Noize Gerd, unit thrash metal pendatang baru asal Bali, merilis single ‘Pulau Seribu Dolar’ pada Desember kemarin. Lagu ini hadir sebagai protes terhadap kapitalisme pariwisata di Bali, dengan isu yang bergerak dari alih fungsi lahan hingga eksploitasi pesisir.
Band ini terbentuk pada 26 Januari 2025 dan memilih thrash metal sebagai medium. Musiknya cepat dan agresif, dengan pengaruh dari Testament, Exodus, Kreator, dan Megadeth. Seperti tradisi thrash pada umumnya, lagu ini langsung menunjuk dan menyerang.
Lirik seperti ‘pengkhianatan ideologi, menjadi asing di tanah sendiri’, ‘moralitas dikebiri, putra daerah yang lupa ibu sendiri’, hingga ‘laut kini menjadi dagangan’ menunjukkan bahwa kritik diarahkan pada ‘putra daerah’ sebagai sumber masalah.
Di titik ini persoalannya muncul. Pendekatan seperti ini memang lazim dalam thrash metal karena memadatkan isu kompleks menjadi tuduhan yang tegas. Ia efektif secara emosional, tetapi menjadi problematis ketika dipakai untuk membaca realitas sosial yang lebih kompleks.
Menggunakan model analisis framing dari Robert N. Entman dalam Framing Theory, struktur kritik lagu ini dapat diringkas sebagai berikut:
| Elemen Framing | Kandungan dalam Lirik Lagu |
|---|---|
| Define Problems | Bali mengalami kerusakan akibat kapitalisme pariwisata |
| Diagnose Causes | Penyebab utama adalah ‘putra daerah’ |
| Make Moral Judgment | Eksploitasi dianggap sebagai pengkhianatan |
| Treatment Recommendation | Perlu kesadaran untuk menghentikan praktik tersebut |
Masalah utama terletak pada bagian diagnose causes. Ketika penyebab dipersempit menjadi ‘putra daerah’, kritik berubah menjadi moralistik dan kehilangan konteks struktural.
Padahal jika menengok sejarah, pariwisata di Bali tidak muncul dari keputusan individu lokal semata. Sejak awal abad ke-20, Bali telah diposisikan sebagai ruang ekonomi oleh kekuasaan kolonial. Pola ini kemudian dilanggengkan status quo-nya oleh negara dan diperluas eksesnya oleh globalisasi. Struktur pemerintahan daerah yang ada hari ini juga merupakan bagian dari warisan tersebut yang berfungsi mengatur ruang dan menjaga stabilitas ekonomi.
Artinya, yang sedang bekerja adalah sistem, bukan sekadar tindakan individu.
Untuk menjawab hal ini, pembacaan perlu digeser ke ranah cultural studies. Salah satu kerangka yang relevan adalah kritik kelas dari Karl Marx yang dikembangkan dalam tradisi Frankfurt School. Dalam kerangka ini, individu tidak ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh posisinya dalam sistem ekonomi.
Dari sini, istilah ‘putra daerah’ kehilangan daya penjelasannya. Ia bukan kategori analitis, melainkan label yang menyederhanakan. Dampaknya bukan hanya pada kesalahan analisis, tetapi juga pada arah konflik.
Ketika ‘putra daerah’ dijadikan sumber masalah, kritik bergeser menjadi konflik horizontal. Sesama masyarakat ditempatkan saling berhadapan, sementara sistem yang mengatur distribusi sumber daya tetap tidak tersentuh. Pola ini menyerupai mekanisme pecah-belah, di mana perhatian dialihkan dari struktur ke individu yang tidak memiliki kontrol penuh atasnya.
Di sisi lain, pendekatan Noize Gerd yang menggunakan fear mongering tetap memiliki fungsi. Dalam tradisi thrash metal, rasa genting digunakan untuk memicu kesadaran. Masalahnya bukan pada penggunaan fear, tetapi pada arah yang dituju.
Jika fear diarahkan pada individu, ia memperkuat pembelahan. Jika diarahkan pada sistem, ia dapat membuka pemahaman tentang bagaimana ketergantungan, kehilangan kontrol, dan ketimpangan terus diproduksi.
Dalam kondisi sekarang, kritik dalam ‘Pulau Seribu Dolar’ berhenti pada ekspresi karena masih mencari pihak yang bisa disalahkan. Ia belum menyentuh bagaimana sistem bekerja dan mempertahankan dirinya.
Persoalannya bukan siapa yang bertindak, tetapi bagaimana sistem itu membuat tindakan tersebut terus berulang.
‘Pulau Seribu Dolar’ pada akhirnya bukan sekadar sindiran, tetapi gambaran dari sebuah sistem ekonomi yang berjalan stabil. Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang menyebabkan Bali menjadi seperti ini. Tapi mengapa sistem ini tetap berjalan dan dipertahankan, bahkan ketika semua orang di dalamnya merasa dirugikan.
