Indeks Konten
Laporan Denpasastra dari Soundrenaline Sana-Sini Jakarta, M Bloc Space, 18-19 Juli 2026.
JAKARTA — Menjelang sore di M Bloc Space, kerumunan mulai bergerak ke segala arah. Tak ada satu panggung yang menjadi pusat perhatian. Seusai sebuah band menutup penampilannya di Taman Peruri Stage, sebagian penonton bergegas menuju M Bloc Livehouse. Sebagian lain berbelok ke COMA Stage, Melting Pop atau INA Hall Peruri Stage. Di jalur yang sama, ada yang berhenti di tenant makanan, ada pula yang memilih beristirahat menunggu penampilan berikutnya.
Pola itu terus berulang sepanjang dua hari penyelenggaraan Soundrenaline Sana-Sini Jakarta, 18-19 Juli 2026. Festival ini tidak mengumpulkan semua orang di satu titik. Lima panggung yang tersebar di kawasan M Bloc justru membuat setiap pengunjung menyusun rutenya sendiri. Keramaian berpindah mengikuti musik. Tidak ada pusat. Tidak ada tujuan akhir. Yang ada hanyalah arus yang terus bergerak.
Cara menikmati Soundrenaline kini berbeda dibanding satu dekade lalu. Dulu, perjalanan festival ini selalu bermuara di satu tempat. Kini, Soundrenaline memilih hadir di banyak kota sekaligus. Pergeseran itu bukan sekadar perubahan format penyelenggaraan, melainkan juga perubahan cara festival membangun hubungan dengan penontonnya.
Pertanyaan itulah yang membawa kami ke Jakarta. Setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu festival musik terbesar di Indonesia, Soundrenaline kembali mengubah bentuknya. Apakah perubahan ini sekadar strategi agar tetap relevan di tengah menjamurnya festival musik, atau sedang menandai perubahan yang lebih mendasar dalam cara sebuah festival membangun ekosistemnya?
Ketika Semua Jalan Menuju Bali
Jauh sebelum konsep Sana-Sini diperkenalkan, Soundrenaline dibangun sebagai sebuah perjalanan. Festival ini tidak dimulai ketika pintu venue dibuka, melainkan jauh sebelumnya. Berbagai acara komunitas digelar di tingkat lokal, berlanjut ke kolaborasi antarkomunitas melalui Soundsations, lalu bermuara pada Road to Soundrenaline sebelum akhirnya mencapai puncaknya di satu kota.
Di sepanjang perjalanan itu, musisi lokal memperoleh panggung. Komunitas bertemu. Penonton mengikuti rangkaian yang sama sebelum seluruh simpul akhirnya berkumpul di Bali.
Model tersebut membuat setiap kota saling terhubung. Sebuah penampilan di Makassar atau Bandung bukan sekadar konser lokal, melainkan bagian dari perjalanan menuju Soundrenaline. Di ujung perjalanan itu, musisi, media, pelaku industri, komunitas, hingga penonton dari berbagai daerah berbagi ruang yang sama selama beberapa hari.
Bali memegang peran penting dalam mekanisme tersebut. Pulau ini bukan sekadar lokasi penyelenggaraan, melainkan simpul tempat seluruh perjalanan bertemu. Dampaknya melampaui konser. Soundrenaline menghadirkan ruang perjumpaan yang memungkinkan lahirnya percakapan, kolaborasi, dan jejaring antarkota. Pada titik inilah Soundrenaline pernah berfungsi sebagai infrastruktur budaya, bukan semata penyelenggara festival.
Pandemi Covid-19 menghentikan ritme itu. Soundrenaline absen pada 2020 dan 2021. Ketika kembali digelar pada 2022, festival ini memilih arah baru dengan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan.
Dalam beberapa tahun berikutnya, lanskap festival musik Indonesia juga berubah. Jakarta dipenuhi festival yang telah memiliki identitas kuat seperti Synchronize Fest dan Pestapora. Di tengah perubahan itu, Soundrenaline kembali bertransformasi.
Tahun 2025 lahirlah konsep Sana-Sini. Setahun kemudian, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Palembang menjadi kota penyelenggara yang berdiri sendiri. Model lama yang bersifat konvergen bergeser menjadi model yang terdistribusi.
Perubahan itu membawa satu pertanyaan penting. Jika dulu Soundrenaline membangun sebuah perjalanan yang mempertemukan berbagai kota dalam satu simpul, bagaimana fungsi tersebut diterjemahkan ketika setiap kota kini menjadi tujuan bagi dirinya sendiri?
Sana-Sini dan Cara Baru Bertemu Penonton
Perubahan tersebut memang bukan terjadi tanpa perhitungan. Jika dulu Soundrenaline mengajak penonton dari berbagai daerah berkumpul di satu kota, kini festival itu justru memilih mendekat kepada penontonnya.
“Sebenarnya kita pengennya Soundrenaline hadir di semua kota. Kita pengen menjangkau para penikmat musik Indonesia di mana pun berada,” kata Abi Rahadi, perwakilan Soundrenaline 2026, kepada Denpasastra.
Menurut Abi, lima kota penyelenggara dipilih sebagai simpul kawasan, bukan sekadar lokasi konser. Bandung diharapkan menjadi tujuan bagi penonton dari Garut dan Tasikmalaya. Yogyakarta menjadi titik temu bagi Semarang dan wilayah Jawa Tengah. Jakarta diposisikan sebagai pembuka rangkaian sekaligus penanda dimulainya musim festival musik di ibu kota.
Logika tersebut cukup terasa di M Bloc Space. Lokasinya berada di tengah Jakarta dan mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi. Selama dua hari penyelenggaraan, kawasan festival juga tidak pernah terasa sesak meski diisi sejumlah nama besar. Ruang terbuka yang cukup luas membuat pengunjung bisa berpindah, beristirahat, berbincang, atau menikmati pertunjukan dari kejauhan tanpa kehilangan atmosfer festival.
Gagasan Sana-Sini juga tercermin dalam cara festival dirancang. Lima panggung dengan karakter berbeda membuat penonton tidak berkumpul di satu titik. Mereka bebas menyusun rute sendiri, berpindah mengikuti jadwal musisi yang ingin ditonton.
“Nggak cukup cuma mengandalkan nama besar Soundrenaline. Konsumen sekarang mencari pengalaman yang unik. Makanya kita hadirkan konsep Sana-Sini. Orang penasaran, Sana-Sini itu seperti apa,” ujar Abi.
Selama dua hari peliputan, konsep tersebut bekerja sebagaimana yang dijanjikan. Arus penonton terus bergerak dari satu panggung ke panggung lain. Di sela pergantian jadwal, lorong-lorong M Bloc dipenuhi orang yang mengantre makanan, mencoba berbagai aktivasi, atau sekadar berbincang sebelum kembali memasuki area pertunjukan. Festival tidak hanya berlangsung di depan panggung, tetapi juga di ruang-ruang di antaranya.
Karakter setiap panggung ikut membentuk pengalaman tersebut. Taman Peruri menjadi panggung terbuka terbesar dengan jarak yang cukup lebar antara penonton dan musisi. Sebaliknya, COMA Stage dan Melting Pop menghadirkan pengalaman yang jauh lebih intim tanpa barikade pembatas. Perbedaan itu membuat setiap perpindahan menghadirkan suasana yang berbeda, memberi alasan bagi penonton untuk terus menjelajahi kawasan festival.
Namun, mobilitas tinggi itu juga memperlihatkan satu titik lemah.
Setiap kali memasuki area panggung, pengunjung harus kembali memindai barcode pada gelang dan menjalani pemeriksaan barang bawaan. Prosedur tersebut memang memperkuat aspek keamanan, tetapi beberapa kali memunculkan antrean yang membuat sebagian penonton kehilangan menit-menit awal pertunjukan. Untuk festival yang mendorong penonton terus berpindah antarpanggung, pengalaman berpindah semestinya menjadi bagian dari pengalaman festival itu sendiri, bukan hambatan yang memutus ritmenya.
Di luar catatan tersebut, penyelenggaraan berjalan relatif stabil. Tata suara di lima panggung terdengar keras dan bersih. Gangguan teknis memang sempat muncul ketika suara instrumen atau backing vocal menghilang selama beberapa detik, tetapi tidak cukup mengganggu jalannya pertunjukan secara keseluruhan.
Bagi Abi, ukuran keberhasilan Soundrenaline tidak hanya ditentukan oleh jumlah penonton yang hadir.
“Kita pengen yang datang langsung rame. Yang nonton dari layar juga makin banyak. Tapi kualitas pengalaman juga penting. Aman, nyaman, itu memang terdengar basic, tapi justru menjadi tantangan setiap penyelenggaraan festival. Dan yang paling penting, kita pengen Soundrenaline bisa terus memberi kontribusi buat industri musik Indonesia.”
Tujuan tersebut sulit diperdebatkan. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana konsep Sana-Sini akan menerjemahkan kontribusi itu dalam jangka panjang. Selama bertahun-tahun, Soundrenaline membangun dampaknya melalui rangkaian perjalanan yang menghubungkan komunitas, musisi, dan berbagai kota sebelum akhirnya bertemu di satu titik. Kini, ketika model tersebut bergeser menjadi festival yang tersebar di berbagai daerah, bentuk kontribusi itu pun ikut berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Sana-Sini berhasil menghadirkan pengalaman festival yang menyenangkan, melainkan apakah model baru ini kelak mampu melahirkan dampak yang dahulu dibangun oleh perjalanan panjang Soundrenaline.
Soundrenaline Mau ke Mana Lagi?
Selama bertahun-tahun, Soundrenaline membangun sebuah sirkuit. Soundsations menjadi ruang bagi musisi lokal di berbagai daerah. Road to Soundrenaline menghubungkan kota-kota tersebut dalam satu perjalanan. Bali menjadi titik temu yang mempertemukan seluruh simpul itu dalam satu festival.
Sistem tersebut memang tidak pernah sempurna. Namun ia menghadirkan mekanisme yang memberi dampak langsung bagi dunia musik Indonesia. Musisi lokal memperoleh panggung di kotanya masing-masing. Komunitas membangun jejaring lintas daerah. Media, pelaku industri, dan penonton bertemu dalam ruang yang sama. Soundrenaline tidak berhenti sebagai penyelenggara konser, melainkan menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan berbagai unsur dalam ekosistem musik.
Sana-Sini menawarkan logika yang berbeda. Festival kini hadir lebih dekat dengan penonton melalui penyelenggaraan di lima kota. Dari sisi akses, pendekatan ini jelas memperluas jangkauan. Lebih banyak orang dapat menikmati Soundrenaline tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan menuju satu kota tujuan.
Namun hingga penyelenggaraan 2026, kami belum melihat padanan yang menjalankan fungsi yang dahulu diemban oleh Soundsations, Road to Soundrenaline, dan puncak festival di Bali. Yang berubah bukan semata lokasi penyelenggaraan, melainkan mekanisme yang mempertemukan musisi, komunitas, media, dan pelaku industri dalam satu rangkaian perjalanan.
Tentu, Sana-Sini masih berada pada tahap awal perkembangannya. Terlalu dini untuk menyimpulkan apakah format ini kelak akan melahirkan bentuk perjumpaan yang berbeda. Bisa saja lima kota hari ini berkembang menjadi lebih banyak kota, atau bahkan melahirkan jaringan baru yang belum terlihat sekarang.
Justru karena itulah pertanyaan tersebut layak diajukan sejak sekarang. Soundrenaline bukan festival yang baru lahir kemarin sore. Selama lebih dari dua dekade, ia berkali-kali mengubah bentuk, berpindah kota, berganti rumah, bahkan bertahan melewati jeda panjang akibat pandemi. Kemampuan beradaptasi itulah yang membuat Soundrenaline tetap relevan hingga hari ini.
Namun perubahan selalu membawa konsekuensi. Ketika sebuah festival berhenti menjadi tujuan bersama dan memilih hadir di berbagai kota sekaligus, yang berubah bukan hanya peta penyelenggaraannya. Cara orang bertemu, membangun jejaring, dan menciptakan pengalaman bersama ikut berubah.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Soundrenaline bukan lagi apakah konsep Sana-Sini berhasil mendatangkan lebih banyak penonton. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perjalanan baru ini mampu melahirkan simpul-simpul baru yang kelak memiliki daya hidup sebesar perjalanan yang pernah berakhir di Bali.
Keramaian di M Bloc memang terus bergerak dari satu panggung ke panggung lain. Tidak ada pusat. Tidak ada tujuan akhir. Yang kini masih bergerak bersama arus itu adalah pertanyaan tentang Soundrenaline sendiri: setelah meninggalkan satu tujuan, ke mana perjalanan ini akan bermuara?

Reporter: Justin Gabriel Ritonga
Editor: Preman Laut
