Kalau luar negeri punya Rick Rubin dan Nigel Godrich sebagai sosok penting di balik karya-karya apik RHCP, Pearl Jam, Radiohead, hingga Adele, kita punya figur serupa di skena sastra Indonesia kiwari.
Adalah Indrian Koto, pria kelahiran Sumatra Barat 43 tahun lalu, yang sejak 2004 memulai toko buku sekaligus penerbitan indie dari bilik kamar kos. Menempuh studi Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, Koto lekat dengan rentetan sastrawan yang aktif bergerak dan menulis pada awal 2000-an, periode ketika sastra Indonesia bukan hanya sibuk mencari panggung, tetapi juga mencari teman seperjalanan. Dari sanalah JBS tumbuh: mula-mula sebagai lapak sunyi, lalu menjelma ruang kuratorial yang keras kepala menjaga mutu.
Seperti laiknya penerbit indie yang lain, proses kreatif di Penerbit JBS memang intens. Namun intensitas di sini bukan soal kejar tayang atau menumpuk judul, melainkan kerja membaca yang pelan, percakapan yang berulang, dan keberanian menunda terbit demi memastikan naskah benar-benar matang.
Di titik ini, peran penerbit tidak hadir sebagai editor pembawa formula, apalagi pengejar target. Ia datang sebagai pembaca pertama yang serius. Naskah dibaca sejak dini, dibicarakan bolak-balik, diuji nada dan napasnya, lalu dibiarkan tumbuh mengikuti ritme penulisnya sendiri. Yang dijaga bukan hanya isi, tetapi sikap estetik tiap-tiap karya.
Saya berkesempatan bertemu Indrian Koto pada September tahun lalu, saat menemani Pranita Dewi ke rumah panggung yang juga berfungsi sebagai toko buku dan ruang temu para sastrawan di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pertemuan itu memberi gambaran langsung tentang bagaimana relasi antara penerbit dan penulis di JBS dibangun bukan lewat kontrak kaku atau target produksi, melainkan melalui kehadiran, percakapan, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan.
Dari situ terasa bahwa keterlibatan JBS dengan para penulisnya lebih menyerupai pengawalan proses kreatif ketimbang manajemen agency. Ada kepekaan untuk tahu kapan harus masuk dengan catatan, dan kapan harus menyingkir agar suara penulis tetap utuh.
Indrian Koto tidak memosisikan diri sebagai “penentu arah”, melainkan pendengar yang telaten. Ia mengawal naskah, berdiskusi dengan penulis, memberi tanggapan tanpa menguasai suara. Ia tahu kapan harus menyarankan, dan kapan harus mundur. Di dunia sastra yang kerap tergoda kuantitas dan kecepatan, Koto memilih kerja lambat dengan menyaring, merawat, dan membiarkan karya menemukan bentuk paling jujurnya.
Wajar bila kemudian Penerbit JBS bertanggung jawab atas terbitnya sejumlah buku sastra penting dalam beberapa tahun terakhir. Deretan buku JBS sepanjang 2025 memperlihatkan skala kerja yang mencolok untuk ukuran penerbit indie: 3 buku novel, 9 buku kumpulan puisi, dan 4 buku nonfiksi. Sebagian di antaranya mendominasi penghargaan di berbagai ajang, mulai dari Badan Bahasa, Buku Pilihan Majalah Tempo, hingga Kusala Sastra. Sebut saja Tilas Genosida karya A. Muttaqin, Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi, hingga Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.
Di titik ini, mencatat Penerbit JBS dan Indrian Koto sebagai agen penting di kesusastraan Indonesia kiwari bukan sekadar gestur apresiatif. Ini adalah pengakuan atas kerja sunyi yang kerap luput dari sorotan: kerja yang tidak memburu panggung, tetapi memastikan sastra kontemporer tetap bernapas dan menentukan sendiri arahnya.
