Denpasastra.net

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Kamu lagi di fase yang mana sekarang? Yang sudah tahu arah, atau yang masih bingung jadi siapa?

Kalau kamu lagi di fase kedua, dengarkan lagu ini sampai selesai. Ini bukan lagu tentang anak muda 90-an, ini lagu tentang anak muda di segala zaman.

Selama ini kita terbiasa menganggap lagu selalu terikat pada waktu. Lagu 90-an milik generasi 90-an, lagu lama hanya berfungsi sebagai nostalgia dan relevansi seolah ditentukan oleh era.

Lagu ‘Bermimpi’ karya Base Jam yang dirilis tahun 1996 membantah asumsi itu. Ia menunjukkan bahwa yang bertahan dari sebuah lagu bukan sebatas konteks zamannya, tapi kandungan emosi yang direkam di dalamnya.

Base Jam menulis lagu ini saat mereka masih berusia 19 tahun, berada di fase hidup yang belum selesai. Mereka belum mapan, belum punya jawaban, dan masih berada di tengah pencarian.

Dari situ lahir sesuatu yang jujur, karena lagu ini tidak datang dari posisi aman, tetapi dari ruang yang belum menemukan bentuk.

Sekilas dengar, lagu ini ringan saja seperti remaja yang bicara tentang harapan dan kemungkinan. Namun di dalamnya tersimpan kegelisahan yang tidak sepenuhnya hilang. Ada keinginan untuk menjadi sesuatu tanpa benar-benar tahu apa itu.

Seiring waktu, saya merasa lagu ini berubah tanpa benar-benar berubah. Liriknya tetap sama, tetapi cara saya mendengarnya bergeser.

Di titik ini, ‘Bermimpi’ buat saya pribadi berhenti menjadi lagu tentang masa lalu. Ia menjadi cermin yang memantulkan fase hidup yang terus berulang, fase yang akan ditemui oleh generasi mana pun, dengan bentuk yang mungkin berubah, tetapi dengan perasaan yang sama.

Karena itu, ‘Bermimpi’ tidak sekadar bekerja sebagai nostalgia. Ia menjadi pengingat bahwa ada fase dalam hidup yang tidak pernah benar-benar selesai.

Baca Juga  Di Hadapan Tuhan, Ahmad Dhani Hanyalah Sebutir Debu

Dan pada akhirnya, lagu ini tidak menjadi tua karena setiap generasi akan sampai di fase yang sama.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Kurt Cobain dan Panggung Perpisahan yang Tak Direncanakan

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Hindia dan Metafiksi Baskara Putra: Saat Musik Jadi Percakapan Dua Arah

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi
Resensi

‘Bermimpi’ ala Base Jam dan Fase Yang Berulang

Kamu lagi di fase yang mana sekarang? Yang sudah tahu arah, atau yang masih bingung jadi siapa?

Kalau kamu lagi di fase kedua, dengarkan lagu ini sampai selesai. Ini bukan lagu tentang anak muda 90-an, ini lagu tentang anak muda di segala zaman.

Selama ini kita terbiasa menganggap lagu selalu terikat pada waktu. Lagu 90-an milik generasi 90-an, lagu lama hanya berfungsi sebagai nostalgia dan relevansi seolah ditentukan oleh era.

Lagu ‘Bermimpi’ karya Base Jam yang dirilis tahun 1996 membantah asumsi itu. Ia menunjukkan bahwa yang bertahan dari sebuah lagu bukan sebatas konteks zamannya, tapi kandungan emosi yang direkam di dalamnya.

Base Jam menulis lagu ini saat mereka masih berusia 19 tahun, berada di fase hidup yang belum selesai. Mereka belum mapan, belum punya jawaban, dan masih berada di tengah pencarian.

Dari situ lahir sesuatu yang jujur, karena lagu ini tidak datang dari posisi aman, tetapi dari ruang yang belum menemukan bentuk.

Sekilas dengar, lagu ini ringan saja seperti remaja yang bicara tentang harapan dan kemungkinan. Namun di dalamnya tersimpan kegelisahan yang tidak sepenuhnya hilang. Ada keinginan untuk menjadi sesuatu tanpa benar-benar tahu apa itu.

Seiring waktu, saya merasa lagu ini berubah tanpa benar-benar berubah. Liriknya tetap sama, tetapi cara saya mendengarnya bergeser.

Di titik ini, ‘Bermimpi’ buat saya pribadi berhenti menjadi lagu tentang masa lalu. Ia menjadi cermin yang memantulkan fase hidup yang terus berulang, fase yang akan ditemui oleh generasi mana pun, dengan bentuk yang mungkin berubah, tetapi dengan perasaan yang sama.

Karena itu, ‘Bermimpi’ tidak sekadar bekerja sebagai nostalgia. Ia menjadi pengingat bahwa ada fase dalam hidup yang tidak pernah benar-benar selesai.

Baca Juga  Pernyataan Thom Yorke Soal Gaza: Dari Cancel Culture Sampai Harapan Kemanusiaan

Dan pada akhirnya, lagu ini tidak menjadi tua karena setiap generasi akan sampai di fase yang sama.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

S.H.I.T.H.E.A.D: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Kolaborasi Usman Hamid dan Reza Ryan di ‘Theory of Nothing’ Lahirkan Debut Single ‘Pahlawan’

Redaksi

SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Redaksi

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Catur Hari Wijaya: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi