Denpasastra.net

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Dalam sejarah musik Indonesia, ada berapa banyak lagu tentang jajanan tradisional Indonesia yang pernah kita dengar?

Mari kita ingat kembali. Mungkin hanya ada dua lagu yang muncul di benak saya, yaitu ‘Iwak Peyek’ karya Trio Macan dan ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’ karya Wieteke van Dort.

Namun, saya merasa penceritaan tentang jajanan Indonesia yang dihadirkan oleh dua lagu tersebut hanya menyinggung hal-hal yang ada di tingkat permukaan saja dan cenderung hanya berisi name-dropping dan puji-pujian normatif semata.

Lalu, saya membatin, “Kira-kira ada nggak, ya, lagu tentang makanan Indonesia dengan pembawaan yang berbeda dari kedua lagu tersebut?”

Pertanyaan saya tersebut terjawab setelah saya mendengar lagu ‘Fokus Dina Parab’ karya Leipzig, band post-punk dari Bandung yang dibentuk pada tahun 2021. Band ini beranggotakan Mario (vokal dan synth), Ryan (gitar), Mirza (bass), dan Iman (drum).

Lagu ini dirilis sebagai single pada tahun 2023, setelah debut album mereka ‘Garbage Disposal Communique’ (2021) dan menjelang album kedua mereka, ‘Coltrane Brigade Communique’ (2023).

Berbeda dari dua lagu tentang jajanan Indonesia lainnya tadi, lagu ini berbicara tentang pola makan buruk orang Indonesia yang memakan makanan secara asal-asalan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan tubuh kita.

Hal ini dapat disimak dari potongan lirik yang menyebutkan berbagai macam jajanan Indonesia yang dipadukan dengan majas hiperbola, seperti “Sambal Anarchy” dan “Gorengan Rebellion”.

Lirik-lirik tersebut tidak hanya dibuat untuk akrobatik semata, tetapi gabungan dua kata tersebut menggambarkan efek yang ditimbulkan oleh makanan tersebut terhadap sistem pencernaan manusia.

Konteks geografis tentang kota asal band ini juga menarik untuk dibahas. Pasalnya, seperti diketahui oleh khalayak umum, Kota Bandung sering digadang-gadang sebagai “surga kuliner” oleh masyarakat Indonesia.

Baca Juga  Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

Mungkin hal tersebut juga yang menjadi salah satu inspirasi Leipzig untuk menulis lirik lagu. Salah satu potongan lirik dari lagu ini, menurut saya, adalah deskripsi paling tepat tentang orang Indonesia, yaitu, “For we are the brigade of gastronomic bastard, kita hanyalah sekumpulan bajingan yang kerjanya makan, makan, dan makan terus sampai kita mati.”

Namun, irisan lirik-lirik tersebut menimbulkan pertanyaan baru bagi kita, “Apakah kita hanya makan untuk sekadar makan saja atau ada alasan lainnya?”

Dari penggunaan frasa seperti “Menelan Bayangan”, “Consuming the Absurd”, dan “Huapan Kehampaan”, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan makan buruk masyarakat Indonesia adalah salah satu cara kita untuk mengisi kekosongan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya merasa bahwa lagu ini memberikan kesan yang sama seperti lagu ‘Motorcycle Emptiness’, yang dirilis pada tahun 1992, karya Manic Street Preachers, band rock alternatif asal Wales.

Kalau lagu MSP tersebut bercerita tentang efek hampa yang timbul dari konsumerisme dalam bentuk benda, maka lagu  Leipzig ini bercerita tentang efek yang sama dalam bentuk konsumerisme lainnya, yaitu makanan.

Jika ditarik lebih jauh lagi, lagu ini tidak hanya berbicara soal makanan saja, tetapi juga membicarakan konsumerisme.

Jika band ini berbicara tentang konsumerisme dalam bentuk lain seperti pakaian dan kendaraan bermotor, mungkin rasanya kurang relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia yang hidup di tanah sejuta kuliner.

Oleh karena itu, sifat konsumerisme dalam hal kuliner membuat lagu ini jauh lebih relevan dengan perasaan masyarakat Indonesia. Dan hal ini sangat penting untuk terus dibicarakan, karena pada faktanya, pola makan buruk adalah faktor utama penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Baca Juga  Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Milledenials: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Makna Lagu Posesif Naif Berubah karena Videoklip: Tafsir Lirik dan Identitas

Preman Laut

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut

Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

Preman Laut

Diskusi Lanjutan Soal AI dan Musik: Tanggapan untuk Made Adnyana

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi
Resensi

Menelan Kehampaan: Kritik Konsumerisme ala Leipzig di Lagu ‘Fokus Dina Parab’

Dalam sejarah musik Indonesia, ada berapa banyak lagu tentang jajanan tradisional Indonesia yang pernah kita dengar?

Mari kita ingat kembali. Mungkin hanya ada dua lagu yang muncul di benak saya, yaitu ‘Iwak Peyek’ karya Trio Macan dan ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’ karya Wieteke van Dort.

Namun, saya merasa penceritaan tentang jajanan Indonesia yang dihadirkan oleh dua lagu tersebut hanya menyinggung hal-hal yang ada di tingkat permukaan saja dan cenderung hanya berisi name-dropping dan puji-pujian normatif semata.

Lalu, saya membatin, “Kira-kira ada nggak, ya, lagu tentang makanan Indonesia dengan pembawaan yang berbeda dari kedua lagu tersebut?”

Pertanyaan saya tersebut terjawab setelah saya mendengar lagu ‘Fokus Dina Parab’ karya Leipzig, band post-punk dari Bandung yang dibentuk pada tahun 2021. Band ini beranggotakan Mario (vokal dan synth), Ryan (gitar), Mirza (bass), dan Iman (drum).

Lagu ini dirilis sebagai single pada tahun 2023, setelah debut album mereka ‘Garbage Disposal Communique’ (2021) dan menjelang album kedua mereka, ‘Coltrane Brigade Communique’ (2023).

Berbeda dari dua lagu tentang jajanan Indonesia lainnya tadi, lagu ini berbicara tentang pola makan buruk orang Indonesia yang memakan makanan secara asal-asalan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan tubuh kita.

Hal ini dapat disimak dari potongan lirik yang menyebutkan berbagai macam jajanan Indonesia yang dipadukan dengan majas hiperbola, seperti “Sambal Anarchy” dan “Gorengan Rebellion”.

Lirik-lirik tersebut tidak hanya dibuat untuk akrobatik semata, tetapi gabungan dua kata tersebut menggambarkan efek yang ditimbulkan oleh makanan tersebut terhadap sistem pencernaan manusia.

Konteks geografis tentang kota asal band ini juga menarik untuk dibahas. Pasalnya, seperti diketahui oleh khalayak umum, Kota Bandung sering digadang-gadang sebagai “surga kuliner” oleh masyarakat Indonesia.

Baca Juga  SID Balik Lagi ke Dapur Rekaman! Album Baru Setelah Lama 'Bertapa'?

Mungkin hal tersebut juga yang menjadi salah satu inspirasi Leipzig untuk menulis lirik lagu. Salah satu potongan lirik dari lagu ini, menurut saya, adalah deskripsi paling tepat tentang orang Indonesia, yaitu, “For we are the brigade of gastronomic bastard, kita hanyalah sekumpulan bajingan yang kerjanya makan, makan, dan makan terus sampai kita mati.”

Namun, irisan lirik-lirik tersebut menimbulkan pertanyaan baru bagi kita, “Apakah kita hanya makan untuk sekadar makan saja atau ada alasan lainnya?”

Dari penggunaan frasa seperti “Menelan Bayangan”, “Consuming the Absurd”, dan “Huapan Kehampaan”, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan makan buruk masyarakat Indonesia adalah salah satu cara kita untuk mengisi kekosongan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya merasa bahwa lagu ini memberikan kesan yang sama seperti lagu ‘Motorcycle Emptiness’, yang dirilis pada tahun 1992, karya Manic Street Preachers, band rock alternatif asal Wales.

Kalau lagu MSP tersebut bercerita tentang efek hampa yang timbul dari konsumerisme dalam bentuk benda, maka lagu  Leipzig ini bercerita tentang efek yang sama dalam bentuk konsumerisme lainnya, yaitu makanan.

Jika ditarik lebih jauh lagi, lagu ini tidak hanya berbicara soal makanan saja, tetapi juga membicarakan konsumerisme.

Jika band ini berbicara tentang konsumerisme dalam bentuk lain seperti pakaian dan kendaraan bermotor, mungkin rasanya kurang relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia yang hidup di tanah sejuta kuliner.

Oleh karena itu, sifat konsumerisme dalam hal kuliner membuat lagu ini jauh lebih relevan dengan perasaan masyarakat Indonesia. Dan hal ini sangat penting untuk terus dibicarakan, karena pada faktanya, pola makan buruk adalah faktor utama penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Baca Juga  Trabasenja Rilis Single dan Videoklip “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Catat Tanggalnya, 5 Pianist Bali Bakal Tampil Intim di Denpasar

Redaksi

Ophelia Mati di Lakon Hamlet, Taylor Swift ‘Menyelamatkannya’

Preman Laut

Nusa Fantasma: Hantu Banda dan Nyanyian dari Laut

Preman Laut

Ubud Jadi Tuan Rumah Ubud Village Jazz Festival 2025, 1–2 Agustus di Sthala

Redaksi

Morbid Monke: Anomali Sonik dari Denpasar

Preman Laut

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi