Demikian pernyataan Made Adnyana dalam menanggapi fenomena perkembangan AI dan dampaknya terhadap dunia musik saat ini. Sekilas lalu, pernyataan ini memang rapi dan telah menjadi semacam konsensus dalam wacana AI dan musik hari ini. Namun dalam kerapian itu, pernyataan ini menyimpan sejumlah masalah yang belum disentuh.

Pasalnya AI ditempatkan semata sebagai alat, sementara manusia tetap dianggap sebagai pusat kreativitas. Persoalan yang diajukan kemudian direduksi menjadi soal cara pakai, bukan soal sistem. Di titik ini, kerangka berpikir yang digunakan justru menyederhanakan kompleksitas yang sedang berlangsung.

Padahal AI sebagai modus teknologi tidak hanya hadir sebagai alat bantu, tetapi sebagai sistem yang mengubah cara kerja penciptaan itu sendiri. Ia menggeser proses kreatif dari yang semula berbasis eksplorasi menjadi berbasis navigasi atas kemungkinan yang sudah tersedia.

Menyederhanakan perubahan ini sebagai sekadar persoalan penggunaan berarti mengabaikan pergeseran yang bersifat epistemologis. Dan ketika perubahan epistemologis diperlakukan sebagai masalah teknis, yang terjadi bukan hanya salah baca, tetapi juga salah posisi dalam meresponsnya.

Pada titik ini, penyederhanaan tidak lagi netral. Ia berisiko menutupi skala perubahan yang sebenarnya sedang terjadi sekaligus meremehkan ancaman yang nyata adanya.

Kata ‘Bijak’ Tidak Punya Ukuran

Kita mungkin telah sampai pada kesadaran bahwa menolak AI sepenuhnya tidak relevan dalam kondisi sekarang. Gagasan pertama yang hendak saya ajukan di sini dalam menanggapi pernyataan Made adalah kerangka berpikir lama tidak cukup untuk menjelaskan perubahan yang sedang berlangsung.

Salah satu kata kunci yang belum terjawab di sini ada pada anggapan bahwa kita harus menggunakan AI dengan ‘bijak’. Apa ukuran dari kata ‘bijak’ itu sendiri?

Kata ‘bijak’ di sini berfungsi sebagai kategori moral yang longgar. Ia tidak memiliki batas operasional, tidak dapat diverifikasi, dan tidak menyediakan alat untuk membaca praktik konkret. Dalam konteks produksi musik yang kini sangat terhubung dengan sistem digital, kategori seperti ini menjadi tidak memadai.

Baca Juga  Pentolan Homicide, Herry Sutresna Rilis Buku Kumpulan Esai Musik 'Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan'

Masalahnya bukan sekadar kekaburan definisi, tetapi konsekuensi dari kekaburan itu. Ketika tidak ada ukuran, tidak ada akuntabilitas. Ketika tidak ada akuntabilitas, semua praktik bisa dibenarkan selama masih berada dalam narasi ‘membantu’. Diskusi pun berhenti pada etika personal, sementara persoalan struktural luput dari perhatian.

AI Bukan Sekadar Alat

Pernyataan bahwa AI hanyalah alat juga menyederhanakan persoalan secara konseptual. Sebab AI hadir sebagai modus teknologi yang tidak netral dan menyimpan bias.

Dalam artian, ia bukan sekadar perpanjangan tangan manusia seperti laiknya instrumen konvensional, melainkan sistem yang membawa logika, preferensi, dan kemungkinan yang sudah dibentuk sebelumnya melalui data dan pelatihan model. Setiap kali AI digunakan, ia tidak hanya mengeksekusi perintah tetapi juga mengarahkan hasil sekaligus membatasinya.

Implikasinya jelas. Proses penciptaan tidak lagi dimulai dari kekosongan, tetapi dari ruang kemungkinan yang telah dipreformulasikan. Manusia tidak sepenuhnya mencipta, tetapi memilih dan menavigasikan opsi yang tersedia.

Perubahan ini bersifat epistemologis karena mengubah cara pengetahuan kreatif diproduksi dan divalidasi. Namun karena AI terus dibingkai sebagai ‘alat’, pergeseran ini kerap luput dari pembacaan.

Perubahan Medan Permainan

Bila kata ‘bijak’ dan ‘alat’ di atas sudah dibongkar, maka pada bagian ini persoalannya bergerak ke level yang lebih konkret. Masalah utama AI di dunia musik hari ini bukan lagi perkara siapa membuat apa, melainkan bagaimana musik diproduksi dan diedarkan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

AI membuat penciptaan dan produksi musik menjadi sangat murah, cepat serta masif. Di sisi lain, distribusi kini tidak lagi berbasis relasi antara karya dan pendengar, tetapi berbasis sistem di mana algoritma menjadi mediator utama yang menentukan visibilitas karya.

Dalam kondisi ini, musik tidak selalu diproduksi sebagai pengalaman estetis, tetapi sebagai entitas yang harus hadir dalam sistem. Karena logika produksi berubah, maka yang dikejar bukan lagi kedalaman, tetapi keberulangan dan kompatibilitas dengan sistem distribusi.

Ketika satu pihak mampu memproduksi ribuan karya dalam waktu singkat, sementara pihak lain bekerja dengan proses panjang, maka medan permainan menjadi tidak setara. Yang terjadi bukan lagi kompetisi kualitas, tetapi kompetisi kapasitas produksi.

Dan ini bukan asumsi. Mengutip dari data yang dilaporkan WAMI (Wahana Musik Indonesia), terdapat praktik di mana ribuan lagu dibuat menggunakan AI lalu diputar secara masif menggunakan bot di berbagai platform musik utama.

Baca Juga  Tujuh Tahun Hiatus, Scared Of Bums Gelar Pesta Sesi Dengar Materi Baru

Skemanya sederhana saja: produksi dalam jumlah besar lalu konsumsi direkayasa. Hasilnya bukan hanya visibilitas, tetapi juga aliran royalti yang signifikan dengan angka ratusan ribu stream per hari dan estimasi jutaan dolar per tahun.

Di titik ini, musik tidak hanya diproduksi tetapi direkayasa untuk terlihat dikonsumsi. Yang hadir bukan lagi relasi antara karya dan pendengar, tetapi simulasi relasi itu sendiri. Dan praktik ini adalah praktik yang curang.

Perubahan ini merupakan hasil dari pertemuan antara teknologi dan insentif ekonomi. Platform digital dirancang untuk mengoptimalkan volume, sementara algoritma membaca kuantitas sebagai sinyal distribusi. AI menyediakan alat yang memungkinkan tuntutan tersebut dipenuhi dengan efisiensi tinggi.

Disinilah persisnya terjadi pergeseran dari produksi budaya ke ekstraksi nilai. Royalti yang seharusnya menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja kreatif berubah menjadi insentif yang dapat dieksploitasi melalui skala dan rekayasa sistem. Dampaknya bukan hanya distorsi pasar, tetapi juga ketidakadilan distribusi.

Masalah ini tidak bisa dijelaskan dengan kategori ‘tidak bijak’ atau sekadar alat. Ia adalah konsekuensi dari desain sistem itu sendiri.

Penutup: Peran Baru di Ekosistem Musik

Di bagian penutup ini saya hanya ingin menekankan bahwa peran manusia yang menggunakan AI tidak lagi memadai dipahami sebagai pengguna alat. Alih-alih, manusia harus bisa menempatkan dirinya sebagai kurator makna. Sebab meski AI dapat menghasilkan karya dalam jumlah besar, tetapi belum tentu semuanya punya makna di hadapan pendengar. Toh makna tidak lahir dari jumlah atau kecepatan produksi, melainkan dari seleksi, konteks dan intensi.

Di titik ini, manusia tidak hanya memilih output yang ‘baik’, tetapi menentukan mana yang layak disebut sebagai karya.

Perubahan ini menuntut pergeseran di level ekosistem. Peran apresiasi pun menjadi krusial di mana kritikus, jurnalis musik dan media tidak cukup menjadi corong informasi dan promosi. Mereka harus menjadi kurator karya dengan menyaring, memberi konteks dan membantu publik memahami nilai sebuah karya.

Tanpa peran ini, semua karya musik di era AI terlihat setara dan tidak ada kedalaman pembacaan. Pada akhirnya, pendengar yang akan kehilangan panduan dan musik akan kehilangan ruang untuk dipahami dan punya makna.

Jika AI akan terus berkembang dengan produksi musik yang semakin banal, maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang membuat musik, tapi siapa yang masih memberi alasan bagi sebuah karya musik untuk didengar.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Morbid Monke Bakal Tampil di Bangkok Music City 2026

Redaksi

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Jason Ranti Bakal Tampil di Bali 15 April Besok

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi