Denpasastra.net

Dari Chaos Menuju Disiplin: Punk Era Baru di Lagu ‘Berlari’ Milik Scared Of Bums

Dalam beberapa tahun terakhir, budaya lari berkembang menjadi salah satu fenomena paling menonjol di kalangan anak muda Indonesia. Running club bermunculan di berbagai kota, sementara catatan pace dan kilometer memenuhi media sosial.

Kegiatan berlari tidak lagi dipahami sebagai olahraga semata, melainkan bagian dari cara hidup yang menempatkan disiplin, kesehatan, dan kebiasaan sebagai nilai yang layak dirayakan.

Scared Of Bums menangkap perubahan itu lewat Berlari, single yang membuka jalan menuju album penuh ketiga mereka. Alih-alih menjadikan lari sebagai tema literal, unit melodic punk asal Bali ini menggunakannya sebagai metafora tentang keberanian meninggalkan kebiasaan lama dan terus bergerak melewati fase-fase yang melelahkan.

Pilihan tema tersebut terasa menarik karena berangkat dari tradisi musik yang selama ini identik dengan chaos. Sejak lahir, punk kerap dipahami sebagai ekspresi kemarahan terhadap sistem dan berbagai bentuk otoritas.

Di tangan Scared Of Bums, semangat perlawanan itu tidak hilang. Arahnya saja yang bergeser. Musuh yang dihadapi bukan lagi sekadar dunia di luar, melainkan kebiasaan yang menghambat seseorang untuk berkembang.

Perubahan itu terlihat pada lirik-lirik seperti ‘Terbesit niat tuk sehatkan diri’, ‘Lepaskan gelap yang dulu membelenggu’, hingga pengulangan ‘I just wanna wake up sober‘. Semuanya membangun cerita tentang proses memulihkan diri. Chorus yang diisi seruan ‘Run it out’ dan ‘Takkan henti melangkah’ kemudian mengubah pengalaman personal tersebut menjadi ajakan kolektif yang mudah diteriakkan di panggung.

Menariknya, Scared Of Bums tidak melunakkan musik mereka demi menyesuaikan tema. Distorsi tetap agresif, ritme tetap menghentak, dan karakter melodic punk yang telah mereka bangun sejak album Scared Of Bums (2007), Let’s Turn On A Fire (2013), hingga Delay (2022) masih terasa utuh. Pergeseran terbesar justru terjadi pada cara mereka mendefinisikan keberanian.

Baca Juga  Rekomendasi Tiga Rilisan Musik Pekan Ini: Feral Stripes, Microbot dan Catur Hari Wijaya

Dalam konteks itu, Berlari memperlihatkan bahwa disiplin tidak harus dibaca sebagai kebalikan dari punk. Justru menjaga tubuh, keluar dari kebiasaan yang merusak, dan memilih tetap bergerak ketika hidup terasa berat dapat menjadi bentuk perlawanan yang sama radikalnya. Di tengah generasi yang semakin akrab dengan isu kesehatan mental dan pencarian hidup yang lebih seimbang, pembacaan seperti ini terasa relevan.

Pendekatan tersebut juga selaras dengan proses kreatif Scared Of Bums yang tetap mengutamakan penyusunan musik sebelum lirik, dengan workshop awal yang melibatkan Utha Kusumawidhiana sebagai music director. Mereka tidak sedang mengganti identitas, melainkan memperluas ruang baca musik mereka.

Berlari pada akhirnya bukan lagu tentang olahraga. Lagu ini berbicara tentang daya tahan. Tentang keputusan untuk terus melangkah meski napas mulai berat. Dari sana, Scared Of Bums menawarkan kemungkinan baru bagi punk Indonesia: bahwa chaos mungkin menjadi titik berangkat, tetapi disiplin dapat menjadi bentuk pemberontakan yang sama kerasnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Lagu Lama ‘Surti-Tejo’ karya Jamrud Mau Di-Cancel Karena Liriknya Dianggap Vulgar

Redaksi

Mendengarkan Album ‘Painting of Life’ – UTBBYS dalam Jebakan AI Hari Ini

Preman Laut

Space Safari Digelar di Hatch Uluwatu, Tampilkan Rosesinsummer dan Andin Katik

Redaksi

Nugie Pernah ‘Tertipu’ Orba di Lagu Ini

Preman Laut

Membaca Estetika Kekalahan dalam Lagu-Lagu Sheila On 7

Preman Laut

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Digelar di Bali

Redaksi
Resensi

Dari Chaos Menuju Disiplin: Punk Era Baru di Lagu ‘Berlari’ Milik Scared Of Bums

Dalam beberapa tahun terakhir, budaya lari berkembang menjadi salah satu fenomena paling menonjol di kalangan anak muda Indonesia. Running club bermunculan di berbagai kota, sementara catatan pace dan kilometer memenuhi media sosial.

Kegiatan berlari tidak lagi dipahami sebagai olahraga semata, melainkan bagian dari cara hidup yang menempatkan disiplin, kesehatan, dan kebiasaan sebagai nilai yang layak dirayakan.

Scared Of Bums menangkap perubahan itu lewat Berlari, single yang membuka jalan menuju album penuh ketiga mereka. Alih-alih menjadikan lari sebagai tema literal, unit melodic punk asal Bali ini menggunakannya sebagai metafora tentang keberanian meninggalkan kebiasaan lama dan terus bergerak melewati fase-fase yang melelahkan.

Pilihan tema tersebut terasa menarik karena berangkat dari tradisi musik yang selama ini identik dengan chaos. Sejak lahir, punk kerap dipahami sebagai ekspresi kemarahan terhadap sistem dan berbagai bentuk otoritas.

Di tangan Scared Of Bums, semangat perlawanan itu tidak hilang. Arahnya saja yang bergeser. Musuh yang dihadapi bukan lagi sekadar dunia di luar, melainkan kebiasaan yang menghambat seseorang untuk berkembang.

Perubahan itu terlihat pada lirik-lirik seperti ‘Terbesit niat tuk sehatkan diri’, ‘Lepaskan gelap yang dulu membelenggu’, hingga pengulangan ‘I just wanna wake up sober‘. Semuanya membangun cerita tentang proses memulihkan diri. Chorus yang diisi seruan ‘Run it out’ dan ‘Takkan henti melangkah’ kemudian mengubah pengalaman personal tersebut menjadi ajakan kolektif yang mudah diteriakkan di panggung.

Menariknya, Scared Of Bums tidak melunakkan musik mereka demi menyesuaikan tema. Distorsi tetap agresif, ritme tetap menghentak, dan karakter melodic punk yang telah mereka bangun sejak album Scared Of Bums (2007), Let’s Turn On A Fire (2013), hingga Delay (2022) masih terasa utuh. Pergeseran terbesar justru terjadi pada cara mereka mendefinisikan keberanian.

Baca Juga  Made Mawut: Musisi di Bali 2025 Dalam Sorotan

Dalam konteks itu, Berlari memperlihatkan bahwa disiplin tidak harus dibaca sebagai kebalikan dari punk. Justru menjaga tubuh, keluar dari kebiasaan yang merusak, dan memilih tetap bergerak ketika hidup terasa berat dapat menjadi bentuk perlawanan yang sama radikalnya. Di tengah generasi yang semakin akrab dengan isu kesehatan mental dan pencarian hidup yang lebih seimbang, pembacaan seperti ini terasa relevan.

Pendekatan tersebut juga selaras dengan proses kreatif Scared Of Bums yang tetap mengutamakan penyusunan musik sebelum lirik, dengan workshop awal yang melibatkan Utha Kusumawidhiana sebagai music director. Mereka tidak sedang mengganti identitas, melainkan memperluas ruang baca musik mereka.

Berlari pada akhirnya bukan lagu tentang olahraga. Lagu ini berbicara tentang daya tahan. Tentang keputusan untuk terus melangkah meski napas mulai berat. Dari sana, Scared Of Bums menawarkan kemungkinan baru bagi punk Indonesia: bahwa chaos mungkin menjadi titik berangkat, tetapi disiplin dapat menjadi bentuk pemberontakan yang sama kerasnya.

Tanggapi Tulisan Ini

Yay
Meh
Terima kasih. Responmu menjadi bagian dari arsip bacaan ini.

Klab Baca Denpasastra

Dapatkan kolom mingguan Denpasastra langsung ke inbox kamu setiap Minggu pagi. Gratis, tanpa spam.

Baca Kebijakan Privasi untuk info perlindungan data lebih lanjut

Baca Juga

Salah Tembak ala Noize Gerd

Preman Laut

Tersesat di Bali Bersama Palm Theory

Preman Laut

Jika Superman Is Dead Menulis Lagu ‘Indonesian Idiot’

Preman Laut

Lagipula Hidup Akan Berakhir: Merayakan Kekalahan, Lalu Apa?

Preman Laut

Dodot Atmodjo: Dari Misteri Rekaman yang Hilang Sampai ke Rilisan Album White Piano

Preman Laut

Intim Domestik Bersama Tigra Rose dan Annabel Laura: Catatan atas Lagu ‘Duhai yang Kucinta’

Preman Laut
Beranda
Berita
Esai
Opini
Resensi