“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang.” Kalimat ini terdengar seperti slogan roman picisan berbalut protes. Padahal ia berasal dari sebuah lagu populer yang dirilis lebih dari tiga dekade lalu.
Di antara banyak lagu dalam musik Indonesia, Bongkar karya Iwan Fals bersama SWAMI menempati posisi yang tidak biasa. Lagu ini lahir pada akhir 1980-an, masa ketika kritik terhadap kekuasaan tidak selalu bisa diucapkan secara terbuka. Musik, puisi, dan metafora menjadi cara untuk menyampaikan kegelisahan sosial tanpa harus menyebutkan lawan secara langsung.
Yang membuat lagu ini terus terasa hidup adalah kesederhanaan pesannya dan setiap zaman bisa menemukan cerminnya sendiri di dalam liriknya.
Lagu ini diciptakan oleh Iwan Fals bersama Sawung Jabo dan direkam oleh kelompok SWAMI yang pada masa itu menjadi salah satu ruang ekspresi penting bagi kritik sosial dalam musik populer Indonesia. Dalam lanskap musik yang sering diisi tema percintaan, Bongkar muncul sebagai suara yang berbeda. Ia membawa semangat protes, namun dengan bahasa yang tetap sederhana dan mudah diingat.
Justru karena kesederhanaannya itulah liriknya mampu melintasi waktu. Ia tidak terkunci pada satu peristiwa politik tertentu. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih luas. Tentang ketidakadilan, tentang kemarahan publik, dan tentang harapan yang sering kali terasa jauh.
Hari ini, perang bahkan tidak lagi terasa jauh.
Di layar ponsel, orang bisa melihat potongan video rudal diluncurkan, misil jatuh, kota terbakar. Semua wara-wiri di linimasa, bercampur dengan sorak sorai netizen, meme dan foto liburan.
Informasi bergerak sangat cepat. Gambar kehancuran muncul di antara konten hiburan dan percakapan sehari-hari. Peristiwa yang di suatu tempat merupakan tragedi kemanusiaan sering kali muncul hanya sebagai potongan video beberapa detik di layar.
Dari jarak tertentu, tragedi ini sedang berubah menjadi tontonan.
Algoritma media sosial bekerja dengan logika yang sederhana. Ia menampilkan hal yang paling cepat menarik perhatian. Ledakan, asap, sirene, dan gambar dramatis mudah menyebar. Namun di balik gambar itu selalu ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidupnya.
Bagi banyak orang, perang muncul sebagai video yang lewat beberapa detik di layar. Bagi para pemimpin dunia yang bertikai, kesedihan para korban sekedar perkara tontonan hasil dari strategi perhitungan kekuatan.
Bahasa politik sering berbicara tentang strategi militer, keseimbangan kekuatan, dan kepentingan geopolitik. Namun bagi mereka yang berada di tengah konflik, perang selalu berarti kehilangan yang nyata.
Di titik ini, lirik Bongkar ciptaan Iwan Fals dan Sawung Jabo kembali terdengar seperti peringatan: kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang, apalagi perdamaian.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia menyimpan gagasan yang keras. Keadilan tidak lahir hanya dari hukum atau keputusan politik. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kemampuan manusia untuk melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang harus dihentikan.
Ketika empati hilang, keadilan mudah berubah menjadi kata yang kosong.
Itulah sebabnya lagu yang lahir lebih dari tiga dekade lalu ini masih terasa relevan. Ia tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga berbicara tentang cara manusia hari ini melihat dunia.
Tentang bagaimana tragedi dapat berubah menjadi konten. Tentang bagaimana penderitaan dapat lewat begitu saja di linimasa.
Dan tentang bagaimana sebuah kalimat sederhana dari lagu lama masih mampu mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar.
Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang.
Miris, memang.
