Setiap zaman punya benda purba di museum: kapak batu, tembikar, fosil. Jika katalog itu diperbarui, mungkin perlu ditambah satu lagi: pemimpin dunia yang masih percaya perang adalah cara menyelesaikan masalah.
Logika perang sebenarnya sangat tua, setua logika zaman kuda gigit besi: datang, serang, hancurkan kota, bunuh pemimpinnya, lalu teriakkan kemenangan.
Padahal dunia sekarang hidup dari kabel internet, jalur logistik, dan pasar global. Banyak hal jauh lebih murah dibeli daripada direbut dengan tank dan batalion.
Fakta juga mengatakan begitu. Sejak Perang Dunia II pada 1940-an, perang besar antarnegara secara statistik semakin jarang terjadi. Konflik yang tersisa kebanyakan berupa perang sipil atau konflik lokal. Dalam banyak kasus, negosiasi, perdagangan, dan tekanan ekonomi terbukti jauh lebih efektif daripada misil.
Namun tetap saja ada pemimpin yang belum move on dari masa lalu. Teknologinya memang sudah melompat ke abad ke-21: drone, satelit, dan kecerdasan buatan. Tapi cara berpikirnya masih seperti raja yang ingin menaklukkan wilayah tetangga. Sedikit-sedikit bicara kekuatan, ancaman musuh, dan kejayaan bangsa.
Tak pelak politik global hari ini kadang terdengar seperti adu ejek di halaman sekolah: siapa paling kuat, siapa punya tombol nuklir lebih besar. Politik yang seharusnya rumit dan serius berubah menjadi pertunjukan kekanak-kanakan.
Band industrial rock asal Bandung, Koil, pernah menertawakan mentalitas ini dalam lagu “Nyanyikan Lagu Perang.” Di sana perang tidak terdengar heroik, melainkan seperti lelucon pahit: manusia tetap menyanyikan lagu perang meski sadar, “badai pasti datang, kita tak akan menang.”
Para pemimpin dunia tadi dielu-elukan bak pahlawan. Padahal setiap keputusan untuk berkonflik secara militer hampir selalu menumbalkan warga sipil dan, seperti kata Koil, hanya “menambah garis kemiskinan.” Dus, masalah dunia hari ini bukanlah perang itu sendiri. Problem yang lebih besar adalah krisis kepemimpinan.
Toh hari-hari belakangan ini membuktikan satu hal sederhana: dunia memiliki terlalu banyak pemimpin dengan kemampuan imajinasi yang berhenti di abad pertengahan.
