Denpasastra.net

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Denpasastra awalnya digagas sebagai blog personal, tetapi pelan-pelan ia berubah menjadi titik temu saya dan beberapa teman-teman penulis.

Dari obrolan di pinggir pantai sampai diskusi buku di warung kopi remang-remang yang dihuni banyak teman-teman wartawan di Denpasar, ruang ini tumbuh menjadi tempat berbagi naskah, ide, dan kegelisahan. Format blog personal pun terasa mulai sempit; Denpasastra kini bergerak sebagai alat kolektif untuk berpikir dan berkarya.

Dalam rangka itu, saya mengajukan gagasan psychological safety dalam menulis, dimana Denpasastra kelak harus jadi ruang berkarya yang mampu menjamin keamanan dan kenyamanan psikologis dalam menulis, yang tidak perlu tunduk pada nama besar penyair A atau seniman B, tidak juga melanggengkan feodalisme kancah yang sejujurnya masih langgeng terjadi dimana-mana.

Inginnya sih yang ingin kami urus di sini cuma perkara karya: kalau butut, bilang butut; kalau bagus, ya akui bagus. Tak perlu terlau peduli pada embel-embel siapa orang besar di baliknya. Seiring waktu, struktur keredaksian pun mulai terbentuk, meski tetap longgar dan terasa lebih seperti sarasehan daripada meja redaksi formal.

Untuk menandai langkah baru ini, kami meluncurkan kolom mingguan bertajuk Kerumitan Sastra karya Ervin Ruhlelana yang akan terbit setiap Minggu pagi selama 12 pekan ke depan.

Seri pertamanya sangat menarik, Ervin sedianya bakal mengajak kita melihat cara baru memahami puisi dan karya sastra. Bukan teori yang berat, melainkan cerita tentang bagaimana puisi bisa dibongkar, dicoba-coba, dimainkan, dan dipahami dari sisi yang tidak biasa, tapi lebih seperti eksperimen imajinasi ketimbang pelajaran kuliah. Cocok untuk kamu yang mahasiswa, yang suka baca, yang ingin ikutan belajar menulis.

Di seri perdana ini, Ervin bakal berkolaborasi dengan Iqbal a.k.a. Pellipeace, seorang respectful graphic/ visual artist asal Karawang yang kini berbasis di Bali. Terinspirasi estetika underground dan ilustrasi tinta, Iqbal bakal menghadirkan visual yang khas untuk menemani naskah. Ervin menulis dengan kata, Iqbal menulis dengan garis. Denpasastra menjadi ruang di mana keduanya saling bertemu.

Baca Juga  Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Untuk mengikuti seri ini tanpa ketinggalan, sila subscribe fitur baru di blog kami: Klab Baca Kerumitan Sastra, sepuluh edisi kolom akan dikirim langsung ke inbox kamu.

Pendaftarannya gratis. 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Preman Laut

Sayembara Cerpen Denpasar 2025 Resmi Dibuka, Batas Akhir 31 Oktober

Redaksi

Pasif Agresif Dee Lestari di Single Baru

Preman Laut

Godaan Berahi dari Seorang Peri Inspirasi

Ervin Ruhlelana

Perayaan Kecil Setengah Tahun Denpasastra

Preman Laut

Sastra dan Ilusi Kreativitas Individual

Preman Laut
Tajuk Rencana

Ada yang Baru di Denpasastra: Kolom Mingguan ‘Kerumitan Sastra’

Denpasastra awalnya digagas sebagai blog personal, tetapi pelan-pelan ia berubah menjadi titik temu saya dan beberapa teman-teman penulis.

Dari obrolan di pinggir pantai sampai diskusi buku di warung kopi remang-remang yang dihuni banyak teman-teman wartawan di Denpasar, ruang ini tumbuh menjadi tempat berbagi naskah, ide, dan kegelisahan. Format blog personal pun terasa mulai sempit; Denpasastra kini bergerak sebagai alat kolektif untuk berpikir dan berkarya.

Dalam rangka itu, saya mengajukan gagasan psychological safety dalam menulis, dimana Denpasastra kelak harus jadi ruang berkarya yang mampu menjamin keamanan dan kenyamanan psikologis dalam menulis, yang tidak perlu tunduk pada nama besar penyair A atau seniman B, tidak juga melanggengkan feodalisme kancah yang sejujurnya masih langgeng terjadi dimana-mana.

Inginnya sih yang ingin kami urus di sini cuma perkara karya: kalau butut, bilang butut; kalau bagus, ya akui bagus. Tak perlu terlau peduli pada embel-embel siapa orang besar di baliknya. Seiring waktu, struktur keredaksian pun mulai terbentuk, meski tetap longgar dan terasa lebih seperti sarasehan daripada meja redaksi formal.

Untuk menandai langkah baru ini, kami meluncurkan kolom mingguan bertajuk Kerumitan Sastra karya Ervin Ruhlelana yang akan terbit setiap Minggu pagi selama 12 pekan ke depan.

Seri pertamanya sangat menarik, Ervin sedianya bakal mengajak kita melihat cara baru memahami puisi dan karya sastra. Bukan teori yang berat, melainkan cerita tentang bagaimana puisi bisa dibongkar, dicoba-coba, dimainkan, dan dipahami dari sisi yang tidak biasa, tapi lebih seperti eksperimen imajinasi ketimbang pelajaran kuliah. Cocok untuk kamu yang mahasiswa, yang suka baca, yang ingin ikutan belajar menulis.

Di seri perdana ini, Ervin bakal berkolaborasi dengan Iqbal a.k.a. Pellipeace, seorang respectful graphic/ visual artist asal Karawang yang kini berbasis di Bali. Terinspirasi estetika underground dan ilustrasi tinta, Iqbal bakal menghadirkan visual yang khas untuk menemani naskah. Ervin menulis dengan kata, Iqbal menulis dengan garis. Denpasastra menjadi ruang di mana keduanya saling bertemu.

Baca Juga  Indrian Koto, Rick Rubin-nya Sastra Indonesia Kiwari

Untuk mengikuti seri ini tanpa ketinggalan, sila subscribe fitur baru di blog kami: Klab Baca Kerumitan Sastra, sepuluh edisi kolom akan dikirim langsung ke inbox kamu.

Pendaftarannya gratis. 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 Umumkan Daftar Pendek

Redaksi

Sastra dan Ilusi Kreativitas Individual

Preman Laut

Fanfic Dalam Esensi Borgesian

Ervin Ruhlelana

Negara Bisa Lupa, Tapi Sastra Tidak: Menyikapi Penyangkalan Fadli Zon atas Tragedi 1998

Preman Laut

Album Musikalisasi Puisi “Jalan Suara” Diluncurkan, Royalti Masih Jadi Catatan

Redaksi

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham Bakal Dibedah Di Denpasar, Habis-Habisan!

Redaksi
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi