Denpasastra.net

Gelombang Kedua Pendaftaran Pekan Sastra 2026 Dibuka, Himasindo Unud Gelar Lomba Baca Puisi dan Kritik Sastra

Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (Himasindo) Universitas Udayana membuka gelombang kedua pendaftaran Pekan Sastra 2026 yang menghadirkan Lomba Baca Puisi tingkat Provinsi Bali dan Lomba Kritik Sastra tingkat Nasional.

Pendaftaran gelombang kedua berlangsung sejak 11 Maret hingga 1 April 2026, setelah gelombang pertama ditutup pada 8 Maret 2026. Pengumpulan karya dijadwalkan pada 3–10 April 2026, dilanjutkan penilaian hingga 24 April 2026, dan pengumuman pemenang pada 1 Mei 2026.

Kegiatan ini mengusung tema “Sastra, Kritik, dan Politik” yang menempatkan sastra sebagai medium untuk membaca realitas sosial dan politik. Panitia menekankan pentingnya sikap kritis dalam membaca karya sastra serta kemampuan mengaitkannya dengan konteks sosial yang lebih luas.

Lomba baca puisi terbuka bagi pelajar dan mahasiswa di Bali. Peserta membawakan dua puisi, terdiri dari satu puisi wajib karya Joko Pinurbo dan satu puisi pilihan dari daftar yang telah ditentukan. Karya dikumpulkan dalam bentuk video berdurasi maksimal 20 menit dengan ketentuan satu kali pengambilan tanpa pengeditan.

Sementara itu, lomba kritik sastra terbuka bagi masyarakat umum berusia 17 hingga 40 tahun di seluruh Indonesia. Peserta mengirimkan satu naskah kritik sepanjang 1.000–1.500 kata terhadap karya sastra yang terbit dalam lima tahun terakhir. Naskah harus orisinal, belum pernah dipublikasikan, dan akan melalui pengecekan plagiarisme.

Panitia membatasi kuota lomba kritik sastra sebanyak 50 peserta dan menerapkan sistem penilaian tertutup tanpa mencantumkan identitas peserta dalam naskah.

Penilaian lomba melibatkan sejumlah juri dari kalangan praktisi dan akademisi. Kategori baca puisi dinilai oleh Wulan Dewi Saraswati, Pranita Dewi, dan Eirenne Pridari Sinsya. Kategori kritik sastra dinilai oleh Muhammad Qadhafi dan Isnan Waluyo.

Pekan Sastra 2026 diarahkan sebagai ruang akademik dan kultural untuk memperluas jejaring, mengasah ekspresi, serta memperkuat praktik pembacaan kritis terhadap sastra di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Baca Juga  Made Adnyana Ole Terbitkan Buku Puisi 'Memilih Pohon Sebelum Pinangan'

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Dari Gajah Hingga Kutuk: Berikut Tiga Karya Pemenang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Redaksi

Dua Penulis Bali, Tan Lioe Ie dan Pranita Dewi, Masuk Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Preman Laut

Edisi Tahun Baru: Fanfic Sebagai Politically Correct

Ervin Ruhlelana

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Tanah Bali Itu Spiritual, Jalan Raya-nya Agnostik

Preman Laut

SID Siapkan Delapan Lagu Baru, Jerinx Bocorkan Kolaborasi dengan Rebellion Rose

Redaksi
Berita

Gelombang Kedua Pendaftaran Pekan Sastra 2026 Dibuka, Himasindo Unud Gelar Lomba Baca Puisi dan Kritik Sastra

Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (Himasindo) Universitas Udayana membuka gelombang kedua pendaftaran Pekan Sastra 2026 yang menghadirkan Lomba Baca Puisi tingkat Provinsi Bali dan Lomba Kritik Sastra tingkat Nasional.

Pendaftaran gelombang kedua berlangsung sejak 11 Maret hingga 1 April 2026, setelah gelombang pertama ditutup pada 8 Maret 2026. Pengumpulan karya dijadwalkan pada 3–10 April 2026, dilanjutkan penilaian hingga 24 April 2026, dan pengumuman pemenang pada 1 Mei 2026.

Kegiatan ini mengusung tema “Sastra, Kritik, dan Politik” yang menempatkan sastra sebagai medium untuk membaca realitas sosial dan politik. Panitia menekankan pentingnya sikap kritis dalam membaca karya sastra serta kemampuan mengaitkannya dengan konteks sosial yang lebih luas.

Lomba baca puisi terbuka bagi pelajar dan mahasiswa di Bali. Peserta membawakan dua puisi, terdiri dari satu puisi wajib karya Joko Pinurbo dan satu puisi pilihan dari daftar yang telah ditentukan. Karya dikumpulkan dalam bentuk video berdurasi maksimal 20 menit dengan ketentuan satu kali pengambilan tanpa pengeditan.

Sementara itu, lomba kritik sastra terbuka bagi masyarakat umum berusia 17 hingga 40 tahun di seluruh Indonesia. Peserta mengirimkan satu naskah kritik sepanjang 1.000–1.500 kata terhadap karya sastra yang terbit dalam lima tahun terakhir. Naskah harus orisinal, belum pernah dipublikasikan, dan akan melalui pengecekan plagiarisme.

Panitia membatasi kuota lomba kritik sastra sebanyak 50 peserta dan menerapkan sistem penilaian tertutup tanpa mencantumkan identitas peserta dalam naskah.

Penilaian lomba melibatkan sejumlah juri dari kalangan praktisi dan akademisi. Kategori baca puisi dinilai oleh Wulan Dewi Saraswati, Pranita Dewi, dan Eirenne Pridari Sinsya. Kategori kritik sastra dinilai oleh Muhammad Qadhafi dan Isnan Waluyo.

Pekan Sastra 2026 diarahkan sebagai ruang akademik dan kultural untuk memperluas jejaring, mengasah ekspresi, serta memperkuat praktik pembacaan kritis terhadap sastra di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Baca Juga  Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut

Tanah Bali Itu Spiritual, Jalan Raya-nya Agnostik

Preman Laut

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Dibuka, Batas Akhir 31 Oktober

Redaksi

Rapor Merah Menteri Kebudayaan dan Sastra Kita di Halaman Belakang

Preman Laut

AXEAN Festival 2026 Buka Open Call Musisi Bali

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi