Denpasastra.net

Obituari untuk Made Taro

Yang Diingat Seorang Pendongeng

Ingatan rupanya mempunyai selera sendiri. Ia sering mengabaikan peristiwa besar dan memungut hal-hal yang nyaris tak dianggap peristiwa.

Pak Made Taro pernah menjadi salah satu pengisi acara yang sedang kukerjakan. Hari itu aku lebih sibuk daripada semestinya. Ada banyak hal yang harus diperiksa, ada orang yang harus dicari, ada suara yang entah datang dari mana. Di antara semua itu, ada seorang bayi yang setiap beberapa jam mengingatkanku bahwa ia lapar.

Aku membawa Hosea ke sebuah sudut, menyusuinya, lalu kembali bekerja.

Di situlah Pak Taro menemukanku.

Beliau tidak bertanya apakah acara berjalan sesuai rencana. Tidak menanyakan jumlah penonton. Tidak juga menanyakan hal-hal teknis lainnya.

Beliau bertanya, “Puisimu bagaimana?”

Aku menjawab sesuatu. Entah apa.

Beliau lalu bertanya lagi, “Bagaimana jadi ibu?”

Aku menjawab lagi. Entah apa juga.

Yang kuingat justru wajah beliau ketika mendengarkan. Seolah-olah puisi dan seorang bayi yang sedang menyusu memang layak berada dalam percakapan yang sama.

Sebelum pergi, beliau mendoakan Hosea. Katanya, sama seperti cucu-cucunya.

Sesudah itu kami tidak banyak bertemu. Kami lebih sering berpapasan di Facebook. Media sosial biasanya membuat orang saling lewat tanpa benar-benar berhenti. Tetapi Pak Taro tampaknya tidak terburu-buru.

Setiap kali aku mengunggah sesuatu, beliau hampir selalu mampir.

Beliau akan menanyakan anakku.

Kalimatnya tidak pernah sama persis. Kadang tentang anakanda. Kadang tentang cucu. Pokoknya selalu ada seorang anak di dalam komentarnya.

Kupikir waktu itu beliau hanya sedang ramah.

Hari ini, setelah beliau berpulang, aku baru menyadari bahwa mengingat seorang anak yang hanya sekali ditemui mungkin bukan perkara sederhana.

Barangkali memang begitu cara seorang pendongeng bekerja.

Baca Juga  Sastra dan Ilusi Kreativitas Individual

Ia menulis banyak sekali cerita, bertemu ribuan anak, tetapi masih menyisakan ruang di kepalanya untuk mengingat seorang bayi yang dulu sedang menyusu di sela sebuah acara.

Hari ini Pak Made Taro berpulang.

Dan aku mendengar lagi pertanyaan itu.

“Puisimu bagaimana?”

Aku kira selama ini aku yang mengingat beliau.

Baru hari ini kusadari, barangkali beliaulah yang lebih dulu mengajarkan apa artinya mengingat seseorang

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Lima Sastrawan yang Dibungkam Soeharto: Sejarah Panjang Pengawasan terhadap Bahasa

Preman Laut

Lelucon Abadi Sang Multi-Semesta

Ervin Ruhlelana

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Preman Laut

Bahaya Laten Buku ‘Filosofi Teras’ dan Muslihat Logikanya

Preman Laut

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut
Esai

Obituari untuk Made Taro

Yang Diingat Seorang Pendongeng

Ingatan rupanya mempunyai selera sendiri. Ia sering mengabaikan peristiwa besar dan memungut hal-hal yang nyaris tak dianggap peristiwa.

Pak Made Taro pernah menjadi salah satu pengisi acara yang sedang kukerjakan. Hari itu aku lebih sibuk daripada semestinya. Ada banyak hal yang harus diperiksa, ada orang yang harus dicari, ada suara yang entah datang dari mana. Di antara semua itu, ada seorang bayi yang setiap beberapa jam mengingatkanku bahwa ia lapar.

Aku membawa Hosea ke sebuah sudut, menyusuinya, lalu kembali bekerja.

Di situlah Pak Taro menemukanku.

Beliau tidak bertanya apakah acara berjalan sesuai rencana. Tidak menanyakan jumlah penonton. Tidak juga menanyakan hal-hal teknis lainnya.

Beliau bertanya, “Puisimu bagaimana?”

Aku menjawab sesuatu. Entah apa.

Beliau lalu bertanya lagi, “Bagaimana jadi ibu?”

Aku menjawab lagi. Entah apa juga.

Yang kuingat justru wajah beliau ketika mendengarkan. Seolah-olah puisi dan seorang bayi yang sedang menyusu memang layak berada dalam percakapan yang sama.

Sebelum pergi, beliau mendoakan Hosea. Katanya, sama seperti cucu-cucunya.

Sesudah itu kami tidak banyak bertemu. Kami lebih sering berpapasan di Facebook. Media sosial biasanya membuat orang saling lewat tanpa benar-benar berhenti. Tetapi Pak Taro tampaknya tidak terburu-buru.

Setiap kali aku mengunggah sesuatu, beliau hampir selalu mampir.

Beliau akan menanyakan anakku.

Kalimatnya tidak pernah sama persis. Kadang tentang anakanda. Kadang tentang cucu. Pokoknya selalu ada seorang anak di dalam komentarnya.

Kupikir waktu itu beliau hanya sedang ramah.

Hari ini, setelah beliau berpulang, aku baru menyadari bahwa mengingat seorang anak yang hanya sekali ditemui mungkin bukan perkara sederhana.

Barangkali memang begitu cara seorang pendongeng bekerja.

Baca Juga  Metafiksi Sebuah Kisah Cinta

Ia menulis banyak sekali cerita, bertemu ribuan anak, tetapi masih menyisakan ruang di kepalanya untuk mengingat seorang bayi yang dulu sedang menyusu di sela sebuah acara.

Hari ini Pak Made Taro berpulang.

Dan aku mendengar lagi pertanyaan itu.

“Puisimu bagaimana?”

Aku kira selama ini aku yang mengingat beliau.

Baru hari ini kusadari, barangkali beliaulah yang lebih dulu mengajarkan apa artinya mengingat seseorang

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Ketika Semua Orang Menulis di Negeri yang Sepi Pembaca

Ervin Ruhlelana

Review Buku Kumcer ‘Manusia Manusia’: Kisah yang Menjalar dari Ingatan ke Imajinasi

Preman Laut

Menengok Batin Para Pengarang

Ervin Ruhlelana

Gelombang Kedua Pendaftaran Pekan Sastra 2026 Dibuka, Himasindo Unud Gelar Lomba Baca Puisi dan Kritik Sastra

Redaksi

Sejumlah Penyair Bali Tampil di Festival Seni Bali Jani 2025: Dari Wayan Jengki Sunarta hingga Wulan Dewi Saraswati

Redaksi

Lima Sastrawan yang Dibungkam Soeharto: Sejarah Panjang Pengawasan terhadap Bahasa

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi