Band ini pernah ditimpuk lumpur penonton satu stadion. Bukan karena jelek, tapi karena musik mereka datang ‘terlalu cepat’ pada zamannya.
Stadion Lebakbulus tahun 2003. Tahun ketika panggung PL Fair digelar di luar sekolah. Saya hadir di situ sekedar menemani pacar masa SMA menonton pensi paling bergengsi di Jakarta.
Menjelang magrib, penonton mulai membludak. Tanpa babibu, band pendatang baru naik panggung. Mereka langsung memainkan nomor-nomor cepat dan berisik dengan attitude urakan. Kugiran itu bernama The Brandals.
Album debut mereka baru dirilis tahun itu. Wajar jika satu stadion masih asing dengan band ini. Di repertoarnya juga tidak ada nomor cover song atau lagu lama populer yang daur ulang. Mereka totalitas memainkan materi original dari album.
Secara tematik lagu, tidak ada ideologi besar atau urgensi politik. Mereka juga tidak sedang melawan sistem karena Orde Baru sudah tumbang satu angkatan sebelumnya. Yang terbaca justru perlawanan terhadap selera massa dan standar industri musik.
Wajar bila tak butuh waktu lama sampai situasi Stadion Lebakbulus berubah. Penonton gelisah. Teriakan “turun.. turun” pecah. Kata-kata kasar dilempar ke panggung, lumpur menyusul. Satu stadion seperti kompak menolak.
Yang saya ingat situasi chaos. Semua tegang, tapi The Brandals tetap bermain tanpa tedeng aling. Ketika yang lain melihat ini sebagai kegagalan, saya melihatnya sebagai eureka di tengah kekosongan band rock saat itu.
Simak saja ‘100 Km/Jam’. Lagu ini terdengar sederhana, cepat, pendek. Tapi kesan itu menipu. Sebab kord dan permainannya kompleks, dengan kecepatan sebagai struktur. Semua elemen bergerak tanpa ruang bernapas. Pendengar tidak diberi waktu mencerna, hanya ikut atau tertinggal.
Di satu bagian lirik mereka menyebut “dunia baru sudah menunggu”. Seolah The Brandals sadar datang terlalu cepat, tapi tidak melambat.
Di sini letak masalahnya. Musik mereka tidak bekerja secara linear, sementara cara dengar publik masih menuntut pola yg bisa diikuti. Ketika struktur tak terbaca, yang muncul bukan apresiasi, tapi penolakan.
Lumpur yang dilempar di Lebakbulus bukan reaksi terhadap kualitas. Itu reaksi terhadap kecepatan yang belum sempat dipahami.
