Denpasastra.net

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Belum usai banjir bandang yang melanda Denpasar pada bulan Oktober lalu, kabar lebih kelam datang dari utara. Pulau Sumatra digulung hujan ekstrem dan longsor berskala besar, meninggalkan jejak duka yang membentang dari Aceh hingga Sumatra Barat.

Hingga 8 Desember 2025, BNPB mencatat 929 korban tewas, ratusan hilang, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Angka-angka itu berdiri kaku, tetapi rasa kehilangan di baliknya tidak pernah kaku: ia hidup di setiap keluarga yang menunggu kabar, setiap rumah yang rata dengan tanah, setiap jalan yang terputus. Kita bisa saja menyalahkan pembalak hutan dan pemerintah, tapi itu soal nanti. Untuk saat ini, yang mendesak adalah memastikan para penyintas tidak berjalan sendirian.

Betul memang bahwa luka air masih segar, rumah-rumah di Denpasar belum sepenuhnya pulih dari amukan banjir Oktober. Justru dari titik rapuh itulah sebuah respons lahir: ketika merasakan bencana sendiri, empati tidak lagi teori.

Dari empati yang tumbuh itu dari percakapan kecil, dorongan spontan, dan naluri untuk tidak membiarkan tragedi bersuara sendiri. Maka lahirlah Sumatra Calling, sebuah panggung yang tidak dirancang untuk perayaan, tetapi untuk menjawab duka yang sedang menggulung dua pulau sekaligus. Ia menjadi cara Bali mengirimkan tanda bahwa di tengah bencana beruntun, masih ada yang memilih untuk bergerak mendekat, bukan menjauh.

Solidaritas semacam ini tidak pernah bekerja sendirian. Publik diundang untuk ikut menyulam harapan: hadir, berdonasi, atau setidaknya menyebarkan kabar agar bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Setiap dukungan sekecil apa pun adalah bagian dari upaya kolektif untuk memastikan Sumatra tidak menanggung luka itu seorang diri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  'Bermimpi' ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Berita

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Belum usai banjir bandang yang melanda Denpasar pada bulan Oktober lalu, kabar lebih kelam datang dari utara. Pulau Sumatra digulung hujan ekstrem dan longsor berskala besar, meninggalkan jejak duka yang membentang dari Aceh hingga Sumatra Barat.

Hingga 8 Desember 2025, BNPB mencatat 929 korban tewas, ratusan hilang, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Angka-angka itu berdiri kaku, tetapi rasa kehilangan di baliknya tidak pernah kaku: ia hidup di setiap keluarga yang menunggu kabar, setiap rumah yang rata dengan tanah, setiap jalan yang terputus. Kita bisa saja menyalahkan pembalak hutan dan pemerintah, tapi itu soal nanti. Untuk saat ini, yang mendesak adalah memastikan para penyintas tidak berjalan sendirian.

Betul memang bahwa luka air masih segar, rumah-rumah di Denpasar belum sepenuhnya pulih dari amukan banjir Oktober. Justru dari titik rapuh itulah sebuah respons lahir: ketika merasakan bencana sendiri, empati tidak lagi teori.

Dari empati yang tumbuh itu dari percakapan kecil, dorongan spontan, dan naluri untuk tidak membiarkan tragedi bersuara sendiri. Maka lahirlah Sumatra Calling, sebuah panggung yang tidak dirancang untuk perayaan, tetapi untuk menjawab duka yang sedang menggulung dua pulau sekaligus. Ia menjadi cara Bali mengirimkan tanda bahwa di tengah bencana beruntun, masih ada yang memilih untuk bergerak mendekat, bukan menjauh.

Solidaritas semacam ini tidak pernah bekerja sendirian. Publik diundang untuk ikut menyulam harapan: hadir, berdonasi, atau setidaknya menyebarkan kabar agar bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Setiap dukungan sekecil apa pun adalah bagian dari upaya kolektif untuk memastikan Sumatra tidak menanggung luka itu seorang diri.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Bukan Sekadar Festival Musik: Catatan dari UVJF 2025 dan Polemik Jazz Indonesia

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Nugie Pernah ‘Tertipu’ Orba di Lagu Ini

Preman Laut

Jazz Antar Benua Rasa Ubud: Catatan Pandangan Mata Hari Pertama Sthala UVJF 2025

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi