Denpasastra.net

Hari Laut Sedunia dan Kita Yang Fana

Pada 7 Juni 2026 kemarin, saya bersama teman-teman penulis di redaksi Denpasastra diundang untuk mengikuti peringatan Hari Laut Sedunia yang diadakan oleh WWF di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua. Acaranya sendiri merupakan gabungan dari World Ocean Day, Coral Triangle Day, dan Road to Ocean Impact Summit.

Ketika mendapat undangan tersebut, saya pribadi tidak langsung antusias. Pasalnya jarak dari Denpasar menuju Nusa Dua terasa cukup jauh untuk ditempuh pada hari Minggu. Namun karena belum pernah mengunjungi Peninsula Island, saya akhirnya memutuskan datang bersama seorang teman kampus.

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan suasana Minggu yang dulu sering saya jumpai saat masih kecil. Orang-orang berpakaian rapi untuk beribadah, anak-anak yang diajak berlibur oleh orang tuanya, atau warga yang membersihkan halaman rumah setelah menjalani satu pekan yang panjang. Suasana itu masih tersimpan jelas di kepala saya.

Namun sepanjang perjalanan menuju Nusa Dua, yang saya lihat justru berbeda. Tumpukan kantong sampah memenuhi beberapa sisi jalan. Di sejumlah gang kecil, asap hasil pembakaran sampah ikut mengiringi perjalanan siang itu. Pemandangan tersebut membuat saya bertanya-tanya: seberapa jauh sebenarnya jarak antara sampah yang saya lihat di daratan dengan laut yang sedang diperingati melalui acara yang akan saya hadiri?

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, saya akhirnya tiba di Peninsula Island. Melewati meja registrasi, kami langsung disambut oleh hamparan pantai, langit biru, serta puluhan layangan berbentuk makhluk laut yang beterbangan di udara. Di berbagai sudut lokasi, organisasi dan komunitas membuka stan edukasi untuk memperkenalkan isu-isu lingkungan kepada para pengunjung.

Di antara berbagai stan yang kami kunjungi, Save the Children Indonesia menarik perhatian saya. Di sana saya mengetahui bagaimana isu lingkungan diperkenalkan kepada anak-anak melalui berbagai aktivitas sederhana di sekolah. Salah satunya melalui kerja sama dengan beberapa sekolah di Bali untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.

Baca Juga  Hidup Ketawa Cara Mens Rea

Kami menghabiskan sore dengan berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, mengikuti berbagai aktivitas, berbincang dengan pengunjung lain, dan sesekali duduk beristirahat di bawah pohon rindang. Suasana acara terasa santai, tetapi isu yang dibicarakan di dalamnya tidak selalu ringan.

Salah satu hal yang terus teringat oleh saya adalah berbagai cerita mengenai kondisi laut yang disampaikan sepanjang acara. Tentang terumbu karang, tentang pesisir, dan tentang berbagai perubahan yang terjadi secara perlahan. Perubahan yang sering kali tidak disadari karena berlangsung sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Menjelang senja, kami duduk di atas rumput untuk menyaksikan matahari terbenam. Langit berubah menjadi jingga, sementara layang-layang masih menari di udara. Saya dan teman kampus saya mengobrol tentang banyak hal, mulai dari kehidupan perkuliahan hingga rencana masa depan.

Di tengah percakapan itu, teman saya berucap, “Gua bingung deh, Tin, sama angkatan kita yang lebih fokus sama organisasi dibandingin akademik. Kan organisasi tuh buat nambahin CV doang, bukan fokus utama. Emang mereka nggak ngerasa apa kalau kita dua tahun lagi udah mau jadi mahasiswa akhir?”

Setelah mendengar ucapannya, saya menjawab singkat.

“Waktu adalah pembohong yang lihai.”

Kalimat itu terus terngiang ketika saya mengingat kembali cerita-cerita tentang laut yang saya dengar sepanjang hari. Terumbu karang tidak rusak dalam semalam. Duyung tidak menghilang dalam sehari. Sama seperti waktu yang tidak terasa berjalan, perubahan-perubahan itu berlangsung perlahan hingga akhirnya sulit diabaikan.

Setelah matahari tenggelam, saya teringat kembali pada perjalanan menuju Nusa Dua siang itu. Tumpukan sampah di pinggir jalan, cerita tentang konservasi, dan percakapan tentang waktu terasa saling terhubung.

Baca Juga  Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Mungkin laut tidak berubah dalam semalam. Karena itu banyak dari kita tidak menyadari bahwa ia sedang berubah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Puisi, Manusia, dan Mesin: Refleksi atas Perpuisian Indonesia di Era Kecerdasan Buatan

Wayan Jengki Sunarta

Tanah Bali Itu Spiritual, Jalan Raya-nya Agnostik

Preman Laut

World Ocean Day 2026 Digelar di Bali, Seniman Layangan Soroti Kondisi Laut Sanur

Redaksi

Kartu Tarot Lebih Matematis Ketimbang Mistis

Ervin Ruhlelana

Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Preman Laut

Di Hadapan Tuhan, Ahmad Dhani Hanyalah Sebutir Debu

Preman Laut
Esai

Hari Laut Sedunia dan Kita Yang Fana

Pada 7 Juni 2026 kemarin, saya bersama teman-teman penulis di redaksi Denpasastra diundang untuk mengikuti peringatan Hari Laut Sedunia yang diadakan oleh WWF di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua. Acaranya sendiri merupakan gabungan dari World Ocean Day, Coral Triangle Day, dan Road to Ocean Impact Summit.

Ketika mendapat undangan tersebut, saya pribadi tidak langsung antusias. Pasalnya jarak dari Denpasar menuju Nusa Dua terasa cukup jauh untuk ditempuh pada hari Minggu. Namun karena belum pernah mengunjungi Peninsula Island, saya akhirnya memutuskan datang bersama seorang teman kampus.

Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan suasana Minggu yang dulu sering saya jumpai saat masih kecil. Orang-orang berpakaian rapi untuk beribadah, anak-anak yang diajak berlibur oleh orang tuanya, atau warga yang membersihkan halaman rumah setelah menjalani satu pekan yang panjang. Suasana itu masih tersimpan jelas di kepala saya.

Namun sepanjang perjalanan menuju Nusa Dua, yang saya lihat justru berbeda. Tumpukan kantong sampah memenuhi beberapa sisi jalan. Di sejumlah gang kecil, asap hasil pembakaran sampah ikut mengiringi perjalanan siang itu. Pemandangan tersebut membuat saya bertanya-tanya: seberapa jauh sebenarnya jarak antara sampah yang saya lihat di daratan dengan laut yang sedang diperingati melalui acara yang akan saya hadiri?

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, saya akhirnya tiba di Peninsula Island. Melewati meja registrasi, kami langsung disambut oleh hamparan pantai, langit biru, serta puluhan layangan berbentuk makhluk laut yang beterbangan di udara. Di berbagai sudut lokasi, organisasi dan komunitas membuka stan edukasi untuk memperkenalkan isu-isu lingkungan kepada para pengunjung.

Di antara berbagai stan yang kami kunjungi, Save the Children Indonesia menarik perhatian saya. Di sana saya mengetahui bagaimana isu lingkungan diperkenalkan kepada anak-anak melalui berbagai aktivitas sederhana di sekolah. Salah satunya melalui kerja sama dengan beberapa sekolah di Bali untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.

Baca Juga  8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Kami menghabiskan sore dengan berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, mengikuti berbagai aktivitas, berbincang dengan pengunjung lain, dan sesekali duduk beristirahat di bawah pohon rindang. Suasana acara terasa santai, tetapi isu yang dibicarakan di dalamnya tidak selalu ringan.

Salah satu hal yang terus teringat oleh saya adalah berbagai cerita mengenai kondisi laut yang disampaikan sepanjang acara. Tentang terumbu karang, tentang pesisir, dan tentang berbagai perubahan yang terjadi secara perlahan. Perubahan yang sering kali tidak disadari karena berlangsung sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Menjelang senja, kami duduk di atas rumput untuk menyaksikan matahari terbenam. Langit berubah menjadi jingga, sementara layang-layang masih menari di udara. Saya dan teman kampus saya mengobrol tentang banyak hal, mulai dari kehidupan perkuliahan hingga rencana masa depan.

Di tengah percakapan itu, teman saya berucap, “Gua bingung deh, Tin, sama angkatan kita yang lebih fokus sama organisasi dibandingin akademik. Kan organisasi tuh buat nambahin CV doang, bukan fokus utama. Emang mereka nggak ngerasa apa kalau kita dua tahun lagi udah mau jadi mahasiswa akhir?”

Setelah mendengar ucapannya, saya menjawab singkat.

“Waktu adalah pembohong yang lihai.”

Kalimat itu terus terngiang ketika saya mengingat kembali cerita-cerita tentang laut yang saya dengar sepanjang hari. Terumbu karang tidak rusak dalam semalam. Duyung tidak menghilang dalam sehari. Sama seperti waktu yang tidak terasa berjalan, perubahan-perubahan itu berlangsung perlahan hingga akhirnya sulit diabaikan.

Setelah matahari tenggelam, saya teringat kembali pada perjalanan menuju Nusa Dua siang itu. Tumpukan sampah di pinggir jalan, cerita tentang konservasi, dan percakapan tentang waktu terasa saling terhubung.

Baca Juga  Hidup Ketawa Cara Mens Rea

Mungkin laut tidak berubah dalam semalam. Karena itu banyak dari kita tidak menyadari bahwa ia sedang berubah.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Menteri Kebudayaan Layak Turun

Preman Laut

Nuit de la Poésie: Ketika Puisi Masih Bernapas di Tengah Deru Zaman

Redaksi

Kartu Tarot Lebih Matematis Ketimbang Mistis

Ervin Ruhlelana

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Review Buku Kumcer ‘Manusia Manusia’: Kisah yang Menjalar dari Ingatan ke Imajinasi

Preman Laut

Pembelotan Punk Pestolaer

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi