Denpasastra.net

Lagu Lama ‘Surti-Tejo’ karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Surti Tejo adalah karya original band rock Jamrud yang rilis tahun 2000 dan menjadi hits pada masanya.

Berbeda dengan band rock Indonesia angkatan sebelumnya yang mengusung bahasa cakap, puitis dan sastrawi, Jamrud hadir dengan pendekatan yang lebih membumi, menggunakan bahasa sehari-hari yang langsung, kasar dan tanpa filter.

Lirik seperti ini lahir dari konteks zamannya. Di awal 2000-an, lagu tidak dibangun untuk diuji secara moral, tetapi untuk didengar, diingat dan dijual. Humor dan vulgaritas ringan menjadi bagian dari strategi, bukan penyimpangan.

Di lagu ini, Jamrud tidak menggurui. Mereka memakai teknik ‘show, don’t tell’. Karenanya kisah Surti dan Tejo ditampilkan tanpa penilaian, sehingga pendengar dibiarkan seperti menyaksikan rangkaian adegan.

Konfliknya sederhana. Tejo pulang dari kota membawa perubahan, sementara Surti tetap dalam kerangka desa yang menjaga batas. Di situ terjadi benturan nilai. Kota dan desa tidak lagi berbicara dalam bahasa yang sama.

Saat linimasa belakangan ini dipenuhi wacana dan kasus kekerasan atau pelecehan seksual, cara baca publik ikut berubah. Lagu Surti Tejo ikut terseret, bahkan di-cancel karena dianggap vulgar, dipotong dari konteks, lalu dibaca ulang seolah berdiri sendiri.

Kasus kekerasan seksual harus ditangani serius dan berpihak pada korban. Itu tidak bisa ditawar. Namun ketika karya dari konteks berbeda ikut ditarik tanpa jarak, yang terjadi bukan pemahaman, melainkan penyederhanaan.

Masalahnya bukan pada lagunya, tetapi pada cara kita membacanya.

Lagu ini tidak berubah sejak 26 tahun silam. Yang berubah adalah cara kita menghakiminya dengan tergesa-gesa.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

‘Restoe Boemi’ Dewa 19 dan Tafsir Lagu tentang Krisis Alam

Preman Laut

Siapa Aku, Kamu, dan Kita di Album Rimpang: Membongkar Pronomina versi ERK

Preman Laut

Bukan Sekadar Festival Musik: Catatan dari UVJF 2025 dan Polemik Jazz Indonesia

Preman Laut

Tujuh Tahun Hiatus, Scared Of Bums Gelar Pesta Sesi Dengar Materi Baru

Redaksi

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Membaca Estetika Kekalahan dalam Lagu-Lagu Sheila On 7

Preman Laut
Esai

Lagu Lama ‘Surti-Tejo’ karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Surti Tejo adalah karya original band rock Jamrud yang rilis tahun 2000 dan menjadi hits pada masanya.

Berbeda dengan band rock Indonesia angkatan sebelumnya yang mengusung bahasa cakap, puitis dan sastrawi, Jamrud hadir dengan pendekatan yang lebih membumi, menggunakan bahasa sehari-hari yang langsung, kasar dan tanpa filter.

Lirik seperti ini lahir dari konteks zamannya. Di awal 2000-an, lagu tidak dibangun untuk diuji secara moral, tetapi untuk didengar, diingat dan dijual. Humor dan vulgaritas ringan menjadi bagian dari strategi, bukan penyimpangan.

Di lagu ini, Jamrud tidak menggurui. Mereka memakai teknik ‘show, don’t tell’. Karenanya kisah Surti dan Tejo ditampilkan tanpa penilaian, sehingga pendengar dibiarkan seperti menyaksikan rangkaian adegan.

Konfliknya sederhana. Tejo pulang dari kota membawa perubahan, sementara Surti tetap dalam kerangka desa yang menjaga batas. Di situ terjadi benturan nilai. Kota dan desa tidak lagi berbicara dalam bahasa yang sama.

Saat linimasa belakangan ini dipenuhi wacana dan kasus kekerasan atau pelecehan seksual, cara baca publik ikut berubah. Lagu Surti Tejo ikut terseret, bahkan di-cancel karena dianggap vulgar, dipotong dari konteks, lalu dibaca ulang seolah berdiri sendiri.

Kasus kekerasan seksual harus ditangani serius dan berpihak pada korban. Itu tidak bisa ditawar. Namun ketika karya dari konteks berbeda ikut ditarik tanpa jarak, yang terjadi bukan pemahaman, melainkan penyederhanaan.

Masalahnya bukan pada lagunya, tetapi pada cara kita membacanya.

Lagu ini tidak berubah sejak 26 tahun silam. Yang berubah adalah cara kita menghakiminya dengan tergesa-gesa.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.
Baca Juga  Bongkar Iwan Fals dan SWAMI: Lagu Protes yang Tetap Relevan Hingga Hari Ini

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut

Satu Teks, Banyak Kepemilikan: Perbedaan Sastra dan Musik dalam Sistem Hak Cipta

Preman Laut

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Preman Laut

Antara Intimasi dan Sloganeering: Membaca Pertukangan ‘Rumah Kebangkitan’ Lagunaria

Preman Laut

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi