Denpasastra.net

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Kenangan Terindah’ terlalu sering dibaca sebagai lagu tentang mantan.

Hit single karya original band asal Jakarta, Samsons ini kerap ditempatkan dalam kategori lagu patah hati, masuk playlist cinta masa lalu, dinyanyikan di tongkrongan dan pengamen jalanan yang menjual sedihnya ditinggal seseorang akibat runtuhnya sebuah hubungan.

Padahal jika liriknya diperhatikan, yang runtuh di lagu ini bukan sekadar hubungan, tapi sesuatu yang lebih dalam. Bukan soal siapa yang pergi, tapi apa yang ikut hilang bersamanya: diri kita sendiri.

Saya baru menyadari ini ketika belakangan ramai di sosial media tentang konsep anima dan animus yang digagas Carl Jung. Dalam diskusi netizen, terkuak bahwa konsep rumit psikoanalisis itu sederhananya berbunyi demikian: dalam hubungan kita tidak selalu mencintai orangnya apa adanya. Kita menaruh sebagian diri kita ke orang itu.

Kita berharap dia melengkapi, memberi makna, bahkan menjadi pusat hidup. Di titik ini, hubungan bukan lagi soal kebersamaan, tapi tempat kita menitipkan diri.

Sejak awal, lagu ini sudah menegaskan posisi itu lewat pengakuan: ‘Aku yang lemah tanpamu / Aku yang rentan karena cinta yang t’lah hilang darimu’.

Dalam hemat saya, lirik ini bukan sekadar romantisasi, ia adalah pernyataan posisi bahwa pusat diri sudah bergeser ke luar. Relasi pun berubah dimana ‘kamu’ bukan sekadar pasangan, tapi sebagai sumber makna.

Kesimpulan lalu pecah di bagian reff ‘kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku’. Dalam artian yang kini tersisa bukan hanya tentang ‘kamu’, tapi bagian dari ‘aku’ yang tertinggal.

Wajar bila lagu ini kemudian diterima luas dan terus diputar sampai sekarang. Samsons tanpa harus berjibaku dengan teori kejiwaan apa pun, secara cerdik memanfaatkan kekosongan psikologis dan penyangkalan diri kita sendiri atasnya.

Baca Juga  SID Balik Lagi ke Dapur Rekaman! Album Baru Setelah Lama 'Bertapa'?

Kita pun secara sukarela terus memutar ulang lagunya, karena diam-diam kita masih mencari bagian dari diri kita yang tertinggal di dalamnya.

Pada akhirnya, ‘Kenangan Terindah’ bukan tentang seseorang yang pergi. Lagu ini tentang diri yang ikut hilang, yakni diri yang pernah kita titipkan pada orang lain dan belum sempat kita ambil kembali sampai sekarang.

 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Marco Rilis Lagu Daur Ulang ‘Ujan’

Redaksi

Pernyataan Thom Yorke Soal Gaza: Dari Cancel Culture Sampai Harapan Kemanusiaan

Preman Laut

Nelayan Pantai Sanur: Pengingat Karma yang Salah Alamat

Preman Laut

Berakar dan Menjalar di Konser Rimpang: Membaca Muslihat Estetika Baru ala Efek Rumah Kaca

Preman Laut

Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Preman Laut

Feel Alive Bangkok 2026: Uji Struktur Morbid Monke di Panggung Regional Asia Tenggara

Preman Laut
Resensi

Lebih dari Sekedar Lagu Cinta: Refleksi atas Kehilangan Diri Sendiri ala Samsons pada ‘Kenangan Terindah’

Kenangan Terindah’ terlalu sering dibaca sebagai lagu tentang mantan.

Hit single karya original band asal Jakarta, Samsons ini kerap ditempatkan dalam kategori lagu patah hati, masuk playlist cinta masa lalu, dinyanyikan di tongkrongan dan pengamen jalanan yang menjual sedihnya ditinggal seseorang akibat runtuhnya sebuah hubungan.

Padahal jika liriknya diperhatikan, yang runtuh di lagu ini bukan sekadar hubungan, tapi sesuatu yang lebih dalam. Bukan soal siapa yang pergi, tapi apa yang ikut hilang bersamanya: diri kita sendiri.

Saya baru menyadari ini ketika belakangan ramai di sosial media tentang konsep anima dan animus yang digagas Carl Jung. Dalam diskusi netizen, terkuak bahwa konsep rumit psikoanalisis itu sederhananya berbunyi demikian: dalam hubungan kita tidak selalu mencintai orangnya apa adanya. Kita menaruh sebagian diri kita ke orang itu.

Kita berharap dia melengkapi, memberi makna, bahkan menjadi pusat hidup. Di titik ini, hubungan bukan lagi soal kebersamaan, tapi tempat kita menitipkan diri.

Sejak awal, lagu ini sudah menegaskan posisi itu lewat pengakuan: ‘Aku yang lemah tanpamu / Aku yang rentan karena cinta yang t’lah hilang darimu’.

Dalam hemat saya, lirik ini bukan sekadar romantisasi, ia adalah pernyataan posisi bahwa pusat diri sudah bergeser ke luar. Relasi pun berubah dimana ‘kamu’ bukan sekadar pasangan, tapi sebagai sumber makna.

Kesimpulan lalu pecah di bagian reff ‘kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku’. Dalam artian yang kini tersisa bukan hanya tentang ‘kamu’, tapi bagian dari ‘aku’ yang tertinggal.

Wajar bila lagu ini kemudian diterima luas dan terus diputar sampai sekarang. Samsons tanpa harus berjibaku dengan teori kejiwaan apa pun, secara cerdik memanfaatkan kekosongan psikologis dan penyangkalan diri kita sendiri atasnya.

Baca Juga  Mendebat Kandungan Nutrisi 'Candu Baru'

Kita pun secara sukarela terus memutar ulang lagunya, karena diam-diam kita masih mencari bagian dari diri kita yang tertinggal di dalamnya.

Pada akhirnya, ‘Kenangan Terindah’ bukan tentang seseorang yang pergi. Lagu ini tentang diri yang ikut hilang, yakni diri yang pernah kita titipkan pada orang lain dan belum sempat kita ambil kembali sampai sekarang.

 

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Mendaras Ulang ‘Hail to The Thief’ – Radiohead di 2025: Panggilan Terbuka Untuk Para Maling

Preman Laut

Catur Hari Wijaya Gelar Konser Rilisan Album Kedua Berjudul Kosmos

Redaksi

Kisah Lagu Pak Tua oleh Elpamas Masih Relevan Sampai Sekarang

Preman Laut

Anti Romantisisme Pop Indonesia Dimulai dari Potret Lewat Lagu ‘Salah’

Preman Laut

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Padi Buktikan Lagu Pop Bisa Menjadi Karya Sastra lewat ‘Mahadewi’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi