WWF Indonesia akan menggelar peringatan World Ocean Day, Coral Triangle Day dan Road to Ocean Impact Summit di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Bali, pada 7 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian aksi yang sebelumnya telah diselenggarakan di 17 daerah di Indonesia.
Tahun ini kegiatan mengusung tema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu”. Program yang disiapkan meliputi talkshow, workshop, pameran edukatif, Festival Layang-Layang Spesies Laut, dan pertunjukan Wayang Samudera.
Dalam konferensi pers yang digelar di Denpasar pada 5 Juni 2026, seniman layang-layang asal Sanur, I Kadek Dwi Armika, menyoroti hubungan masyarakat Bali dengan laut. Menurutnya, kedekatan tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata “bé” yang berarti ikan untuk menyebut berbagai jenis lauk, seperti bé sampi untuk daging sapi dan bé siap untuk daging ayam.
Armika juga menyinggung perubahan yang ia amati di perairan Sanur. Ia menyebut aktivitas transportasi laut sebagai salah satu hal yang perlu mendapat perhatian karena penggunaan baling-baling kapal dapat berdampak pada terumbu karang dan biota laut.
Menurut Armika, perubahan tersebut turut terlihat dari semakin jarangnya duyung dijumpai di perairan Sanur dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia menduga lalu lintas kapal menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberadaan satwa tersebut di kawasan tersebut.
“Pastikan mereka jadi takut sama kapal, karena mereka pernah terluka oleh propeller yang ada di speedboat,” ujar Armika dalam konferensi pers.
Selain Armika, sejumlah tokoh masyarakat yang bergerak di bidang konservasi dijadwalkan hadir dalam acara puncak pada 7 Juni. Mereka akan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan lingkungan dan pelestarian ekosistem pesisir serta laut.
Peringatan World Ocean Day 2026 di Bali juga akan menghadirkan berbagai kegiatan yang terbuka untuk masyarakat, mulai dari diskusi publik, lokakarya, pameran edukasi, hingga festival layang-layang bertema spesies laut. (Justin/PL)

