Denpasastra.net

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Potret hadir di belantika musik Indonesia nyaris tanpa aba-aba.

Lewat hits single-nya, ‘Salah’, mereka langsung menggebrak dengan nomor drum-and-bass beraroma retro/power pop yang terasa tidak lazim di tengah lanskap musik Indonesia kala itu.

Secara musikal, lagu ini bergerak dengan groove cepat bergaya breakbeat, ditopang bassline aktif yang menonjol dan dorongan ritmis konstan. Di atasnya, gitar pop yang cerah dengan progresi chord sederhana membangun energi power pop, sementara keseluruhan produksi menghadirkan sensasi retro pop 60–70an yang dibungkus ritme elektronik 90an.

Pendekatan ini membuat ‘Salah’ kontras dengan arus utama radio saat itu yang masih didominasi slow pop sentimental dan pop rock balada.

Keunikan ‘Salah’ tidak berhenti pada musiknya. Storytelling-nya juga menyimpang dari norma romantisisme pop Indonesia.

Jika pop arus utama memuliakan cinta sebagai nilai luhur, setia, berkorban, atau patah hati karena dikhianati, lagu ini justru mengambil jalur anti-romantis. Persona liriknya dengan tenang mengakui bahwa ia mencintai sekaligus berselingkuh. Tidak ada penyesalan. Hanya klarifikasi bahwa pasangannya selama ini salah membaca dirinya.

Alih-alih tragedi cinta, yang muncul justru pengakuan amoral yang nyaris sinis. Kalimat seperti ‘aku tak sebaik kau pikir’ menjadi deklarasi anti-hero dalam lagu cinta. Bahkan judul ‘Salah’ menghadirkan ironi. Yang disebut salah bukan tindakan mendua, melainkan persepsi pasangan yang terlalu memuliakan cinta.

Narasi cinta yang ambigu kemudian semakin sering muncul di pop Indonesia. Sebut saja lagu ‘Teman Tapi Mesra’ oleh Ratu yang menormalisasi relasi tanpa komitmen, atau ‘Sephia’ dari Sheila On 7 yang menempatkan empati pada perempuan yang menjadi orang ketiga dari sudut pandang orang pertama pelaku.

Karenanya ‘Salah’ penting bukan hanya pada struktur musiknya yang tidak konvensional, tetapi juga pada narasi cinta yang sinis dan anti-romantis.

Baca Juga  Jegog Spirit Festival 2025: Hari Pertama, Bunyi yang Diajarkan untuk Bertahan

Saya berpendapat bahwa anti-romantisisme dalam pop Indonesia dimulai dari lagu ini. Ia bak celah kecil yang kelak membuka berbagai kemungkinan baru dalam storytelling musik Indonesia sampai sekarang.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Re-Visiting The Brandals Album Pertama

Preman Laut

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Preman Laut

8.414 Kata untuk Kontemplasi yang Tak Pernah Selesai: ‘Membaca Ulang’ Lagu-Lagu Peterpan

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut
Resensi

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Potret hadir di belantika musik Indonesia nyaris tanpa aba-aba.

Lewat hits single-nya, ‘Salah’, mereka langsung menggebrak dengan nomor drum-and-bass beraroma retro/power pop yang terasa tidak lazim di tengah lanskap musik Indonesia kala itu.

Secara musikal, lagu ini bergerak dengan groove cepat bergaya breakbeat, ditopang bassline aktif yang menonjol dan dorongan ritmis konstan. Di atasnya, gitar pop yang cerah dengan progresi chord sederhana membangun energi power pop, sementara keseluruhan produksi menghadirkan sensasi retro pop 60–70an yang dibungkus ritme elektronik 90an.

Pendekatan ini membuat ‘Salah’ kontras dengan arus utama radio saat itu yang masih didominasi slow pop sentimental dan pop rock balada.

Keunikan ‘Salah’ tidak berhenti pada musiknya. Storytelling-nya juga menyimpang dari norma romantisisme pop Indonesia.

Jika pop arus utama memuliakan cinta sebagai nilai luhur, setia, berkorban, atau patah hati karena dikhianati, lagu ini justru mengambil jalur anti-romantis. Persona liriknya dengan tenang mengakui bahwa ia mencintai sekaligus berselingkuh. Tidak ada penyesalan. Hanya klarifikasi bahwa pasangannya selama ini salah membaca dirinya.

Alih-alih tragedi cinta, yang muncul justru pengakuan amoral yang nyaris sinis. Kalimat seperti ‘aku tak sebaik kau pikir’ menjadi deklarasi anti-hero dalam lagu cinta. Bahkan judul ‘Salah’ menghadirkan ironi. Yang disebut salah bukan tindakan mendua, melainkan persepsi pasangan yang terlalu memuliakan cinta.

Narasi cinta yang ambigu kemudian semakin sering muncul di pop Indonesia. Sebut saja lagu ‘Teman Tapi Mesra’ oleh Ratu yang menormalisasi relasi tanpa komitmen, atau ‘Sephia’ dari Sheila On 7 yang menempatkan empati pada perempuan yang menjadi orang ketiga dari sudut pandang orang pertama pelaku.

Karenanya ‘Salah’ penting bukan hanya pada struktur musiknya yang tidak konvensional, tetapi juga pada narasi cinta yang sinis dan anti-romantis.

Baca Juga  Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Saya berpendapat bahwa anti-romantisisme dalam pop Indonesia dimulai dari lagu ini. Ia bak celah kecil yang kelak membuka berbagai kemungkinan baru dalam storytelling musik Indonesia sampai sekarang.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Jazz Antar Benua Rasa Ubud: Catatan Pandangan Mata Hari Pertama Sthala UVJF 2025

Preman Laut

Bersiap-Siap! The Rocktober Bakal Dihelat di Bali Minggu Depan

Redaksi

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Preman Laut

Makna Lagu Posesif Naif Berubah karena Videoklip: Tafsir Lirik dan Identitas

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi