Indeks Konten
- 1 Penerbit Kadaluwarsa: Matinya Gerbang Lama
- 2 Oasis Baru: Platform Self-Publishing dan Print-on-Demand
- 3 Generasi Wattpad dan Media Sosial: Semua Orang Bisa Jadi Penulis
- 4 Paradoks: Ketika Penulis Melimpah, Pembaca Menghilang
- 5 Antara Euforia dan Kualitas: Sastra di Persimpangan
- 6 Epilog: Kembali Menjadi Bangsa Pembaca, Bukan Hanya Penulis
Dunia literasi Indonesia pernah memasuki sebuah dekade paradoksal. Di atas kertas, Indonesia terkenal dengan rendahnya minat baca. UNESCO pada 2012 mencatat indeks membaca kita hanya 0,001 (artinya hanya 1 dari 1000 orang yang rajin membaca). Bahkan sebuah studi menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara soal literasi.
Ironisnya, dalam senyap statistik itu, justru meledak minat menulis di mana-mana. Dalam masyarakat yang “malas baca tapi cerewet di medsos,” seperti seloroh banyak pengamat, seakan setiap orang berlomba menjadi penulis. Dari timeline media sosial hingga platform digital, kata-kata mengalir deras bagai banjir bandang di padang gersang pembaca.
Bayangkan sebuah malam sunyi di perpustakaan yang sepi pengunjung. Di luar, deru keyboard terdengar dari ribuan kamar; click-clack, remaja hingga orang tua menuangkan kisah, puisi, curhatan, teori konspirasi, hingga novel romansa daring. Mereka bukan sastrawan ternama, hanya jiwa-jiwa yang mendadak bergelimang kata.
Kita pernah hidup di dekade ketika menulis menjadi semacam demam sosial. Setiap orang punya cerita, setiap cerita menunggu panggungnya. Panggung itu bukan lagi penerbit mayor yang eksklusif, melainkan internet dan platform print-on-demand yang ramah bagi penulis mana pun. Inilah “ledakan sunyi”: sunyi karena mungkin tak banyak yang benar-benar membaca tuntas, namun meledak karena produktivitas menulis tak terbendung.
Penerbit Kadaluwarsa: Matinya Gerbang Lama
Dahulu, penerbit buku konvensional adalah gerbang sakral nan angkuh. Naskah yang sampai ke meja editor ibarat pahlawan yang harus melalui seleksi ketat nan berliku. Banyak penulis pemula frustrasi menunggu kabar dari penerbit—berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun—hanya untuk menerima penolakan klise.
“Penerbit utama sangat selektif, mereka hanya menerbitkan karya dari penulis yang sudah punya nama dan pasti laku. Naskah penulis pemula mau sebagus apapun tidak akan langsung dilirik; seleksi bisa makan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, melemahkan antusiasme mereka,” kata Briliant Yotenega (Ega), pendiri platform Nulisbuku, situs self-publishing print-on-demand pertama di Indonesia.
Penerbit mayor bak gerbang kokoh yang hanya membuka pintu bagi segelintir orang terpilih. Selebihnya, penulis pemula berdiri termangu di luar tembok, meratapi mimpi yang mungkin terkubur. Lebih tragis lagi, andaikan gerbang itu terbuka, imbalan yang menanti sering tak sebanding usaha. Royalti yang ditawarkan penerbit besar berkisar 5-10% per buku. Lima hingga sepuluh persen!
Penulis seperti Raihan Lubis, yang pernah ditawari royalti 5%, menyebut ini “tidak fair… apalagi karya kita tidak dibeli putus, hanya dapat royalti saja”. Artinya, dari setiap buku terjual, si penulis hanya mendapat sekeping kecil, sementara penerbit (dan distributor) mengudap sebagian besar harga buku. Sebuah ironi: penulis bersakit-payah melahirkan buku, namun hasilnya paling buncit menerima bagian.
Tak hanya itu, kendala klasik lain di era lama adalah ongkos cetak dan risiko stok. Mencetak buku fisik butuh modal besar; penerbit enggan berjudi pada nama baru yang belum tentu laku. Hasilnya, banyak naskah bagus terperam di laci karena dianggap tak memenuhi “selera pasar”.
Dunia penerbitan arus utama pun cenderung bermain aman: mengulang formula karya populer, menghindari tema kontroversial, dan mengidolakan penulis tenar. Wajar bila penerbit buku konvensional mulai dicap kadaluwarsa di era internet –lambat, kaku, dan kurang merangkul perubahan. Mereka seperti dinosaurus di zaman mamalia kecil yang lincah; besar wibawanya tapi terancam punah jika tak beradaptasi.
Lalu datanglah internet, digital printing, dan e-book: gelombang revolusi yang menggoyahkan singgasana para penerbit besar. Internet menghapus batas ruang dan waktu dalam penyebaran tulisan. Blog pribadi, media sosial, hingga forum online menjamur di pertengahan 2000-an, memberi ruang bagi siapa saja untuk menerbitkan diri sendiri (setidaknya dalam bentuk digital).
Masyarakat Indonesia, yang disebut sangat aktif bersosial media, tiba-tiba menemukan panggung alternatif: tidak perlu menunggu editor sudi membaca karyamu –cukup klik “unggah”, dan dunia bisa melihat tulisanmu sekejap mata.
Digital printing menambah amunisi: teknologi cetak cepat dan murah memungkinkan buku dicetak dalam oplah kecil bahkan satuan. E-book lebih dahsyat lagi: tanpa kertas, tanpa gudang, tanpa toko buku fisik, naskahmu bisa diunduh ribuan orang secara instan.
Kombinasi ini memicu tsunami yang menggulung tatanan lama. Penerbitan tradisional perlahan kehilangan monopoli. Mereka tak lagi satu-satunya penentu lahirnya sebuah buku. Ibarat sebuah menara gading yang fondasinya digerogoti dari bawah, para “gerilyawan literasi” digital mendobrak tanpa permisi.
Penerbit mayor masih ada, masih tegak mengeluarkan buku-buku best-seller (sering kali karya selebritas atau penulis mapan), tapi auranya pudar di mata generasi baru. Bagi banyak penulis muda, penerbit mayor kini bak kerajaan tua yang ketinggalan zaman. Mereka mencari jalur lain yang lebih cepat, bebas, dan egaliter.
Oasis Baru: Platform Self-Publishing dan Print-on-Demand
Ketika gerbang lama terasa usang, bermunculan lah oasis-oasis baru di padang pasir literasi. “Kehadiran layanan self-publishing dan penerbit indie telah menjadi oase baru bagi para penulis pemula di Indonesia yang bermimpi membukukan tulisan mereka,” tulis sebuah laporan ABC News Indonesia.
Di oasis ini, mimpi menulis buku menemukan airnya. Siapa pun, ya, siapa pun, bisa menerbitkan bukunya sendiri secara mandiri. Salah satu pelopor adalah NulisBuku.com. Diluncurkan pada Oktober 2010, Nulisbuku.com menawarkan konsep revolusioner: penulis cukup mengunggah naskah ke situs, lalu buku akan dicetak sesuai pesanan yang masuk. Tanpa biaya cetak di muka! Jika ada pembeli yang berminat, barulah naskah dicetak satuan dan dikirimkan.
Model ini menghapus kebutuhan modal cetak besar, sekaligus menghilangkan risiko tumpukan stok buku tak terjual. Penulis pun bebas dari rasa waswas ditolak penerbit –di Nulisbuku, setiap naskah pasti terbit selama memenuhi syarat teknis dasar.
Ega sendiri menjelaskan mekanismenya: “Penulis bisa meng-upload naskah di situs kami, kalau ada yang berminat akan langsung kami cetak dan kirimkan. Setiap pembelian ada royalti dengan bagi hasil 60% untuk penulis dan 40% untuk kami, harga buku ditentukan penulis sendiri”, ungkap sang founder. Bayangkan, 60% untuk penulis –sebuah angka yang mustahil diberikan penerbit mayor konvensional yang tadi hanya 5-10%.
Di Nulisbuku, kontrol berada di tangan penulis: ia yang menentukan harga, ia pula memegang hak cipta penuh atas karyanya. Bagi penulis yang selama ini bak “pengemis” di depan penerbit besar, model ini serupa angin segar kemerdekaan.
Sukses Nulisbuku membuka jalan bagi munculnya banyak platform dan penerbit indie lain. Dalam beberapa tahun, ekosistem self-publishing Indonesia kian semarak. Ada LeutikaPrio di Yogyakarta, Grasindo dan Elex Media (imprint Gramedia) yang membuka lini self-publishing, Deepublish, BukuKita, hingga platform digital lain seperti Storial dan Wattpad. Layanan-layanan ini menawarkan berbagai tingkat bantuan: dari murni layanan cetak saja, hingga paket lengkap termasuk editing, desain sampul, penjualan online, bahkan distribusi ke toko buku.
Bagi penulis yang ingin sedikit usaha ekstra, tersedia pula penerbit indie yang menyediakan jasa kurasi naskah (menyunting, menilai kualitas) dengan biaya terjangkau, menjembatani kualitas agar tidak terlalu kalah dari buku mayor.
Pemerintah pun, mungkin tanpa sengaja, ikut menyuburkan tren ini. Sejak tahun 2011, biaya mengurus ISBN digratiskan melalui Perpustakaan Nasional RI. ISBN (International Standard Book Number) adalah identitas wajib bagi buku resmi; dulu, penulis indie harus merogoh kocek untuk mendapatkan ISBN bagi bukunya. Kini ISBN gratis, barrier resmi terakhir pun runtuh. Penulis indie dapat ISBN semudah penulis mayor.
Jika diibaratkan, semua kendaraan buku kini boleh melaju di jalan besar, tak ada lagi “plat nomor” mahal yang hanya bisa dibeli penerbit besar. Hasilnya? Sebuah ledakan produksi buku. Nulisbuku sendiri dalam 8 tahun pertamanya berhasil menerbitkan lebih dari 12 ribu judul buku (2010-2018). Di tahun 2014, baru empat tahun berjalan, Nulisbuku sudah memiliki 50.000 lebih anggota penulis dan telah menerbitkan 3.000 judul. Angka itu terus menanjak seiring makin populernya self-publishing.
Dan Nulisbuku hanyalah satu contoh; ratusan penerbit indie bermunculan dari berbagai kota. Setiap penerbit indie barangkali menerbitkan puluhan hingga ratusan judul per tahun. Tiba-tiba, pilihan buku di Indonesia tak lagi didominasi Gramedia dan kawan-kawan. Ada novel, kumpulan puisi, buku motivasi, hingga komik self-publish yang lahir dari semangat mandiri ini. Yang menarik, beberapa penulis indie justru menarik perhatian penerbit besar setelah sukses sendiri.
Ega kembali bercerita, “tidak sedikit penulis dengan karya bagus akhirnya dilirik dan diterbitkan oleh penerbit besar”. Polanya terbalik: semula penulis butuh penerbit besar agar terkenal; kini penulis bisa terkenal sendiri, lalu penerbit besar yang datang melamar karyanya. Contohnya ada yang mendadak best-seller di kalangan indie, kemudian Gramedia atau Mizan menerbitkan edisi mayor-nya karena melihat peluang pasar.
Oh, how the tables have turned!
Penerbit kadaluwarsa terpaksa menyesuaikan diri atau mengintip dapur indie untuk mencari “bumbu” baru. Tidak hanya penerbit indie, toko buku independen pun tumbuh mendukung pergerakan ini.
Di Jakarta, misalnya, ada Post Santa di Pasar Santa yang hanya buka tiap akhir pekan, khusus menjual buku-buku terbitan penerbit independen. Pemiliknya, Maesy Ang, dengan bangga berkata toko kecilnya adalah toko buku alternatif yang menyediakan ruang bagi buku-buku beridealisme tinggi yang “tidak selalu harus memenuhi selera pasar”. Tema-tema unik, isu sosial, hingga perspektif “kiri” yang mungkin dianggap terlalu berisiko oleh toko buku besar, justru menemukan pembaca setianya di sini.
Walau kecil dan terbatas, toko-toko buku indie membuktikan bahwa literasi alternatif punya ekosistem sendiri. Bahkan Maesy mengakui pengunjung tokonya kian bertambah dari minggu ke minggu –sebuah indikasi bahwa ada segmen pembaca yang haus akan bacaan non-mainstream. Jadi, ledakan menulis ini tidak berdiri di ruang hampa: perlahan, infrastruktur pendukung (dari ISBN gratis, platform online, hingga toko offline alternatif) turut terbentuk.
Generasi Wattpad dan Media Sosial: Semua Orang Bisa Jadi Penulis
Tak lengkap bicara ledakan menulis tanpa menyebut Wattpad –platform menulis dan membaca online yang melahirkan fenomena global, termasuk di Indonesia. Jika Nulisbuku menggebrak di ranah cetak mandiri, Wattpad mengubah lanskap literasi digital. Melalui Wattpad, jutaan cerita fiksi (dan nonfiksi) diunggah gratis, dibaca gratis, dan di-like, dikomentari, serta dibagikan layaknya media sosial. Wattpad ibarat YouTube-nya dunia kepenulisan: demokratis dan digerakkan oleh komunitas.
Dan tahukah Anda? Indonesia adalah salah satu pengguna Wattpad terbesar di dunia –pada 2018, data Alexa menunjukkan pengunjung Wattpad terbanyak berasal dari Amerika (10,5%), disusul Indonesia di peringkat kedua dengan ~6,6%. Bayangkan, dari sekian banyak negara, kita nomor dua! Artinya, antusiasme menulis-membaca di Wattpad di Indonesia sangat tinggi, sekalipun minat baca buku cetak katanya rendah.
Mungkin memang betul: generasi ini lebih suka membaca di layar ponsel ketimbang di kertas; dan mereka bukan hanya membaca, tapi juga menulis di sana. Wattpad melahirkan apa yang bisa disebut Generasi Wattpad: para remaja dan pemuda yang tumbuh dengan menulis cerita sambil berinteraksi langsung dengan pembacanya. Mereka menulis bab demi bab seperti sinetron bersambung, mendapatkan feedback instan lewat komentar dan jumlah reads.
Bagi mereka, menulis adalah kegiatan sosial, panggung ekspresi diri yang mendapat audiensi instan. Tak perlu lewat juri sayembara atau editor berambut abu-abu; kualitas cerita diukur dari likes, views, dan fanbase yang terbentuk. Platform ini menumbuhkan subculture baru dalam sastra pop Indonesia.
Tema yang dominan? Banyak yang ringan: romance remaja, fanfiction, drama sekolah, kisah bad boy meets good girl, dan sejenisnya. Tentu ada pula genre lain –horor, fiksi ilmiah, religi– tapi harus diakui cerita cintalah yang merajai top chart Wattpad kita. Bagi penggemar sastra serius, fenomena Wattpad ini bisa jadi dipandang sebelah mata. Namun tak bisa disangkal, inilah inkubator penulis baru terbesar saat ini.
Beberapa tahun belakangan, novel-novel populer Wattpad justru merambah dunia penerbitan mayor dan layar lebar. Contoh paling termasyhur barangkali “Dear Nathan” karya Erisca Febriani. Kisah cinta remaja SMA ini mulanya diposting di Wattpad dan meraih lebih dari 3 juta pembaca online. Melihat viralnya cerita tersebut, naskah Dear Nathan diterbitkan menjadi novel cetak (oleh penerbit besar) dan laku keras. Puncaknya, tahun 2017 Dear Nathan diadaptasi menjadi film layar lebar yang sukses ditonton lebih dari 750 ribu penonton bioskop. Luar biasa, dari kisah yang lahir di dunia maya, menjelma tontonan massal di dunia nyata.
Kesuksesan ini membuka mata industri: segera penerbit besar dan rumah produksi film berlomba-lomba memburu cerita-cerita hits Wattpad berikutnya. Benar saja, menyusul Dear Nathan, banyak novel Wattpad lain yang naik kelas. Sebut saja “Mariposa” (karya Luluk HF) yang juga diangkat jadi film remaja laris, “Dilan” (meski lahir dari blog dan komunitas, bukan Wattpad, tapi serupa gejalanya), “Teman Tapi Menikah”, “Geez & Ann”, dan seterusnya.
Portal berita KapanLagi mencatat, “dalam beberapa tahun terakhir, industri buku di Indonesia diramaikan novel-novel yang dibaca jutaan kali di Wattpad, dan popularitas daring itu berdampak pada penjualan buku fisik”. Bahkan tren terbaru, banyak cerita Wattpad diadaptasi langsung menjadi serial web/ streaming tanpa menunggu terbit buku dulu. Contohnya “Turn On” karya Tiara Wales yang sudah dibaca 16,5 juta kali di Wattpad diterbitkan sebagai serial Vidio (sebelum versi buku beredar).
Ekosistem Wattpad melahirkan simbiosis baru: penulis indie -> penerbit mayor -> film/serial, dengan fanbase besar sebagai pondasi di tiap tahap. Fenomena ini mengundang tanya: Apakah semua orang sekarang penulis? Jika di tahun 2011 seorang pejabat Balai Bahasa mengeluhkan “minat menulis kita jauh lebih rendah dibanding minat membaca”, maka dekade ini jawabannya berbalik: menulis justru booming di mana-mana, walau apakah yang membaca sepadan jumlahnya masih tanda tanya.
Media sosial telah memberikan “mikrofon” kepada setiap orang untuk berbicara lewat tulisan: status Facebook, cuitan X, caption Instagram nan panjang, hingga blog dan platform seperti Wattpad tadi. Setiap orang, minimal, jadi penulis untuk dirinya sendiri. Mungkin benar kata pepatah modern: “Everyone has a book inside them.” Kini prosesnya dipercepat –buku itu bisa langsung dituliskan dan diterbitkan, tanpa harus keluar dari rumah.
Namun, di tengah euforia “setiap orang jadi penulis”, terselip kecemasan: Siapa yang membaca? Jika semua sibuk menulis, adakah yang tersisa untuk menjadi pembaca setia? Mari kita tilik sejenak data: jumlah buku yang diterbitkan melonjak, platform menulis penuh kreator, tapi survei membaca masih memprihatinkan. Paradoks literasi ini nyata di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan komunitas literasi berulang kali menyerukan gerakan membaca karena khawatir banjir konten tak diimbangi peningkatan apresiasi. Ibarat hujan lebat di gurun, airnya melimpah tapi sebagian besar meresap hilang di pasir –tulisan berlimpah, namun mungkin sedikit yang benar-benar dihayati pembaca.
Paradoks: Ketika Penulis Melimpah, Pembaca Menghilang
Bisa kita katakan: Indonesia adalah negeri 1001 penulis dengan 100 pembaca. Tentu ini hiperbola, namun menggambarkan situasi unik. Banyak indikator menunjukkan ledakan kuantitas penulis tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas atau jumlah pembaca. Contoh, hasil survei UNESCO tadi – hanya 0,1% penduduk yang tergolong “pembaca serius” –seolah menjadi bahan olok-olok pahit: jangan-jangan para penulis kita menulis untuk diri sendiri?
Di media sosial, kita melihat gejala “ingin didengar tapi enggan mendengar,” atau dalam konteks literasi: ingin ditulis tapi enggan membaca. Sejak era reformasi hingga kini, slogan “budayakan membaca!” sudah didengungkan. Tapi data BPS atau perpustakaan nasional kerap menunjukkan rendahnya angka rata-rata buku yang dibaca per orang per tahun.
Sementara itu, angka konten yang diproduksi per orang justru tinggi (tentu, jika status medsos dan blog dihitung sebagai “konten tertulis”). Masyarakat Indonesia dikenal cerewet di media sosial –tempat di mana menulis (setidaknya merangkai kata) adalah aktivitas keseharian– namun pada saat yang sama toko buku tidak membludak, sirkulasi majalah merosot, oplah koran terjun bebas. Bagaikan sebuah pesta di mana semua tamu berebut ingin di panggung menyanyi, tapi tak ada yang duduk mendengarkan; karaoke literasi massal.
Tentu saja, paradoks ini tak sepenuhnya hitam-putih. Ada sisi optimis: mungkin definisi “membaca” perlu diperluas di era digital. Generasi muda memang mungkin jarang membaca koran atau buku tebal, tapi mereka membaca ribuan baris chat, caption, atau cerita online setiap harinya. Hanya saja, apakah kedalaman membaca seperti itu sebanding dengan membaca buku konvensional? Masih debat panjang.
Satu hal yang jelas, minat menulis yang meluap-luap ini ibarat dua sisi mata uang. Sisi pertama: luar biasa bahwa begitu banyak orang mau menuangkan gagasan dan imajinasi dalam tulisan. Ini pertanda hidupnya kreatif dan cerdas (walau kadang semu) di masyarakat. Sisi kedua: jika tak diimbangi minat baca, ledakan penulis bisa menghasilkan echo chamber –semua berbicara, tak ada yang mendengar. Ujungnya, mutu percakapan intelektual bisa stagnan.
Di tengah sinisme itu, patut kita akui beberapa inisiatif yang mencoba menjembatani jurang tersebut. Komunitas literasi tumbuh subur, mengadakan book club, bedah buku, festival sastra, hingga tantangan membaca di media sosial. Perpustakaan-perpustakaan daerah mulai berbenah dengan konsep modern agar menarik pengunjung milenial. Pemerintah juga menggagas program seperti Gerakan Literasi Nasional. Namun pekerjaan rumah masih berat: bagaimana memastikan tsunami tulisan ini tidak berakhir sia-sia di muara tanpa ada yang meneguk airnya?
Antara Euforia dan Kualitas: Sastra di Persimpangan
Ketika setiap orang bisa menerbitkan tulisan, konsekuensinya adalah ledakan kualitas yang bervariasi. Dari yang paling cemerlang hingga yang paling remeh, semua tumpah ruah di internet dan toko buku indie.
Dahulu, saringan ketat penerbit memastikan hanya naskah tertentu yang lolos (dengan segala bias dan kekurangannya). Kini, saringan itu ditentukan langsung oleh pasar pembaca atau kadang algoritma platform. Demokratisasi literasi ibarat dua sisi pedang: di satu sisi, banyak permata tersembunyi yang akhirnya melihat cahaya; di sisi lain, sampah pun tak terelakkan muncul.
Pergeseran ini menimbulkan perdebatan di kalangan pemerhati sastra. Kaum puritan sastra mungkin mengeluh: “Buku indie kok kualitasnya begini amat, editing kurang, cerita klise, banyak typo.” Memang, tanpa editor profesional, banyak karya self-publish yang kualitasnya mentah. Namun, waktu akan menyaring. Karya yang benar-benar buruk mungkin hanya dibaca segelintir orang lalu hilang ditelan algoritma. Sementara karya bagus –bahkan yang tadinya ditolak penerbit mayor– bisa viral lewat rekomendasi pembaca dari mulut ke mulut (atau tepatnya, dari chat ke chat).
Ada kisah nyata penulis indie yang bukunya laris ribuan eksemplar secara mandiri karena tema dan gayanya ternyata digemari niche tertentu. Misalnya, buku dengan topik sejarah lokal atau esai kritis yang dianggap “tidak komersial” bagi penerbit besar, justru menemukan komunitas pembacanya sendiri. Kebebasan ini melahirkan keragaman. Seperti kata Maesy Ang dari Post Santa, kekuatan utama buku indie adalah “kebebasan penulis menuangkan gagasan yang tidak biasa… nuansanya bervariasi”. Hal-hal yang dulu dianggap tabu atau sulit jual, kini bisa terbit, terbukti ada saja pembacanya.
Di sisi lain, euforia menulis juga menantang definisi sastra itu sendiri. Apakah novel Wattpad ber-genre teenlit yang ditulis dengan bahasa gaul, misalnya, layak disebut “karya sastra”? Pertanyaan ini muncul dalam diskusi-diskusi sastra kontemporer. Ada kubu yang meremehkan karya-karya instan internet sebagai sastra semu, tapi ada pula yang lebih inklusif: selama itu tulisan yang menggerakkan hati dan pikiran pembacanya, bukankah itu sastra juga? Toh, banyak sastrawan besar dulu memulai dengan menulis cerita pop di koran.
Munculnya ribuan penulis baru bisa jadi sedang menggodok segelintir di antara mereka untuk kelak menjadi penulis hebat. Darwinisme literatur: yang tangguh dan berbakat akan berkembang, yang lemah akan gugur.
Satu hal yang perlu dijaga adalah budaya literasi secara menyeluruh. Menulis dan membaca seharusnya seperti dua kaki yang membuat peradaban berjalan tegap. Jika yang satu terlalu panjang melangkah sementara yang lain tertatih, jalannya timpang. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang pandai menulis caption satu paragraf tapi tak sabar membaca esai dua halaman. Atau generasi yang berlomba menerbitkan buku hanya demi gengsi “menjadi penulis”, tanpa benar-benar menghargai proses intelektual membaca dan menyunting.
Di sinilah perlunya pendidikan literasi yang seimbang. Menulis harus diajarkan beriringan dengan membaca kritis. Mungkin di sekolah, lomba mengarang sudah banyak –tapi bagaimana dengan apresiasi sastra? Apakah anak muda yang menerbitkan novel di Wattpad juga didorong untuk, misalnya, membaca Pramoedya, Rendra, atau NH Dini untuk memperkaya wawasan? Tugas kita bersama memastikan bahwa ledakan minat menulis ini bukan sekadar fenomena kosong, melainkan pintu masuk menuju renaisans sastra Indonesia.
Epilog: Kembali Menjadi Bangsa Pembaca, Bukan Hanya Penulis
Apakah yang kita saksikan ini sebuah kemajuan, atau sekadar hiruk-pikuk sesaat? Munculnya banyak platform dan penulis independen jelas membawa angin segar: semakin banyak suara, semakin beragam perspektif di panggung literasi. Demokratisasi penulisan membuka kesempatan bagi cerita-cerita dari pinggiran yang dulu mungkin tak terdengar. Ini patut dirayakan.
Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai: bagaimana mengubah lonjakan kuantitas ini menjadi kualitas yang berarti bagi kemajuan intelektual bangsa. Kita perlu kembali mengingat esensi dari menulis. Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kata-kata Pram ini acap dikutip untuk mendorong orang menulis.
Ironisnya, di era sekarang tampaknya terlalu banyak yang menulis –apakah otomatis mereka mengukir keabadian? Keabadian seperti apa? Keabadian di timeline yang berlalu 24 jam? Keabadian di server-server cloud yang entah kapan tumbang?
Menulis masihlah jalan keabadian, tetapi syaratnya: ada pembaca yang mengabadikan tulisan itu dalam benaknya. Kegairahan menulis akan lebih bermakna bila diimbangi kegairahan membaca. Mari menjadi bangsa yang tidak hanya pandai bercerita tapi juga tekun menyimak.
Setiap penulis sejatinya perlu juga menjadi pembaca –karena dari sanalah ia belajar dan mengambil inspirasi. Literasi adalah dialog dua arah: penulis dan pembaca saling terhubung lewat kata-kata. Jika jutaan orang hanya mau bicara (menulis) tanpa mau mendengar (membaca), yang terjadi hanyalah kebisingan tanpa makna. Harapan tetaplah ada.
Melihat begitu banyaknya generasi muda yang menulis, saya optimistis sebenarnya tersimpan rasa cinta pada literasi di sanubari mereka, meski bentuknya berbeda dengan generasi sebelum. Tinggal bagaimana kita mengarahkan cinta itu agar tumbuh seimbang.
Platform digital dan penerbit indie sudah memberi mereka ruang berkarya. Kini, ajaklah mereka memasuki tahap berikut: memperdalam kualitas karya dengan membaca karya orang lain, mempelajari khazanah sastra, dan menghormati proses intelektual lebih dalam.
Bayangkan sebuah Indonesia utopis di masa depan: perpustakaan ramai dikunjungi penulis-penulis muda yang haus referensi; toko buku (fisik maupun digital) laris oleh pembaca yang juga penulis, saling menghargai karya masing-masing. Diskusi buku kembali hidup, tidak hanya fanbase yang histeris pada idola Wattpad-nya, tapi juga kritik sastra yang membangun. Itulah impian yang layak diperjuangkan –menjadikan ledakan menulis ini bukan kuburan bagi kualitas, melainkan ladang subur tumbuhnya sastrawan-sastrawan baru yang hebat.
Tiga dekade terakhir ini mengajarkan kita bahwa sastra dan tulisan milik semua orang. Penerbit bukan lagi satu-satunya penguasa nasib naskah, setiap individu punya kuasa. Tinggal kini tanggung jawab ada di pundak masing-masing penulis: mau dibawa ke mana era keterbukaan pena ini. Apakah akan menjadi sekadar banjir kata-kata kosong belaka, atau menjelma bahtera pengetahuan yang mengarungi zaman? Jawabnya ada pada kita – penulis, pembaca, pecinta literasi Indonesia.
Mari menulis, mari membaca, mari menghidupkan kembali sastra yang mencerahkan. Ledakan minat menulis di Indonesia bisa menjadi berkah luar biasa abad ini, asalkan kita tidak lupa meniupkan jiwa ke dalamnya melalui budaya membaca. Inilah revolusi literasi yang tengah berlangsung –pastikan kita mengarahkannya ke jalur yang tepat, agar menjadi legacy gemilang, bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah.
Sesungguhnya, menulis dan membaca adalah dua sayap burung Garuda literasi. Dengan keduanya mengepak seimbang, kita terbangkan tinggi-tinggi khazanah ilmu dan imajinasi bangsa ini. Semoga ledakan ini menjadikan Indonesia kembali sebagai bangsa pembaca, sekaligus bangsa penulis, yang saling menyuburkan.
***
Sumber Pustaka:
Abdul Khak (Kepala Balai Bahasa Bandung) – Tradisi menulis lebih rendah dari minat membaca antaranews.com.
Data UNESCO 2012 – Indeks minat baca 0,001; masyarakat Indonesia aktif di media sosial mahkamahagung.go.id.
Iffah Nur Arifah – ABC News: Ramai-ramai Pilih Jalur Independen… (self-publishing sebagai “oase baru” bagi penulis pemula, royalti penerbit mayor 5-10% vs self-publishing 60%) abc.net.auabc.net.auabc.net.au.
Briliant Yotenega (Nulisbuku) – Wawancara tentang konsep Nulisbuku & 12 ribu judul terbit dalam 8 tahun abc.net.auabc.net.au.
Data Wattpad (2018) – Indonesia pengunjung terbesar kedua (6,6%) digilib.yarsi.ac.id; kesuksesan Dear Nathan (3 juta pembaca Wattpad, 750 ribu penonton film)eudl.eueudl.eu.
Pramoedya Ananta Toer – Kutipan “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” jagokata.com.