Denpasastra.net

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Bagaimana jika Superman Is Dead menulis lagu imajiner berjudul ‘Indonesian Idiot.’

Mungkin ia bakal jadi lagu yang bukan sekadar provokasi punk, tetapi potret telanjang tentang kebodohan sebuah nasion yang terus dipelihara. Pasalnya kita ingat bagaimana seorang politisi pernah kepleset lidah menyebut publik di luar DPR sebagai orang paling tolol sedunia.

Pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai selorohan, tetapi juga memperlihatkan cara pandang yang lebih jujur para elit bahwa rakyat hanyalah massa yang mudah tersulut, bodoh, mudah percaya dan mudah diarahkan.

Dua dekade lalu, Green Day menulis American Idiot dalam suasana Amerika yang tegang setelah September 11 attacks. Patriotisme palsu menguat, perang menjadi pembenaran politik yang terus diputar media. Lewat American Idiot, punk muncul sebagai bahasa yang sengaja merusak konsensus itu.

Jika logika yang sama dibawa ke Indonesia, pertanyaannya sederhana. Konsensus apa yang akan dan perlu dirusak punk hari ini?

SID memang bukan Green Day. Mereka lahir dari konteks berbeda. Namun justru di situlah pertanyaannya menjadi menarik. Jika American Idiot menyerang konsensus politik Amerika, maka versi ‘Indonesian Idiot’ boleh jadi sudah menemukan targetnya sendiri.

Dalam salah satu lagu SID berjudul 1984 yang terinspirasi dari Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, dunia dibayangkan saat oligarki bermain Tuhan dan narasi kekuasaan membungkam suara berbeda. Jika energi itu dilanjutkan, ‘Indonesian Idiot’ tidak hanya mengejek publik yang mudah percaya, tetapi juga sistem yang memproduksi kebodohan itu. Di titik ini kata ‘idiot’ berubah menjadi cermin.

Dan mungkin di situlah ironi paling pahit dari Indonesia hari ini: negeri tempat seorang sipil bisa dipenjara karena makian, sementara pejabat publik yang melakukan hal sama malah diangkat jadi pimpinan dewan.

Baca Juga  Nyanyikan Lagu Perang Koil: Satir tentang Perang yang Kuno dan Krisis Kepemimpinan Dunia

Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah lagu itu perlu ditulis. Melainkan kepada siapa makian ‘idiot’ itu sebenarnya layak untuk disematkan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Merdeka Belum 100% di Dunia yang Lain: Blues Perlawanan ala Made Mawut

Preman Laut

Diskusi Lanjutan Soal AI dan Musik: Tanggapan untuk Made Adnyana

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut

Dari Lombok untuk Kritik Musik

Preman Laut

Regulator: Permainan Makna dan Paradoks Kritik Feral Stripes

Preman Laut

The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Preman Laut
Esai

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Bagaimana jika Superman Is Dead menulis lagu imajiner berjudul ‘Indonesian Idiot.’

Mungkin ia bakal jadi lagu yang bukan sekadar provokasi punk, tetapi potret telanjang tentang kebodohan sebuah nasion yang terus dipelihara. Pasalnya kita ingat bagaimana seorang politisi pernah kepleset lidah menyebut publik di luar DPR sebagai orang paling tolol sedunia.

Pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai selorohan, tetapi juga memperlihatkan cara pandang yang lebih jujur para elit bahwa rakyat hanyalah massa yang mudah tersulut, bodoh, mudah percaya dan mudah diarahkan.

Dua dekade lalu, Green Day menulis American Idiot dalam suasana Amerika yang tegang setelah September 11 attacks. Patriotisme palsu menguat, perang menjadi pembenaran politik yang terus diputar media. Lewat American Idiot, punk muncul sebagai bahasa yang sengaja merusak konsensus itu.

Jika logika yang sama dibawa ke Indonesia, pertanyaannya sederhana. Konsensus apa yang akan dan perlu dirusak punk hari ini?

SID memang bukan Green Day. Mereka lahir dari konteks berbeda. Namun justru di situlah pertanyaannya menjadi menarik. Jika American Idiot menyerang konsensus politik Amerika, maka versi ‘Indonesian Idiot’ boleh jadi sudah menemukan targetnya sendiri.

Dalam salah satu lagu SID berjudul 1984 yang terinspirasi dari Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, dunia dibayangkan saat oligarki bermain Tuhan dan narasi kekuasaan membungkam suara berbeda. Jika energi itu dilanjutkan, ‘Indonesian Idiot’ tidak hanya mengejek publik yang mudah percaya, tetapi juga sistem yang memproduksi kebodohan itu. Di titik ini kata ‘idiot’ berubah menjadi cermin.

Dan mungkin di situlah ironi paling pahit dari Indonesia hari ini: negeri tempat seorang sipil bisa dipenjara karena makian, sementara pejabat publik yang melakukan hal sama malah diangkat jadi pimpinan dewan.

Baca Juga  Nosstress Rilis Videoklip dari Single Baru 'Semakin Jauh'

Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah lagu itu perlu ditulis. Melainkan kepada siapa makian ‘idiot’ itu sebenarnya layak untuk disematkan.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Bali Ditulis Terus, Tapi Tak Pernah ‘Didengar’

Preman Laut

Hari-Hari Terakhir Peterpan

Preman Laut

Pernyataan Thom Yorke Soal Gaza: Dari Cancel Culture Sampai Harapan Kemanusiaan

Preman Laut

Mendebat Kandungan Nutrisi ‘Candu Baru’

Preman Laut

Dari Banjir Bali ke Tragedi Sumatra: Solidaritas yang Menyebrangi Laut

Redaksi

Berenang di Kali Mati: Ode untuk Navicula

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi