Denpasastra.net
Buku Filosofi Teras dan Henry Manampiring. Kredit Foto: Ilarizky
Opini

Bahaya Laten Buku ‘Filosofi Teras’ dan Muslihat Logikanya

Mengapa di tengah suburnya pengangguran, harga rumah yang mustahil terjangkau, krisis iklim yang kian gawat dan politik oligarki yang merajalela, buku ‘Filosofi Teras’ justru jadi produk literasi terlaris nomor 1?

Adakah ini sekadar gejala kebangkitan generasi literasi hari ini akan buku-buku bertema filsafat? Atau ia justru menjadi tanda bahwa banyak orang sedang mencari cara paling elegan untuk pasrah ala kaum Stoa seperti yang ditafsir dalam buku ini? Bahwa di tengah dunia yang makin volatil, tak pasti, kompleks dan ambigu ini, kita semua cenderung memilih untuk menenangkan diri saja di ‘teras’ halaman, daripada keluar rumah (dan loncat lewat pagar kalau perlu) untuk memahami penyebab kekacauan dan berupaya melampauinya dengan melawan?

Buku Filosofi Teras ditulis oleh Henry Manampiring, seorang profesional di bidang riset merek dan periklanan dengan pengalaman di perusahaan seperti Coca-Cola, Ogilvy, dan Facebook. Buku ini pertama kali terbit pada 2018 melalui Penerbit Buku Kompas dan pada 2019 memenangkan penghargaan Book of The Year dari Ikatan Penerbit Indonesia dalam ajang Indonesia International Book Fair.

Hingga 2023, penjualannya menembus sekitar 300 ribu eksemplar dan menjadikannya buku pengembangan diri nomor satu di Indonesia. Setahun kemudian, mantan militer pelanggar HAM dan anak Presiden hasil kongkalikong Mahkamah Konstitusi (yang digadang-gadang sebagai perwakilan generasi muda) memenangkan suara rakyat terbanyak dalam Pilpres 2024.

 

Henry sendiri dalam pengantarnya mengaku bagaimana ia menulis dari pengalaman personal tentang depresi dan menemukan Stoikisme sebagai penolong. Dari pengalaman itu lahirlah sebuah tafsir populer atas kebijaksanaan tua yang diolah dengan keterampilan seorang pemasar. Stoikisme klasik yang dahulu mengajarkan keteguhan moral kini direduksi menjadi strategi pengelolaan stres.

Petuah Epictetus dan Marcus Aurelius dipadatkan menjadi tips efisien untuk bertahan di dunia kerja. Filsafat, di tangan Henry diubah menjadi produk ringan yang mudah dikutip dan dijual.

Dus, buku ini meminjam baju Stoikisme tapi menyesuaikan potongan dan warnanya agar pas dengan tubuh masyarakat urban: Ia rasional, praktis, dan penuh tips.

Praktis dalam proses adaptasi itu, sebagian kedalaman filsafat klasiknya ikut menguap. Yang tersisa adalah Stoikisme populer yang ringan, komunikatif, tapi juga mudah disalahpahami. Dan di sanalah, menurut hemat saya, muncul lima muslihat logika yang membuat Filosofi Teras sekaligus menenangkan dan berpotensi menyesatkan. Berikut ini pemaparannya.

Muslihat 1: Kendalikan Apa yang Bisa Kamu Kendalikan

Kalimat ini terdengar sederhana dan masuk akal, tetapi hidup tidak sesederhana dikotomi kendali. Bahkan pikiran sendiri sering menolak untuk dikendalikan.

Dalam versi populer Filosofi Teras, prinsip ini mudah bergeser menjadi moral baru: jika kamu marah, salahmu sendiri; jika kamu sedih, kamu belum cukup Stoik. Ketidakstabilan emosional diperlakukan sebagai cacat pribadi, bukan bagian alami dari menjadi manusia.

Baca Juga  Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Padahal jika kita menelisik dari akarnya, Stoikisme klasik tidak menolak emosi. Epictetus dalam Enchiridion menulis bahwa manusia tidak harus bebas dari emosi, tetapi memahami sumbernya agar tidak diperbudak olehnya.

Sebab emosi adalah bagian dari nalar, bukan lawannya. Dan ketika ajaran ini disederhanakan menjadi slogan “fokus pada kendalimu sendiri,” empati kehilangan tempat. Penderitaan orang lain dianggap gangguan, bukan panggilan moral.

Muslihat 2: Tampil Tenang di Tengah Kekacauan

Ketenangan batin dijadikan tanda kedewasaan baru. Dalam konteks pasar tenaga kerja dan kehidupan urban yang penuh tekanan, ajaran “jangan reaktif terhadap hal luar” diserap menjadi moral korporat.

Istilah kata, jangan banyak protes, cukuplah saja menjadi adaptif. Ketenangan berubah menjadi kewajiban, bukan kesadaran.

Di ruang kerja dimana hustle culture dinormalisasi, ajaran Stoik versi Henry ini menjelma menjadi etika produktivitas budak korporat: sabar saat lembur, tenang saat upah tak naik, dan jangan banyak bicara.

Filsafat yang dahulu mengajarkan keberanian melawan kekuasaan kini dialihfungsikan untuk menenangkan mereka yang tunduk di bawahnya. Bagi Filosofi Teras, ketenangan dipoles menjadi kebajikan, padahal di baliknya yang ada hanya kepatuhan.

Muslihat 3: Berpikir Positif

Di zaman ketika berpikir positif menjadi dogma, Filosofi Teras hadir sebagai justifikasinya. Kalimat “jangan biarkan hal luar mempengaruhimu” terdengar menenangkan, tetapi jika diterima secara mutlak, ia secara laten hendak menghapus hak kita untuk marah atas kondisi. Padahal kemarahan adalah bentuk kesadaran moral terhadap ketimpangan.

Sejatinya, stoikisme klasik berbicara tentang keseimbangan antara nalar dan afeksi, tetapi versi populer dalam buku ini justru menolak kemanusiaan: rasa sakit, kecewa, duka, dan takut.

Hasilnya kita tahu bersama: generasi hari ini sedang bergerak jadi generasi yang pandai menenangkan diri dalam keadaan tak adil. Mereka tahu cara bernapas dengan teratur, tetapi tidak tahu cara menolak.

Muslihat 4: Kebahagiaan Pribadi

Dalam logika Filosofi Teras, kebahagiaan katanya cukup dicapai dengan mengubah pikiran. Dunia akan terasa baik jika batinmu tenang.

Well, pandangan ini memang menyenangkan, tetapi berbahaya jika diperlakukan sebagai kebenaran universal. Sebab tidak semua penderitaan berasal dari persepsi. Ada ketimpangan sosial dan struktural dalam sistem yang menindas.

Stoikisme klasik dalam hal ini justru menempatkan moralitas sebagai pusat kehidupan, bukan kenyamanan pribadi. Ketika ajarannya diubah menjadi “berdamai dengan keadaan,” kebajikan kehilangan makna etisnya.

Yang tersisa hanyalah kepasrahan yang rapi jali atas nama batin individu yang wajib ditenangkan.

Muslihat 5: Filsafat yang Bisa Dijual

Harus saya akui bahwa bagian muslihat terakhir ini terinspirasi dari ribut-ribut sosial media soal ide agar dibubarkannya jurusan Ilmu Filsafat di perkuliahan. Dipicu oleh dialog Ferry Irwandi, Martin Suryajaya dan Dea Anugerah di akun YouTube Malaka. Dalam siniar tersebut, diungkapkan bagaimana ilmu filsafat tidak aplikatif (praktis) dan tidak relevan dengan kebutuhan industri modern. Ferry sendiri berpendapat bahwa filsafat terlalu elitis dan tidak menghasilkan dampak langsung pada masyarakat, dan ia menyarankan agar filsafat cukup diajarkan sebagai mata kuliah di setiap jurusan.

Baca Juga  The Pianist dan Pertaruhan Ruang Intim di Denpasar

Telah banyak tanggapan atas ribut-ribut ini baik yang pro dan kontra. Dalam naskah opini ini, saya merasa tidak perlu menambahkan pandangan lagi, cukup menjadikannya sebagai konteks saja. Sebab dalam beberapa hal, Ferry dengan Henry punya pandangan yang sebelas duabelas tentang bagaimana filsafat harus punya dampak praktis agar bisa menjangkau sebanyak mungkin orang dengan cara semudah mungkin dengan kemasan semenarik mungkin.

Dalam rangka inilah, Henry Manampiring tidak menjual filsafat, ia menjual kemasannya. Ia menulis dengan gaya yang ringan, mudah diikuti, dan akrab dengan bahasa pasar. Ia tahu bagaimana menjadikan Stoikisme sebagai produk gaya hidup: sederhana, bersih, menenangkan.

Kekuatan komunikasi ini membuat Filosofi Teras menembus khalayak luas, tetapi dengan konsekuensi besar. Sebab ketika kebijaksanaan dijual sebagai hiburan, kedalaman berubah menjadi permukaan. Filsafat kehilangan fungsi menggugatnya. Ia tidak lagi mengguncang kesadaran, hanya menenangkan kegelisahan.

Bahaya Laten Filosofi Teras

Sebagai penutip, Filosofi Teras memang bukan buku jahat yang perlu dilarang atau bagaimana. Naskah ini hanya sekadar tawaran pandangan alternatif dari segala puja-puji yang memang patut ditujukan kepada buku ini.

Dalam pandangan saya, Filosofi Teras tentu bermanfaat bagi mereka yang tersesat dalam kebisingan hidup. Namun manfaat ini datang bersama bayangan panjang karena menanam etos ketenangan yang menggantikan etos keberanian. Ia menumbuhkan keyakinan bahwa bijaksana berarti tidak perlu bereaksi. Dalam tangan generasi muda, Stoikisme berubah menjadi apatisme yang tampak bijak dan safe.

Dan ketika etos itu menyebar ke ruang politik, hasilnya terlihat jelas: bonus demografi yang diharapkan membawa pembaruan, malah berubah menjadi massa yang patuh. Anak muda memilih Gibran karena ia terlihat tenang dan sopan, bukan karena memahami proses kotor dibaliknya. Masa lalu dianggap gangguan emosional yang sebaiknya disembuhkan, bukan diingat.

Foto: Dok. Penerbit Buku Kompas

Dalam konteks Indonesia, popularitas buku Filosofi Teras sejatinya hendak menjelaskan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tren literasi. Buku ini telah menjadi acuan mental bagi generasi muda urban yang kini menjadi bonus demografi dan pemilih utama. Mereka tumbuh dengan pesan “kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan,” kalimat yang terdengar bijak tetapi diam-diam menggeser makna perjuangan menjadi penerimaan.

Bagi Filosofi Teras, ketenangan diposisikan sebagai moralitas baru, sementara kritik terhadap struktur sosial perlahan dianggap sebagai gangguan batin. Di tengah arus besar itu, buku ini tanpa sadar menyiapkan mental kolektif yang ideal bagi rezim yang menghendaki rakyat yang sabar, bukan sadar.

Di ujung kesempatan ini saya bertanya pada diri sendiri: Inikah buku yang, tanpa disadari, ikut membentuk satu generasi yang memilih mantan pelanggar HAM sebagai kepala negara dan Gibran sebagai simbol suara muda mereka?

Kesimpulan sementara saya, tafsir ringan Henry Manampiring atas Stoikisme ternyata sejalan dengan arah zaman di era Neo-Orba kita hari ini: bahwa masa lalu yang tak mengenakkan bisa dihapus dan direvisi, bahwa berdamai dengan orang yang dulu menyakiti kita dianggap tanda kedewasaan, bahkan, dalam absurditas yang lebih jauh, dianggap pahlawan.


Klab Baca Kerumitan Sastra

Dapatkan kolom mingguan Kerumitan Sastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Sastra di Inggris dalam Ancaman AI: Yang Bisa Kita Pelajari di Indonesia

Preman Laut

Lihai Gunakan Kata Bersayap, Profesi Sastrawan Terancam Digantikan Anggota DPR

Preman Laut

Tan Lioe Ie Terbitkan Dua Buku Baru di Bawah Ladang Publishing: ‘Tubuh yang Tak Patuh Seluruh’ dan ‘Sekolah Tikus’

Preman Laut

Novel ‘Menuai Badai’ Karya Juli Sastrawan Resmi Terbit

Preman Laut

Sabtu Besok, HIMA Sastra Indonesia UNUD Bahas Buku Puisi ‘Jamuan Malam’ di Denpasar

Preman Laut

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham Bakal Dibedah Di Denpasar, Habis-Habisan!

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi