Denpasastra.net

Pemberontakan Jinak Slank Karena ‘Terlalu Manis’

Masuk ke industri musik Indonesia awal 90-an menuntut satu hal, pemberontakan yang terukur.

Ini bukan sekadar cerita satu lagu paling fenomenal saja dari musisi Indonesia di era terbaiknya, tapi cara membaca bagaimana musik kala itu bergerak di bawah tekanan sistem. Pasalnya saat itu audiens masih terbiasa dengan balada melankolis era 80-an, sementara gelombang alternatif dari Barat baru mulai masuk.

Betul memang bahwa ruang kreativitas tengah terbuka, tapi pagarnya dijaga ketat oleh selera produser dan label yang sudah mapan. Di konteks itulah ‘Terlalu Manis’ lahir dalam album Kampungan (1991) dari Slank formasi awal. Lagu ini hadir dalam dua versi: ‘Jualan’ dan ‘Suka-Suka’.

Versi ‘jualan’ dibuat untuk mengikuti kebutuhan radio dan label, sedangkan versi ‘suka-suka’ lebih dekat ke bentuk aslinya yang digarap Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra. Dua versi ini sejatinya menunjukkan pola bahwa satu karya bisa bergerak di dua jalur sekaligus, antara distribusi dan ekspresi.

Sepanjang penelusuran saya, fase ini muncul sebelum Slank menjadi simbol oposisi yang solid di medio 90 sampai 2000-an. Citra urakan, penggunaan bahasa slengean tongkrongan dan energi rock memberi kesan liar di permukaan.

Di saat yang sama, distribusi dan selera masih dikunci oleh label, radio dan televisi. Banyak band rock sejenis mendapat tempat selama tetap berada dalam batas yang bisa dikendalikan.

Pemberontakan Slank kemudian muncul sebagai gestur yang jinak, bukan sebagai gangguan yang memutus status quo. Gayanya tetap terasa melawan, sementara isi emosinya mengalir tanpa menekan.

‘Terlalu Manis’ menempati wilayah itu. Jika disimak, liriknya pun berjalan tanpa arah konfrontasi dan keputusan yang mengunci. Maka bisa disimpulkan bahwa Slank kala itu bergerak dengan kesadaran bentuk, dimana citra liar tetap dipertahankan, sementara materi lagu dikemas agar tetap bisa beredar luas.

Baca Juga  Merayakan Rindu 50 Tahun Kemudian: Revisiting Wish You Were Here – Pink Floyd (1975 - 2025)

Dari situ, saya berpendapat bahwa ‘Terlalu Manis’ berdiri sebagai penanda sebuah fase peralihan dari era 80 ke 90-an. Sebab pola semacam ini tidak berhenti di satu lagu saja, tapi juga berulang dalam banyak rilisan Slank dan band lainnya di periode yang sama.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Hindia dan Metafiksi Baskara Putra: Saat Musik Jadi Percakapan Dua Arah

Preman Laut

Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru ‘Semakin Jauh’

Redaksi

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi

Dari Lombok untuk Kritik Musik

Preman Laut
Resensi

Pemberontakan Jinak Slank Karena ‘Terlalu Manis’

Masuk ke industri musik Indonesia awal 90-an menuntut satu hal, pemberontakan yang terukur.

Ini bukan sekadar cerita satu lagu paling fenomenal saja dari musisi Indonesia di era terbaiknya, tapi cara membaca bagaimana musik kala itu bergerak di bawah tekanan sistem. Pasalnya saat itu audiens masih terbiasa dengan balada melankolis era 80-an, sementara gelombang alternatif dari Barat baru mulai masuk.

Betul memang bahwa ruang kreativitas tengah terbuka, tapi pagarnya dijaga ketat oleh selera produser dan label yang sudah mapan. Di konteks itulah ‘Terlalu Manis’ lahir dalam album Kampungan (1991) dari Slank formasi awal. Lagu ini hadir dalam dua versi: ‘Jualan’ dan ‘Suka-Suka’.

Versi ‘jualan’ dibuat untuk mengikuti kebutuhan radio dan label, sedangkan versi ‘suka-suka’ lebih dekat ke bentuk aslinya yang digarap Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra. Dua versi ini sejatinya menunjukkan pola bahwa satu karya bisa bergerak di dua jalur sekaligus, antara distribusi dan ekspresi.

Sepanjang penelusuran saya, fase ini muncul sebelum Slank menjadi simbol oposisi yang solid di medio 90 sampai 2000-an. Citra urakan, penggunaan bahasa slengean tongkrongan dan energi rock memberi kesan liar di permukaan.

Di saat yang sama, distribusi dan selera masih dikunci oleh label, radio dan televisi. Banyak band rock sejenis mendapat tempat selama tetap berada dalam batas yang bisa dikendalikan.

Pemberontakan Slank kemudian muncul sebagai gestur yang jinak, bukan sebagai gangguan yang memutus status quo. Gayanya tetap terasa melawan, sementara isi emosinya mengalir tanpa menekan.

‘Terlalu Manis’ menempati wilayah itu. Jika disimak, liriknya pun berjalan tanpa arah konfrontasi dan keputusan yang mengunci. Maka bisa disimpulkan bahwa Slank kala itu bergerak dengan kesadaran bentuk, dimana citra liar tetap dipertahankan, sementara materi lagu dikemas agar tetap bisa beredar luas.

Baca Juga  Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Dari situ, saya berpendapat bahwa ‘Terlalu Manis’ berdiri sebagai penanda sebuah fase peralihan dari era 80 ke 90-an. Sebab pola semacam ini tidak berhenti di satu lagu saja, tapi juga berulang dalam banyak rilisan Slank dan band lainnya di periode yang sama.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dua Gitar, Dua Suara, Satu Nubuat ala Onki Chrisna & Yansanjaya

Preman Laut

Bogie Prasetyo: Jazz Itu Minoritas, Tapi Kami Setia

Preman Laut

Apakah Bread & Circus Menandai Kedewasaan Politik The SIGIT?

Ihsan Jarot

Membongkar Mitos ‘Selera Musik Berhenti di Usia 30 Tahun’

Preman Laut

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

The Beatles: Empat Cara Menuju Penerimaan Hidup yang Bajingan!

Fani Yudistira
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi